Title : The Spine breaker
Chapter : Chapter I Chapter II Chapter III Chapter IV Chapter V Chapter VI
Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Cast : Kang Seulgi Red VelvetChapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Min Suga BTS
Jung Jungkook BTS
V BTS
Kai EXO
Oh Sehun EXO
Length : Chapter
Note : Under Major Constructions
Saatnya Kang Seulgi memperlihatkan sisi Badass dan Smartass nya. Yeah!.
********************************************************************************
Kang Seulgi
Setelah kejadian malam itu, Suga tak mengatakan apa pun. Cukup dengan ucapan selamat pagi, dan Suga sudah tidak terlihat lagi. Itu sangat menyebalkan untuk Seulgi. Tapi dia tidak ingin mendorong lebih lagi karena dia tahu jika Suga sedang tertekan. Dan sekarang bukan itu masalahnya. Keselamatan Jungkook adalah agenda utama. Dia tidak boleh lengah.
Selama satu minggu ini Seulgi menjadi bodyguard Jungkook. Syukurlah selama ini tidak terjadi apa-apa. Menjaga nyawa seseorang tidaklah mudah. Dia tidak memiliki pengalaman sebagai bodyguard. Berkelahi tangan kosong atau dengan senjata dia adalah ahlinya, tapi dia masih ragu. Bagaimana jika gagal?. Tapi bukankah dia anak dari mafia, pemilik bisnis gelap?. Ahh...itu menaikkan rasa percaya dirinya.
Pagi-pagi sekali Seulgi menjelajahi isi rumah. Mulai dari balkon miliknya, ruang keluarga di lantai dua, kamar mandi dan dapur serta ruang tamu. Rumah ini terlalu besar hanya untuk dua orang. Dia juga heran kenapa Suga hanya mempekerjakan dirinya.
Setelah itu dia menyisir luar tembok rumah. Menghitung kemungkinan penyusup memasuki rumah. Merasa puas Seulgi kembali ke dalam rumah. Dia harus membicarakan ini dengan Suga.
"Sepertinya itu anak masih tidur" karena dia tidak melihat seorang pun yang berkeliaran. Ia memutuskan untuk ke kamarnya.
Gugup yang ia rasakan saat berdiri di depan pintu kamar Suga. Lalu bagaimana jika di dalam?. Mungkin jantungnya akan lompat dari dadanya. Wow.
Tok..tok..
Pintu tetap tidak terbuka.
Tok..tok...
Masih juga Suga tidak membuka pintu. Seulgi mulai gelisah. Dia mondar-mandir di depan pintu seperti gosokan.
Jangan, jangan? jangan, jangan...
Jika dia membuka pintu, pastinya tidak sopan. Tapi ini darurat. Seulgi mengusap dadanya berkali-kali untuk menenangkan jantungnya. Masa bodoh jika ini melanggar norma etika, Seulgi merangsek masuk.
"Yoongi ssi..." pelan-pelan ia mendekati tempat tidur. "Yoongi ssi...ada yang harus aku bicarakan" Seulgi sudah berdiri di samping Suga yang masih tidur pulas. "Huh...hanya karena ini hari Sabtu, tidurnya sampai ngiler...hihihi" Seulgi tertawa kecil memandangi Suga yang sedang tidur.
Hey...wajahnya sangat lucu. Membuatnya ingin menyingkirkan rambut yang menutupi mata dan dahinya.
Seulgi mengulurkan tangannya perlahan, namun sebuah tangan yang tentu saja bukan miliknya, menarik lengannya hingga tubuhnya jatuh tengkurap di atas tubuh Suga.
Seulgi tersentak kaget, dia pikir seseorang akan membunuhnya.
"Arrrgghhh...lepaskan!! lepaskan aku" Tapi ternyata itu hanyalah lengan Suga yang memeluk pinggangnya. Kemudian Suga membalik badan Seulgi berbaring disisinya.
"Sssttt....mulut kecil mu itu berisik" Jari telunjuk Suga di bibir Seulgi.
Kehilangan kata-kata, Seulgi hanya mengangguk pelan.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" kata Seulgi sambil berbisik, tidak tahu kenapa dia harus bicara sepelan itu, padahal tidak ada orang selain mereka berdua. Tidak ada respon, Seulgi menyenggol lengan Suga yang sudah kembali menutup matanya. Dasar kebo!!, makinya dalam hati.
"Suga ssi!!!" kali ini dia sedikit menaikkan suaranya.
"Hemm..." sebal tidak diperhatikan, Seulgi beralih posisi di atas Suga yang kembali mendengkur. Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Suga.
