Friday, December 25, 2015

FanFics : The Witch ( Chapter 3 )


Title     : The Witch

Cast     : Luhan
              Son Naeun Apink
              Lee Taemin Shinee

Genre  : Fantasy, Drama

******************************************************************************

Naeun membolak balik buku tua yang ada ditangannya. Dan selama ia duduk disana yang hampir menghabiskan waktu istirahatnya, tak juga ia mengerti arti dari setiap huruf yang tertulis di buku itu. Rasanya ingin menyerah. Kepalanya sudah mulai berdenyut. Sepertinya percuma. Naeun mendengus kesal. Melihat kearah pintu sesekali. Berharap ketika ia menutup bukunya, ibunya tidak akan masuk ke kamarnya kemudian marah-marah. 

Dia tidak sepandai ibunya. Yang setiap kali ibunya cerita tentang kehebatannya dalam mengafal mantra dan mempraktekkannya. Duh....isi otakknya pas-pasan. Jika dipaksa takutnya akan meledak. 

"Son Naeun!!! Eomma tahu kau hanya melamun saja. Pangeran tamapn tidak akan datang pada anak yang malas-malasan" suara ibunya terdengar dari lantai bawah yang membuat dia tersentak kaget. 
Hampir saja. 

"Ne, Eomma...tapi...." Son Naeun ingin menimpali dengan banyak alasan. Dia bukan pemalas sebenarnya. Dia hanya ingin duduk dan tidur-tiduran. Melihat jam diatas meja sebelah tempat tidurnya, jam sebelas malam. Matanya mulai ngantuk. Apalagi dengan jendela kamarnya yeng terbuka. Dia semakin susah membuka matanya. Padangan yang dilihatnya semakin tipis dan mengecil. 

Gubrakkk....

Suara keras membuat Naeun yang hampir lelap melompat dari kursinya. Membuat buku Mantranya jatuh dilantai. 

"Ya!!!! jagan tidur" suara ibunya menggelegar. Berdiri di depan pintu kamarnya, Ibunya mengacungkan sendok kayu untuk sayur sambil berkacak pinggang. 

"Tapi Eomma, ini sudah larut sekali. Diteruskan besok pagi saja" Naeun tidak pernah mengeluh langsung didepan ibunya. Karena takut akan menyakiti hati ibunya. 

"Tidak. Tidak. Eomma akan menemani mu menghafal mantra demi mantra" Ibunya berdiri disamping meja tempatnya belajar.
"Eomma sudah mengajarkan mu dari halaman depan hingga terakhir, coba kau baca yang ini" Ibunya membuka beberapa halaman. Meloncat kira-kira setengah halaman dari yang tdai ia coba pelajari.

Dengan terbata-bata, mencoba mengingat bagaimana cara mengucapkan kata-kata yang masih asing ditelingannya,
"Waxaan ku xidhaan naftayduna way idin kan weligiis yimaado ayuu ka soocay gudcurkii in. sida nafta mid ka mid ah jacayl iyo damaca galay."
(Aku ikat jiwa ku dengan mu yang datang dari kegelapan sebagi jiwa yang menjadi satu dari tubuh yang berbeda).

Naeun tidak tahu artinya sama sekali. Dari semua baris mantra yang ada dibukunya hanya itu yang paling mudah diucapkan. Saat ia selesai mengucapkannya, langit tiba-tiba sangat cerah karena kilat yang terus menyambar dii langit. Gemuruh angin mengguncang pohon - pohon besar di halaman rumahnya.

Naeun sangat panik melihat perubahan yang sangat tiba-tiba. Tapi ibunya sangat tenang. Berbeda sekali dengan dirinya yang mulai gemetar ketakutan.
Apa mantra yang ia ucapkan malah mendatangkan bencana?
Dan ibunya malah tersenyum kepadanya. Ya ampun...mungkin ada yang salah.

" Bagus...kau hebat sekali" kata ibunya sambil menepuk punggungnya pelan. "Eomma, akan menunggu mu dibawah. Cepat turun sebelum makan malam mu dingin.".

Naeun tidak menjawab. Dia masih terkejut dengan apa yang terjadi. Dari sekian tahun ia menjadi seorang penyihir, baru kali ini ia bisa mendatangkan angin dan kilat. Wow.
Ia melongok keluar jendela kamarnya. Suara gemuruh disertai sambaran kilat, membuatnya begidik ngeri. Mungkin badai akan datang.

"Son Naeun!!! " panggil ibunya. Dia segera turun kebawah karena tidak mau ibunya menunggu terlalu lama dan menunda makan malam mereka.



Sementara itu....


Luhan tidak tahu apa yang datang padanya. Karena yang ia rasakan seluruh tubuhnya ngilu. Ia bersandar di batang pohon besar. Mengatur napasnya, ia mencoba berdiri. Tapi sepetinya sia-sia karena ia jatuh lagi ke tanah. Diposisinya yang sekarang, terkapan dan tidak berdaya, bisa saja musuhnya menghabisinya dengan mudah. Dan Lucifer akan mengganti posisinya dengan orang lain.

