Title : The Spine Breaker
Chapter : Chapter I Chapter II Chapter III Chapter IV Chapter V Chapter VI
Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Cast : Kang Seulgi Red VelvetChapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Min Yoongi / Suga BTS
Jung Jungkook BTS
V BTS
Kai EXO
Oh Sehun EXO
Length : Chapter
*********************************************************************************
Pagi-pagi sekali Jungkook membuat sarapan karena Asisten rumah mereka yang biasa menyiapkan sarapan sedang libur. Jadi dengan senang hati Jungkook membuatkan kakaknya sarapan. Hanya ada bacon, beberapa butir telur dan roti. Dan yang ada ditangganya sekarang ada Sanwich, oh..tidak semahir itu untuk membuat sarapan yang istimewa selain sanwich.
Ia melihat kakaknya masih dengan wajah kusut, duduk di meja makan. Setidaknya matanya sudah terbuka lebar. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas, pasti kurang tidur.
"Pagi hyung" Jungkook meletakkan sarapan di depan kakaknya dan segelas jus.
"Hemm..." Jawabnya singkat. Mungkin kakaknya pikir dia masih di alam mimpi. Akhir-akhir ini pekerjaan kakaknya telah membuatnya selalu pulang larut malam dan menghiraukannya. Dia seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
"Suga hyung, aku belum menemukan bodyguard yang hyung mau. Tapi JHope hyung....". Jungkook tak meneruskan kata-katanya saat melihat wanita turun dari tangga hanya mengenakan kemeja milik kakaknya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kakaknya yang sepertinya melihat hal yang sama dengan wajah sedikit syok.
Ini harusnya bukan hal baru, karena itu terjadi berkali-kali. Tapi tetap saja, Jungkook terkejut. Saat ia melihat mata kakaknya yang menatap dirinya, ada rasa bersalah. Apakah kakaknya takut jika ia akan melakukan hal yang sama? semoga tidak. Karena ibunya akan turun dari surga dan memarahinya. Memang ibunya tidak melihat secara langsung, tapi jika masih hidup, tentu akan memanggangnya hidup-hidup.
"Pagi...." wanita itu duduk di sebelah kakaknya dan melakukan sedikit pertunjukan dengan melingkarkan tangannya ke leher kakaknya.
"Pagi Bora ssi" Sepertinya Suga mengerti akan ketidaknyamanan adiknya, dia melepaskan tangan Bora.
Jadi nama wanita itu Bora?. Ck, wanita palsu!!. Aku tahu apa yang Suga hyung lakukan, tapi aku tidak mengira dengan wanita ini. Setidaknya wanita yang minggu kemarin bersikap lebih baik kepada ku. Siapa itu namanya? aku lupa.
Jungkook sibuk dengan pikirannya sendiri. Dengan sedikit-sedikit mencuri pandang dengan wanita yang di bawa kakaknya semalam. Ya!!! dia berharap hanya semalam saja, tak ada malam-malam selanjutnya. Itu memuakkan.
"Kau tahu, kau tidak sopan?" kakaknya seperti menyadarkan Jungkook. Dan membuatnya menundukkan wajahnya, malu.
"Ne, Hyung... Maaf, Bora noona" Jungkook meminta maaf. Psstt...ia merasa sarapan yang baru saja masuk kedalam perutnya akan keluar.
"Oppa..." Bora berbisik yang masih bisa Jungkook dengar.
'Tsk....suaranya sok seksi'. Rutuk Jungkook pelan.
"Jadi menemani ku belanja hari ini?" kini Bora berada dipangkuan kakaknya.
Jungkook melihat kakaknya dengan tatapan bertanya. Selalu begitu. Pasti wanita itu minta uang pada kakaknya. Apakah kakaknya bodoh? mungkin saja otaknya terbalik. Mereka hanya memanfaatkan kakaknya sebagai kartu kredit berjalan. Tapi setiap kali dia akan membicarakan hal ini, kakaknya selalu menolak dengan alasan bahwa dia masih dibawah umur.
"Maaf Bora sii, aku ada meeting hari ini" kemudian Suga bangkit dari tempat duduknya. Ia kembali dengan segepok uang dan memberikannya kepada Bora.