"Yoongi ssi..kita perlu bicara!!!" teriaknya.
"Oh...oh..." Suga gelagapan. Dia tidak tahu jika Seulgi diatasnya, yang langsung ia lempar dan Seulgi mendarat di lantai.
"Aww....". Begitu mendengar itu siapa, Suga malah tertawa melihat ekspresi Seulgi.
"Shooo....diam kau" Seulgi menggerutu kesal. "Pssttt...muahahahaa" walaupun mulutnya sudah ditutup tapi tawa Suga tetap menggelegar.
"Kau tahu, aku kesini ingin membicarakan sesuatu. Bukan menjadi badut".
"Ok....Aku mendengarkan sekarang, kau mau bicara apa?" Suga butuh kontrol diri yang banyak untuk menahan tawanya. Seulgi memandang gondok dengan makhluk di depannya.
"Kita harus memasang Home Security System untuk keamanan rumah ini. Siapa tahu musuh yang tak mau kau sebut namanya di depanku menyelinap dan memasang bom. Kita harus pergi sekarang" Seulgi menarik tangan Suga dengan paksa.
"Hey...kau mau aku pergi dengan hanya begini?". Seulgi memandang Suga dari atas kebawah. Dan malu mulai menamparnya keras. Dia baru sadar jika Suga hanya mengenakan Boxer. Bagus untuk mempermalukan diri sendiri, Kang Seulgi ya, pikirnya. Dia segera berlari keluar dan berteriak dari luar "Aku tunggu kau di luar!!".
"Hahahahha...." terdengar tawa Suga dari balik pintu.
Kang Seulgi
***********************************************************************
Ini saatnya memberitahu ayahnya tentang keberadaannya dan kabarnya. Selama ini ia singkirkan perasaan bersalah. Dia tidak mau jika absennya menjadi sebab ayahnya memburuk.
Mungkin lebih baik jika mengajak serta Jungkook.
Tapi tidak dengan Suga. Dia adalah orang sulit. Apalagi jika tahu backgroundnya.
Yah...walaupun hubungannya dengan Suga tidak kemana-mana alias statis, tapi dia tida mau jika Suga melarikan diri dari kenyataan siapa dirinya. Yakinlah Suga bukan pecundang.
Dan yang paling penting apakah Suga penduli?.
Ha!!! Dia baru sadar jika sikap Suga membingungkannya. Sewaktu-waktu dia seperti mmbutuhkannya, tapi detik berikutnya mengabaikan keberadaanya. Ia ingat setiap kali Suga menariknya untuk mendekat, dia mendorongnya menjauh. Mungkin dia sedang bermain mildang, push & pull.
Menyingkirkan pikirannya tentang Suga, Seulgi mengepak bajunya, Dagger, Pistol dan perlengkapan lainnya. Hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Ia keluar dari kamarnya dengan membawa tas rangselnya. Dia menemukan jika pintu kamar Suga terbuka, itu berarti orangnya sudah pergi atau dibawah.
"Huh...untunglah...aku tidak mau berurusan dengannya untuk hari ini. Ahhh...ini memalukan". Seulgi menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya, menutupi wajahnya.
"Apanya yang memalukan?". Suara Suga di belakang telinganya, sangat sangat dekat.
"Aaaaa...." Seulgi melonjak kaget. Hampir saja ia melayangkan tinjunya ke wajah Suga, dan berhenti seketika.
"Ups....tangan ku terselip..." dia memberi Suga senyum bodohnya.
"Oh!!! otak mu yang kecil ternyata..." Suga melihatnya dengan tatapan aneh dan geli.
Seulgi mengabaikan komentar Suga. Dia malah memandangi Suga dari atas ke bawah. Celana denim
belel dengan lubang di kedua lututnya, Kaos polo dan Sneaker. Senyum mulai merambati wajahnya.
"Boo to the Hoo..." Seulgi tampak terkejut dengan tampilan Suga. Untuk pertama kalinya dia melihat
Suga tanpa Jas, kemeja dan dasi. Yahh...kecuali satu-dan kalia tahu itu.
"Kau tahu, sekali-kali lepas dari rutinitas adalah hiburan terbaik. Hehe" Seulgi menepuk pundak Suga pelan.
"Kalau aku jadi kau aku tidak akan melakukan itu" Suga menarik tangan Seulgi dan mendorongnya hingga tubuh Seulgi membentur pintu kamar Jungkook.
Brukk...
Mereka berdua jatuh, karena Jungkook membuka pintu kamarnya. Dan posisi mereka sangat
canggung, wajah Suga di dada Seulgi.