Tapi, mungkin karena penyihir itu. Karena wanita tua itu memandang ke arahnya. Dan herannya, seperti bisa melihat dengan jelas. Padahal jika bukan yang memiliki kekuatan yang hebat tidak mungkin mereka bisa melihat dirinya.

Dia melihat sekelilingnya. Dahan-dahan pohon yang berserakan. Angin yang sangat kuat sehingga bisa melemparnya sejauh ini.

Luhan tidak bisa menahan lelah. Sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur di rumahnya.

*********

Luhan merasa ada yang membangunkan tidurnya. Ini sangat tidak biasa. Karena ia hidup sendiri. Lalu siapa? Wanita yang tidur dengannya semalam?.
"Hey...orang asing..ayo bangun"

Suara wanita yang tidak pernah ia dengar. Ia membuka matanya. Dan berusaha bangun. Tapi masih sama seperti sebelumnya dia masih kesulitan. Wanita itu membantunya untuk duduk. Namun ada yang membuatnya terkejut, karena saat kulitnya bersentuhan langsung ada yang menggelitik dan menjalar ke seluruh tubuhnya yang membuatnya ingin melakukannya berkali-kali karena membuatnya sangat ketagihan.

Dan sepertinya itu juga dirasakan oleh wanita yang dihadapannya karena kalau dilihat dari wajahnya yang syok dengan mulutnya sedikit terbuka.

"Em..Oh..." Kata - kata yang keluar dari wanita itu membuatnya tertawa. " Aku akan membantu mu berdiri" sambungnya. Sebenarnya Luhan sudah pulih, tapi karena dia sudah merasakan bagaimana saat mereka bersentuhan membuatnya,...yah..begitulah. Ia tidak menolaknya.

Wanita itu merangkul bahunya dan membantunya berdiri. " Kau bisa berjalan?" tanyanya. Luhan hanya mengangguk. Wajah mereka sangat dekat. Bahkan jika wanita itu menoleh ke arahnya, ia yakin hidung mereka akan bersentuhan. Luhan tidak keberatan.

"Siapa namamu?" pertanyaan yang sangat klise saat bertemu orang baru. " Naeun. Son Naeun" jawabnya. "Kalau aku tidak akan menyebutkan nama lengkap ku kepada orang asing yang baru dikenalnya". Dan itu sukses membuat Naeun berhenti. "Apa kau ingin mengatakan bahwa aku Wanita murahan hanya karena menyebutkan nama lengkap ku. Sangat tidak masuk akal" rutuknya.

"Ah, bukan begitu. Apa kau tidak takut jika aku seorang pembunuh berantai? Pencuri?". Son Naeun menatapnya dari atas kebawah. Jujur saja itu membuat Luhan Juniora sedikit senang. "Aku pikir itu tidak mungkin. Jika kau orang yang jahat, aku akan mengutukmu menjadi jamur dan aku akan memakan mu".
Luhan tertawa keras sekali. Ini untuk pertama kalinya sesuatu yang tidak lucu membuatnya tertawa.

Ia mendengar Naeun mendengus kesal. Itu membuat tawanya tak juga berhenti.
" Kau lucu sekali.hahahahahhha" Luhan sampai memukul-mukul perutnya yang kram. Naeun, yang juga masih berdiri dihadapannya hanya menatapnya kesal. Wajahnya memerah. Untuk memperbaiki suasananya, Luhan megulurkan tangannya,
"Luhan, Nama ku Luhan. atau kau bisa memanggilku Sayang".

Kali ini wajah Naeun sudah seperti tomat rebus. "Aku tidak butuh nama, aku hanya ingin tanya ada urusan apa kau dirumahku ? dan setelah alasannya bisa aku terima, kau boleh pergi?" postur tubuh Naeun menantang. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang wanita dengan tinggi badan 150 cm?.

"Ckckc....aku tidak yakin kau paham dengan apa yang aku lakukan disini. Dan ini bukan rumah mu, tapi halaman yang bagian dari hutan. Oh, rumah itu juga bukan milik mu tapi milik kumpulan serigala yang sudah mati" Jawab Luhan. Ia tahu jika itu akan membuat Naeun semakin malu.

"Oh, alasan yang masuk akal. Sekarang kau pergi dari sini!" kata Naeun sambil melipat kedua tangannya.
Luhan terkejut. Karena mendengar itu membuatnya seperti ada yang meremas jantungnya sehingga sulit untuk berjalan. Dan akhirnya ia menyimpulkan sesuatu yang sangat tidak mungkin.
Dia memiliki seorang Soul mate, belahan jiwa, separuh jiwanya. Yang dia pikir  tidak mungkin ia dapatkan di seratus tahun yang akan datang.

Apa-apaan ini. Apakah takdir bermain kotor?. Jika dia akan diikat dengan seorang wanita, takdir harusnya mengikat jiwanya dengan wanita yang kuat bukan buntalan api yang sedikit-sedikit akan membakarnya.

Duh, mungkin takdir salah memasangkan.....


To Be Continue