"Aku yakin kau akan menikmati belanjanya tanpa ku".
"Thank you , baby" setelah mengecup bibir Suga, Bora langsung menghilang dari pandangan.
"Aku tidak suka dengan wanita itu" Jungkook membuka percakapan.
"Aku tahu itu. Dan ini yang terakhir". Suga memberi adiknya janji. Yang Jungkook ragukan akan ditepati. Karena jika malam minggu tiba kakaknya akan membawa wanita lain. Yang sepertinya stok tak pernah habis.
"Benarkah? kau tidak akan membawa wanita ke rumah ini lagi" tanyanya ragu-ragu.
"Emmm...tergantung situasi dan kondisi" jawabnya kalem. Wajah Jungkook asam lagi.
"Aku harus pergi" Suga meninggalkan meja makan tanpa menjelaskan lebih padanya.
Ah, ia sendiri lagi di rumah. Tak mungkin kakaknya akan bermain game dengannya seperti dulu saat mereka masih kecil. Bahkan sekarang kakaknya lebih sibuk dari sebelumnya. Apalagi dengan beberapa amcaman yang diterimanya, pasti membuat kakaknya khawatir.
*****************************************************************************
Suga / Min Yoongi
Meeting hanyalah alasan saja. Melihat wajah Jungkook pagi ini, membuat ku bersalah. Mungkin ini saatnya merubah hal-hal buruk yang sudah aku lakukan. Dan aku tahu jika hubungan kakak dan adik sudah tidak seperti dulu.
Dan aku baru sadar hari ini. Gila!!. Aku berharap dia tidak akan meniru gaya hidup ku dengan berganti wanita setiap minggu.
Tapi tidak sepenuhnya bohong. Aku memang akan bertemu seseorang. Sebenarnya merasa buruk meninggalkan Jungkook sendiri di rumah. Tapi aku sudah meminta V dan Jimin untuk menemaninya sampai aku pulang. Mereka berdua kan pengangguran.
Dan orang penting itu adalah seorang bodyguard. Aku memang belum menemukannya, tapi semoga saja hari ini. Aku bergantung pada yang punya langit untuk berpihak pada ku. Karena semakin ditunda, semakin terancam nyawa Jungkook. Beberapa hari yang lalu aku sudah mencari di setiap agensi untuk mencari bodyguard wanita.
"Selamat pagi, tuan. Saya senang akhirnya Tapi tak satu pun yang memenuhi standar ku. Setidaknya dia harus memiliki kapabilitas dan fleksibel dalam keadaan apapun.
Dan aku tidak bisa berkonsentrasi karena dia terus menekan ku. Dia mengancam akan membalik perusahaan yang sudah ku bangun. Dan aku merasa akhir-akhir ini orang-orangnya terus mengamati gerak-gerikku dari jauh.
Apalagi kemarin dia mengirim orang untuk mengancam Jungkook. Sepertinya dia menyukai bermain kotor. Apakah ia tidak peduli dengan image nya?. Aku harus memikirkan cara untuk membalik posisi ini.
Dan kontrak ini akan mengorbankan banyak orang jika aku tidak berhati-hati. Terutama Jungkook. Aku sudah gagal untuk menjadi contoh kakak yang baik, setidaknya aku bisa melindungi nyawanya.
Padahal jika dilihat dari nilai kontraknya, ini tak seberapa. Lalu apa maksud sebenarnya?.
Sial....walaupun aku sudah berpikir berkali-kali aku tak tahu apa maksud ancamannya. Apa dia bosan dan ingin bermain-main dengan ku?.
Alasan itu pun terdengar tak mungkin. Untuk orang sepertinya, seharusnya mencari lawan yang sebanding bukan?.
"Kookie, kau dimana?" aku bisa mendengar suara sebalnya saat aku memanggilnya Kookie.
"Di rumah Jimin hyung. Ada V hyung juga" aku bisa bernapas lega. Ada yang menjaganya.
"Ok,..nanti pulangnya aku yang menjemput mu. Jangan di rumah sendiri".
"Ne, hyung".
Aku sudah memperingatkannya beberapa kali. Dan aku tahu dia tidak mungkin ceroboh. Dengan situasi yang semakin pelik, tak mungkin aku membiarkannya Jungkook berkeliaran di rumah sendirian.