"Hyung....Nonna...kalian???!!!!" Jungkook melihat tingkah mereka , yang berusaha melepaskan diri
dan berkali-kali gagal, karena mereka jatuh lagi dengan posisi yang sama , dengan wajah bingung.
Mungkin pikirnya, ini dua orang dewasa sedang apa.
"Hehe....pagi Jungkook...Noona ingin mengajak mu pergi ke suatu tempat" Setelah Seulgi bisa berdiri dengan kedua kakinya.
"Kau ingin menculiknya?" tanya Suga curiga.
"Ehhhh....tentu saja tidak...aku ingin mengajaknya ke rumah ayahku. Apa kau tidak percaya padaku?.
Lalu...kenapa kau mempercayakan dia" Seulgi menunjuk Jungkook "kepadaku? Apa kau pikir aku
semacam noona-noona yang xxxxxx...(Silahkan isi sendiri)".
"Oh, terserah kau!!!, tapi jika ada apa-apa kau hubungi aku. Jika satu rambut saja lepas dari
kepalanya...." Suga mengeluarkan ancaman yang sepertinya menggelikan.
"Hey...swagg...pertama...rambut Jungkook rontok dan juga perlu regenerasi, yang kedua...aku PASTI
akan mengatakannya padamu jika sesuatu terjadi.
Tidak mengatakan apa-apa, Suga kembali kekamarnya dengan membanting pintu.
'aku pikir dia sudah rapi akan pergi ke suatu tempat'
Sial...mulut ku seperti sudah dol remnya. Tentu saja aku tahu jika dia sangat khawatir dengan
Jungkook. Kenapa aku tidak bicara dengan halus kepadanya?.
Sepertinya aku tidak bisa bicara normal dengannya. Karena setiap kali aku membuka mulut, aku
pasti berteriak seperti hyena.
"Noona...!!!" suara Jungkook membawanya kembali dari lamunannya. "Kau ingin mengajak ku kemana?" tanya Jungkook penasaran.
"Ke rumah ku. Cepat kau berkemas atau kau ingin aku membantu mu?". Seulgi melihat wajah Jungkook semu merah.
"Kau ingin membantu mengepak underwear ku?" tanya Jungkook.
"Errrr...tidak untuk yang satu itu".
"Hahahhah...." kita berdua tertawa.
To Be Continue
Note:
Arghh...maaf...maaf...saya sedang mengalami krisis inspirasi. Hai...yang ngefans dengan EXO, Siapa????
*Aku...
Waow...dayumm....teaser nya si Lay..Ganteng bingit....
Setelah kejadian malam itu, Suga tak mengatakan apa pun. Cukup dengan ucapan selamat pagi, dan Suga sudah tidak terlihat lagi. Itu sangat menyebalkan untuk Seulgi. Tapi dia tidak ingin mendorong lebih lagi karena dia tahu jika Suga sedang tertekan. Dan sekarang bukan itu masalahnya. Keselamatan Jungkook adalah agenda utama. Dia tidak boleh lengah.
Selama satu minggu ini Seulgi menjadi bodyguard Jungkook. Syukurlah selama ini tidak terjadi apa-apa. Menjaga nyawa seseorang tidaklah mudah. Dia tidak memiliki pengalaman sebagai bodyguard. Berkelahi tangan kosong atau dengan senjata dia adalah ahlinya, tapi dia masih ragu. Bagaimana jika gagal?. Tapi bukankah dia anak dari mafia, pemilik bisnis gelap?. Ahh...itu menaikkan rasa percaya dirinya.
Pagi-pagi sekali Seulgi menjelajahi isi rumah. Mulai dari balkon miliknya, ruang keluarga di lantai dua, kamar mandi dan dapur serta ruang tamu. Rumah ini terlalu besar hanya untuk dua orang. Dia juga heran kenapa Suga hanya mempekerjakan dirinya.
Setelah itu dia menyisir luar tembok rumah. Menghitung kemungkinan penyusup memasuki rumah. Merasa puas Seulgi kembali ke dalam rumah. Dia harus membicarakan ini dengan Suga.
"Sepertinya itu anak masih tidur" karena dia tidak melihat seorang pun yang berkeliaran. Ia memutuskan untuk ke kamarnya.
Gugup yang ia rasakan saat berdiri di depan pintu kamar Suga. Lalu bagaimana jika di dalam?. Mungkin jantungnya akan lompat dari dadanya. Wow.
Tok..tok..
Pintu tetap tidak terbuka.
Tok..tok...
Masih juga Suga tidak membuka pintu. Seulgi mulai gelisah. Dia mondar-mandir di depan pintu seperti gosokan.
