Title : The Witch
Cast : Luhan
Son Naeun Apink
Lee Taemin Shinee
Genre : Fantasy, Drama
******************************************************************************
Walaupun dia sudah memandangnya berkali-kali. Seperti saat di waktu luangnya atau saat ia keluar dari kastil. Hitam dan gelap. Warna di dunianya yang ada hanya hitam atau abu-abu. Dia tidak tahu bagaimana pupil matanya beradaptasi dengan perubahan warna ketika dia memasuki dunia manusia.
Sangat berbeda. Di dunia manusia sangat berwarna. Kadang itu
membuat matanya sakit. Sehingga dia mengajukan permintaan hanya malam hari saja
dia berburu.
“Luhanie, kau akan tetap berdiri disini sampai pagi?” Lee Teamin,
yang tidak tahu sejak kapan menjadi
teman. Bukan teman dalam susah, ia hanya suka dengan Lee Taemin yang banyak
bicara. Karena dia merasa sangat sepi.
“Kau terlalu menikmati pekerjaan ini. Lucifer tidak
memasang pelacak di punggung mu. Jadi bersantailah sedikit”. Kata-kata Taemin
kadang mampu menggoyahkan kesetiaannnya pada boss besarnya.
“Tidak. Ini adalah hari terakhir menjelang bulan mati.
Kau,“ Luhan menepuk pundak taemin
“berhati-hatilah, pulang jika kau selesai di rumah bordil” .
Taemin hanya tersenyum menjawab pesannya. Tidak berucap lagi dan langsung menghunuskan
pedangnya dalam waktu bersamaan.
Ada perbedaan yang mencolok antara nyala api diujung
pedang miliknya dan Taemin. Ujung pedang Lee Taemin berwarna putih, sedangkan
miliknya berwarna merah. Sama dengan warna pupil matanya saat ia berada di
bentuk Iblis.
Luhan menunggu sampai Taemin menghilang. Ia pun kemudian
bersiap. Malam ini adalah malam miliknya. Dia akan mengurung seberapa necromancer yang lepas dari dunia bawah.
Hadiah yang dijanjikan oleh Lucifer sangat menggiurkan.
Incubi .
Wanita itu pernah bersamanya, mungkin sebulan yang lalu.
Dan tidak mengecewakan.
Tidak heran jika kali ini yang terbanyak mengumpulkan necromancer akan mendapatkan wanita itu.
Makhluk seperti dirinya tidak membutuhkan makanan
manusia, tetapi dari aura. Dan hanya akan bertahan paling lama satu minggu. Dan
dengan sex, bisa sampai satu bulan.
Sekarang dia harus
lebih focus untuk menangkap para necromancer yang berkeliaran bebas. Luhan bisa
merasakan panas ditelapak tangannya. Pedangnya member Luhan isyarat jika ada
beberapa necromancer. Dai megikuti kemana pedangnya membawanya pergi.
Satu blok apartemen, dua blok apartemen....melewati
ladang dan ia sampai di garis antara
hutan dan peternakan. Dari pandangan
matanya terlihat merah di beberapa tempat. Sepertinya para parasit itu
membentuk koloni.
“Ckckc...jika saja mereka pikir bisa menghindar dari
ku” Luhan berjalan tegak dan angkuh. Jika pedangnya
tidak bisa merobek isi perut mereka, maka kukunya yang kini tumbuh beberapa
senti , hitam dan tebal seperti
lempengan baja yang meruncing unjungnya. mampu untuk mengambil jantung mereka.
Luhan berhenti sejenak, menajamkan indra penglihatannya. Ada
sekitar dua puluhan.
Tangkapan yang besar.
Kini Luhan dalam bentuk sebenarnnya. Di kepalanya tumbuh
tanduk , ujung tanduknya menyala
berwarna merah. Matanya juga berwarna sama.
Dari mulutnya tumbuh taring yang tajam. Di sepanjang tulang
punggungnya muncul seperti tanduk . tubuhnya membesar dan tingginya mencapai
dahan pohon. Ekornya yang berujung besi , mengeluarkan bunyi mengerikan setiap
kali menyentuh tanah. Tulang rusuknya menebal. Kulit tubuhnya berwarna merah.
Luhan sangat puas dengan tampilannya. Dia bergerak sangat cepat. Tubuh barunya membuat
pergerakkannya lebih cepat.
Luhan berlari kedalam hutan. Dia tahu dimana tempatnya
berada. Lebih baik jika dia menghabisi koloni lebih dulu.
Luhan menyeringai buas. Rupanya kumpulan terkutuk itu sudah
bersiap menghadapinya. Ia mengamati satu per satu musuh didepannya.
Serigala
yang tubuhnya tanpa bulu dan bermata merah, dia adalah yang paling keras
kepala. akan menyerah jika kepalanya di
potong. Di sisi kanannya, berkepala ular. Luhan tidak lagi memperhatikan
musuh-musuhnya. Kerana menurut perhitungannya, semua yang ada dhadapannya
pernah dia temui dan berhasil membunuhnya.
Pedang di tangannya bergejolak. Panas hingga tulangnya.
Musuh pertamanya adalah goblin. Tulang rusuknya menonjol dan
berwarna hitam. Dari setiap pori-pori, mengeluarkan lendir hitam dan bau
busuk.
Luhan bergerak sangat cepat. Dia tidak ingin kehilangan
kesempatan. Benar saja, pedangnnya mengenai kerongkongan makhluk itu. Yang
sekejap berubah menjadi abu dan tertiup angin. Begitu seterusnya.
Luhan tidak mengira jika yang muncul akan sebanyak itu. Dia
sudah kembali kebentuknya semula. Dan perubahannya sangat menyakitkan. Seperti
seseorang telah mencabut tulangnya dan memasangnya kembali dengan posisi
terbalik.
Perburuannya sangan menghabiskan seluruh tenaga. Setiap kali
langkah kakinya menapak, ia harus berpegangan dengan benda-benda disekitarnya.
Kadang batang pohon kadang kayu yang lapuk membuatnya jatuh tersungkur. Dan
saat itu pula dia akan berdiri kembali.
Luhan mengamati lingkungan sekitar. Dan tidak jauh dari
tempatnya berdiri ia bisa mencium bau dua orang penyihir. Jarang sekali ia
bertemu dengan penyihir. Karena mereka lebih suka berkumpul dengan sejenisnya
dalam kelompok besar. Atau luhan lebih mengenalnya dengan Coven.
Dan kali ini ia heran
karena dia hanya menemukan dua saja. Saking penasarannya dia tidak sadar jika
kakinya terus membawa tubuhnya seperti tenaganya terisi kembali.
***
Luhan bersembunyi dari balik pohon besar. Dia juga tahu jika
diatas sana ada beberapa iblis yang sedang bergelantungan. Dan kehadirannya
membuat mereka kalang kabut. Luhan tersenyum melihatnya.
Kembali ia mengamati apa saja yang ada di dalam rumah. Perabotan yang seerhana, pikirnya. Dari
penglihatannya selama ia duduk disana adalah rumah itu dihuni oleh dua orang
perempuan. Dari sikapnya kemungkinan besar jika mereka adalah ibu dan anak.
Luhan menatap ke lantai dua. Jendelanya terbuka.
Tiba – tiba tubuhnya melayang dengan keras dan membentur
pohon. Dengan tidak adanya sisa tenaga, Luhan tidak sadarkan diri.
To Be Continue