Suga / Min Yoongi End
***************************************************************************
"Appa ingin kau bertemu dengan seseorang" Kang Seulgi menghentikan kegiatannya berlatih taekwondo. Ia memandang ayahnya aneh. Seumur-umur baru kali ini ayahnya ingin dirinya menemui temannya. Karena biasanya dia disembunyikan jika beberapa orang yang berpakaian aneh berkunjung ke rumah.
"Siapa?" Kang Seulgi bertanya.
"Kau akan tahu nanti, sekarang naiklah ke atas. Appa sudah meyewa stylist yang terbaik" ayahnya memberinya senyuman yang mencurigakan. Tapi ia tidak tahu apa, ia menyerah. Seulgi mengikuti perintah ayahnya.
Benar saja, saat ia masuk ke kamarnya di lantai tiga, sudah ada dua orang stylist dengan koper besar ditangannya.
"Hai, princess...." salah satu stylist - laki-laki ataukah perempuan?, Kang Seulgi bingung - mendekatinya dan melihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, memutar badannya berkali-kali.
"Hemm....sentuhan sedikit saja...dan....Bam!!! kau akan berubah menjadi Cinderella" kata stylist dengan gaya bicara yang feminim. Kemudian Seulgi tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yang pasti rambutnya ditarik ke kanan dan ke kiri. Kakinya ditempeli dengan lakban yang kemudian di tarik tanpa perasaan. Dia pikir mungkin kulitnya mengelupas dan berdarah-darah.
Setelah bertarung selama dua jam lebih, Seulgi memandang dirinya di depan cermin.
"Wow...apakah itu diriku?" tanya Seulgi. Dia sangat berbeda. Gaun merah marun dengan backless membungkus tubuhnya dengan anggun dan sempurna. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan sentuhan sedikit bergelombang. Dia sampai berkedip berkali-kali, hanya untuk memastikan bahwa dia yang dicermin adalah dirinya, Kang Seulgi.
"Yup..." kata stylist dengan bangga. "Tapi kita tidak bisa berbuat banyak dengan tangan mu yang kasar" katanya, dan setelah itu mereka berpamitan. Iyalah, Seulgi menghabiskan hari-harinya dengan memegang sejata, bukan dengan manipedicure.
"Kang Seulgi!!!" ia mendengar suara ayahnya dari intercom di kamarnya. Oh!!, dia melupakan itu karena terlalu mengagumi penampilannya. Segera ia turun dan menemui siapa saja yang membuatnya harus berdandan seperti itu. .
"Ini adalah Oh Sehun" ayahnya memperkenalkan laki-laki di depannya sebagai Oh Sehun. Seulgi mengulurkan tangannya, namun tak disangka Oh Sehun memeluknya.
"Oh, aku tidak bisa bernapas" Seulgi berusaha melepaskan diri.
"Maaf" Oh Sehun memberi Seulgi senyum tersemanis mungkin. Dan kemudian melepas pelukannya.
"Jadi bisa kita lanjutkan?". Kata-kata ayahnya membuat Seulgi merasa tidak nyaman.
"Kapan kau akan menentukan tanggal pernikahan?" tanya ayahnya.
"Menikah?" Seulgi balik bertanya. Ia kaget, siapa yang akan menikah?. Tidak, tidak mungkin dirinya. "Kau dan Oh Sehun, appa sudah menentukan tanggal, tapi Oh Sehun ingin memilihnya sendiri" tidak ada rasa bersalah dari ayahnya saat mengatakannya. Itu membuatnya kecewa.
"Tidak!!! Aku tidak mau menikah dengan orang asing" Seulgi menunjuk Oh Sehun yang masih diam dan terlihat tenang. Kang Seulgi sangat marah.
"Dan kenapa appa tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu?. Ini bukan hal sepele. Appa memberikan aku pada orang asing!!!. Atau???!! Apa menjual ku pada orang ini?? Berapa ia membayar ku?!!" Seulgi tak lagi harus berkata apa, napasnya tersengal. Dia terluka, seperti baru saja seseorang mengambil hatinya dan meremat-remat hingga tak berbentuk.