Jangan, jangan? jangan, jangan...
Jika dia membuka pintu, pastinya tidak sopan. Tapi ini darurat. Seulgi mengusap dadanya berkali-kali untuk menenangkan jantungnya. Masa bodoh jika ini melanggar norma etika, Seulgi merangsek masuk.
"Yoongi ssi..." pelan-pelan ia mendekati tempat tidur. "Yoongi ssi...ada yang harus aku bicarakan" Seulgi sudah berdiri di samping Suga yang masih tidur pulas. "Huh...hanya karena ini hari Sabtu, tidurnya sampai ngiler...hihihi" Seulgi tertawa kecil memandangi Suga yang sedang tidur.
Hey...wajahnya sangat lucu. Membuatnya ingin menyingkirkan rambut yang menutupi mata dan dahinya.
Seulgi mengulurkan tangannya perlahan, namun sebuah tangan yang tentu saja bukan miliknya, menarik lengannya hingga tubuhnya jatuh tengkurap di atas tubuh Suga.
Seulgi tersentak kaget, dia pikir seseorang akan membunuhnya.
"Arrrgghhh...lepaskan!! lepaskan aku" Tapi ternyata itu hanyalah lengan Suga yang memeluk pinggangnya. Kemudian Suga membalik badan Seulgi berbaring disisinya.
"Sssttt....mulut kecil mu itu berisik" Jari telunjuk Suga di bibir Seulgi.
Kehilangan kata-kata, Seulgi hanya mengangguk pelan.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" kata Seulgi sambil berbisik, tidak tahu kenapa dia harus bicara sepelan itu, padahal tidak ada orang selain mereka berdua. Tidak ada respon, Seulgi menyenggol lengan Suga yang sudah kembali menutup matanya. Dasar kebo!!, makinya dalam hati.
"Suga ssi!!!" kali ini dia sedikit menaikkan suaranya.
"Hemm..." sebal tidak diperhatikan, Seulgi beralih posisi di atas Suga yang kembali mendengkur. Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Suga.
"Yoongi ssi..kita perlu bicara!!!" teriaknya.
"Oh...oh..." Suga gelagapan. Dia tidak tahu jika Seulgi diatasnya, yang langsung ia lempar dan Seulgi mendarat di lantai.
"Aww....". Begitu mendengar itu siapa, Suga malah tertawa melihat ekspresi Seulgi.
"Shooo....diam kau" Seulgi menggerutu kesal. "Pssttt...muahahahaa" walaupun mulutnya sudah ditutup tapi tawa Suga tetap menggelegar.
"Kau tahu, aku kesini ingin membicarakan sesuatu. Bukan menjadi badut".
"Ok....Aku mendengarkan sekarang, kau mau bicara apa?" Suga butuh kontrol diri yang banyak untuk menahan tawanya. Seulgi memandang gondok dengan makhluk di depannya.
"Kita harus memasang Home Security System untuk keamanan rumah ini. Siapa tahu musuh yang tak mau kau sebut namanya di depanku menyelinap dan memasang bom. Kita harus pergi sekarang" Seulgi menarik tangan Suga dengan paksa.
"Hey...kau mau aku pergi dengan hanya begini?". Seulgi memandang Suga dari atas kebawah. Dan malu mulai menamparnya keras. Dia baru sadar jika Suga hanya mengenakan Boxer. Bagus untuk mempermalukan diri sendiri, Kang Seulgi ya, pikirnya. Dia segera berlari keluar dan berteriak dari luar "Aku tunggu kau di luar!!".
"Hahahahha...." terdengar tawa Suga dari balik pintu.
Kang Seulgi
***********************************************************************
Ini saatnya memberitahu ayahnya tentang keberadaannya dan kabarnya. Selama ini ia singkirkan perasaan bersalah. Dia tidak mau jika absennya menjadi sebab ayahnya memburuk.
Mungkin lebih baik jika mengajak serta Jungkook.
Tapi tidak dengan Suga. Dia adalah orang sulit. Apalagi jika tahu backgroundnya.
Yah...walaupun hubungannya dengan Suga tidak kemana-mana alias statis, tapi dia tida mau jika Suga melarikan diri dari kenyataan siapa dirinya. Yakinlah Suga bukan pecundang.
Dan yang paling penting apakah Suga penduli?.
Ha!!! Dia baru sadar jika sikap Suga membingungkannya. Sewaktu-waktu dia seperti mmbutuhkannya, tapi detik berikutnya mengabaikan keberadaanya. Ia ingat setiap kali Suga menariknya untuk mendekat, dia mendorongnya menjauh. Mungkin dia sedang bermain mildang, push & pull.