"Kang Seugli dengar..." tentu saja ayahnya ingin membujuknya. Apalagi....
"Tidak...aku tidak ingin mendengar apa pun. Cukup!!!! Dan kau.." Seulgi menunjuk ke arah Oh Sehun, "Jangan harap aku akan menikah dengan mu" airmatanya mengalir di pipinya.
Setelah itu Kang Seulgi berlari ke kamarnya. Mengganti gaunnya dengan baju yang lebih nyaman. Kemudian ia membuka closet nya dan memasukkan apapun ke dalam tas. Keputusannya sudah bulat, dia tidak ingin tinggal di rumah ini lagi. Untuk apa jika ternyata ia tak bisa memutuskan kehidupannya sendiri. Ia tak mau didikte harus bagaimana hidupnya. Sekilas ia memandang kamarnya, sedih. Tak lupa dengan kunci motornya.
Sampai di bawah, hanya ada ayahnya. Sedikit ia merasa sedih, tapi ia mengusir perasaan itu. Tidak ada perasaan seperti itu lagi setelah ayahnya membuat keputusan yang melukainya.
"Appa, jangan mencariku. Jika aku lihat ada orang yang mengikuti ku, aku tidak segan menembak kepala ku sendiri" ditangan Seulgi ada pistol otomatis yang menempel di kepalanya.
Ayahnya hanya mengangguk lemah dan tidak berkata apa-apa.
Tanpa membuang waktu, Seulgi mengambil motor Ducati miliknya di basement.
Seulgi sudah berjanji tak akan kembali ke rumah ini selama ayahnya ingin menikahkannya pada orang asing. Dia akan memasuki kehidupan baru. Yah, dia akan menikmatinya. Seoul sepertinya pilihan terbaik. Nalurinya akan membawanya pada kehidupan yang ia impikan.
*************************************************************************
Setelah empat jam berkendara, tubuhnya sudah terlalu lelah. Seulgi memutuskan untuk beristirahat di Motel terdekat.
Drttt...drttt
"Halo" Sapa Seulgi pelan. Dari ID di layar telepon miliknya, ia tahu siapa.
"Ya!!! Kang Seulgi...Kau dimana?" suara JHope terdengar di sebrang telepon. Seulgi hanya meringis, dan menjauhkan teleponnya dari telinganya.
"Kau tahu, ayah mu seperti orang gila. Dia membuat semua anak buahnya kabur ketakutan".
"Oppa, aku pergi meningglakan rumah karena appa ingin menikahkan aku dengan seseorang yang tak aku kenal........dan aku sekarang berada di Seoul" kata Seulgi menjelaskan.
"Seoul?? Oh...kau bisa tinggal di rumahku. Disana hanya ada ibu ku...sebentar aku kirimi kau alamatnya".
Seulgi melanjutkan perjalanannya sesuai dengan alamat yang diberikan JHope. Ia paksakan tubuhnya yang sudah mendekati limit.
Sebentar lagi....
Sebentar lagi...
Begitu seterusnya, hingga dia sudah berdiri di depan rumah sederhana.
Ah.....
Seulgi bernapas lega. Ia tidak sabar ingin meletakkan pantatnya yang mati rasa segera. Ia disambut dengan wanita paruh baya, yang Seulgi yakin adalah ibu JHope oppa. Seulgi memarkirkan motornya dan segera masuk kedalam, setelah sambutan hangat yang hampir membawa air mata.
"Hoseok berpesan padaku akan ada tamu, tak ku kira ternyata secantik dirimu" katanya sambil mengantar Seulgi ke kamar yang akan ditempati.
"Anggap rumah sederhana ini seperti rumah mu sendiri" Seulgi mendengarkan dengan seksama, mungkin jika Mrs. Jung memiliki anak perempuan pasti akan seceria JHope oppa, pikirnya.
"Dan maaf karena tidak memiliki anak perempuan, kamarnya tidak berwarna pink" sambungnya.
"Ah...ini lebih dari cukup, terima kasih".
Begitu menyentuh tempat tidur, Seulgi sudah dibawa ke alam mimpi.
To be continue
under major construction.
edit...edit...dan edit.....