Menyingkirkan pikirannya tentang Suga, Seulgi mengepak bajunya, Dagger, Pistol dan perlengkapan lainnya. Hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Ia keluar dari kamarnya dengan membawa tas rangselnya. Dia menemukan jika pintu kamar Suga terbuka, itu berarti orangnya sudah pergi atau dibawah.
"Huh...untunglah...aku tidak mau berurusan dengannya untuk hari ini. Ahhh...ini memalukan". Seulgi menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya, menutupi wajahnya.
"Apanya yang memalukan?". Suara Suga di belakang telinganya, sangat sangat dekat.
"Aaaaa...." Seulgi melonjak kaget. Hampir saja ia melayangkan tinjunya ke wajah Suga, dan berhenti seketika.
"Ups....tangan ku terselip..." dia memberi Suga senyum bodohnya.
"Oh!!! otak mu yang kecil ternyata..." Suga melihatnya dengan tatapan aneh dan geli.
Seulgi mengabaikan komentar Suga. Dia malah memandangi Suga dari atas ke bawah. Celana denim
belel dengan lubang di kedua lututnya, Kaos polo dan Sneaker. Senyum mulai merambati wajahnya.
"Boo to the Hoo..." Seulgi tampak terkejut dengan tampilan Suga. Untuk pertama kalinya dia melihat
Suga tanpa Jas, kemeja dan dasi. Yahh...kecuali satu-dan kalia tahu itu.
"Kau tahu, sekali-kali lepas dari rutinitas adalah hiburan terbaik. Hehe" Seulgi menepuk pundak Suga pelan.
"Kalau aku jadi kau aku tidak akan melakukan itu" Suga menarik tangan Seulgi dan mendorongnya hingga tubuh Seulgi membentur pintu kamar Jungkook.
Brukk...
Mereka berdua jatuh, karena Jungkook membuka pintu kamarnya. Dan posisi mereka sangat
canggung, wajah Suga di dada Seulgi.
"Hyung....Nonna...kalian???!!!!" Jungkook melihat tingkah mereka , yang berusaha melepaskan diri
dan berkali-kali gagal, karena mereka jatuh lagi dengan posisi yang sama , dengan wajah bingung.
Mungkin pikirnya, ini dua orang dewasa sedang apa.
"Hehe....pagi Jungkook...Noona ingin mengajak mu pergi ke suatu tempat" Setelah Seulgi bisa berdiri dengan kedua kakinya.
"Kau ingin menculiknya?" tanya Suga curiga.
"Ehhhh....tentu saja tidak...aku ingin mengajaknya ke rumah ayahku. Apa kau tidak percaya padaku?.
Lalu...kenapa kau mempercayakan dia" Seulgi menunjuk Jungkook "kepadaku? Apa kau pikir aku
semacam noona-noona yang xxxxxx...(Silahkan isi sendiri)".
"Oh, terserah kau!!!, tapi jika ada apa-apa kau hubungi aku. Jika satu rambut saja lepas dari
kepalanya...." Suga mengeluarkan ancaman yang sepertinya menggelikan.
"Hey...swagg...pertama...rambut Jungkook rontok dan juga perlu regenerasi, yang kedua...aku PASTI
akan mengatakannya padamu jika sesuatu terjadi.
Tidak mengatakan apa-apa, Suga kembali kekamarnya dengan membanting pintu.
'aku pikir dia sudah rapi akan pergi ke suatu tempat'
Sial...mulut ku seperti sudah dol remnya. Tentu saja aku tahu jika dia sangat khawatir dengan
Jungkook. Kenapa aku tidak bicara dengan halus kepadanya?.
Sepertinya aku tidak bisa bicara normal dengannya. Karena setiap kali aku membuka mulut, aku
pasti berteriak seperti hyena.
"Noona...!!!" suara Jungkook membawanya kembali dari lamunannya. "Kau ingin mengajak ku kemana?" tanya Jungkook penasaran.
"Ke rumah ku. Cepat kau berkemas atau kau ingin aku membantu mu?". Seulgi melihat wajah Jungkook semu merah.
"Kau ingin membantu mengepak underwear ku?" tanya Jungkook.
"Errrr...tidak untuk yang satu itu".
"Hahahhah...." kita berdua tertawa.
To Be Continue
Note:
Arghh...maaf...maaf...saya sedang mengalami krisis inspirasi. Hai...yang ngefans dengan EXO, Siapa????
*Aku...
Waow...dayumm....teaser nya si Lay..Ganteng bingit....






