Monday, August 10, 2015

FanFics : The Spine Breaker ( Chapter XII )



Title                 : The  Spine Breaker

Chapter            :  Chapter I  Chapter II Chapter III  Chapter IV Chapter V Chapter VI 
                         Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
                         Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Cast                 : Kang Seulgi Red Velvet
                          Min Suga BTS
                          Jung Jungkook BTS
                          V BTS
                          Kai EXO
                          Oh Sehun EXO

Length             : Chapter

********************************************************************************


Min Suga/Min Yoongi

Jika aku hanya menghitung hari, mungkin sudah satu bulan aku berada disini. Namun, saat aku bertanya dengan penjaga yang sering membawa ku keluar masuk ruangan, dia berkata baru dua hari.
Ah, entah obat apa yang mereka suntik kan dileherku. Karena setiap kali obat itu memasuki sistem peredaran darah ku, mereka bereaksi dengan sangat cepat membuat ku memiliki pandangan yang tidak nyata atau nyata?

Aku bisa melihat Kang Seulgi tersungkur dengan genangan darah. Selalu sama seperti itu. Setiap kali aku memanggilnya, perlahan dia menghilang dan digantikan dengan Jungkook yang tergantung dengan darah mengalir ke ujung kakinya kemudian menetes di lantai.
Tubuh ku menggigil ngeri. Ketakutan dan marah. Menjauhkan tubuh ku hingga aku bisa merasakan dinginnya dinding di ruangan ini. Tapi seperti mimpi buruk, itu terus mengikuti ku. Menolak sebisa ku, sehingga saat ada yang sedikit cahaya, aku berlari sekuat tenaga. Berharap siapa pun itu dia akan menolong ku.
"Tolong...!! tolong bawa aku keluar dari tempat ini." aku memegang kerah baju orang yang berdiri persis di depan ku, "Dia...Kang Seulgi, ada disebelah sana..." jari ku menunjuk tempat dimana setiap kali Seulgi muncul dihadapan ku, "Dan adikku.....mereka membunuhnya...!!!" aku bisa mendengar suara ku sendiri bergema didalam kepala ku.
"Aku akan membawa mu" jawabnya.

Bernapas lega, saat seseorang menuntun ke dua lengan ku. Dari telapak kaki ku, aku bisa merasakan lantai yang berjalan cepat. Mereka menyeret ku. Inilah saat kesadaran ku mulai datang. Bahwa Kang Seulgi ataupun Jungkook tidak pernah berada di sana, Tidak ada darah dan tidak ada kematian.

Beberapa langkah didepan ku, pintu yang sama. Mengarah ke ruangan yang sama. Dimana aku mendapatkan sebuah peluru yang masih melekat di daging bagian dalam, hampir menembus tulang. Itulah megapa aku harus diseret oleh mereka.
Rasa sakit ini adalah rasa sakit peringata, hal lain apa yang akan aku dapat dari dalam ruangan itu.
Menghiraukan bekas luka sayatan yang ditekan erat oleh mereka, aku berusaha melepaskan diri.

"Jangan!!!, aku tidak mau masuk!!!!"  dengan sisa tenaga aku berhasil lepas, namun saat aku menumpukan kaki ku, rasa sakit lain menghantam ku keras. Menimbulakn rasa mual.
Tak kuat berjalan, aku merangkak. Benar, aku tidak ingin satu ruangan dengan orang-orang sakit jiwanya.
Setidaknya dengan merangkak, aku bisa menjauhkan ku dari ruangan itu, sebelum orang yang sama menyeret ku kembali dengan paksa.

Aku hanya bisa mendengar saat pintu dibuka, ' ruangan yang sama ' batinku saat bau bahan kimia tercium.

"Kau lama sekali...Tuan Oh Sehun tidak sabar ingin melihatnya" suara yang sama pula. Tapi aku masih tidak ingin melihat ruangan ini, orang-orang yang berada di dalamnya. Dan Oh Sehun, aku mengingatnya. Manusia busuk itu yang ternyata membuat ku melewati setiap sayatan dan rasa sakit.

"Dia bertingkah, mencoba melarikan diri" apakah begitu, aku?.
Aku pikir sekali lagi. Saat pertama datang ketempat ini, melihat sekelilingnya. Tidak ada tempat untuk melarikan diri. Aku telah berakhir disini. Lalu apa yang dibicarakan orang ini. Aku hanya takut jika masuk ke ruangan ini, sebenarnya hanya itu. Sial, aku terdengar seperti orang yang kematiannya di depan pintu.

"Cepat ikat dia, Boss akan tiba 10 menit lagi". Pendengaran ku mengikuti setiap gerakan, mengingat aku menolak membuka mata ku. Rasanya masih sama saat kedua tangan dan kaki diikat.

"Sepertinya kau menikmati yang satu ini" aku kenal siapa yang baru saja bicara. Beberapa kali aku menemuinya. Aku membuka kedua mata ku. Oh Sehun berdiri di depan ku dengan setelan jas Armani nya, menatap ku tanpa emosi.

"Kau rupanya. Dan apa maksudnya ini? kita hanya bernusuhan biasa, bukan?" tanya ku.
"Biasa kata mu? disini beberapa hari telah menghilangkan beberapa simpanan memori di otak mu ternyata." dia menjawabnya hanya dengan seperti itu.

"Aku akan mengambil Kang Seulgi dan perusahaan mu. Dan adik kecil mu, mungkin akan menyenangkan jika akau memotong kedua kaki dan tangannya" katanya dengan wajah bersinar. Seharusnya yang duduk di kursi ini adalah Oh Sehun. Sehingga bebrapa pukulan akan mengembalikan bagian yang gila.
"Jadi ini karena perempuan?" tanya ku.
"Ah, kau bisa menyebutnya begitu. Kau tidak tahu siapa Kang Seulgi. Dia tidak berarti untuk mu". Setelah itu Oh Sehun keluar ruangan, meninggalkan ku dengan dokter yang masih sama.
Ditangannya sudah ada pisau bedah.

Peluru yang di dalam kaki ku diambilnya dengan dibedah. Tanpa bius, sehingga aku bisa merasakan saat pisau itu menusuk terlalu dalam. Membuat ku menggertakkan rahang, menahan sakit yang menjalar sampai tulang belakang.
"Tolong hentikan...." tidak peduli jika sekarang aku terdengar merengek dan tidak berdaya. Sudah aku lemparkan jauh-jauh rasa sok kuat dan bertahan.
Aku biarakan tembok pertahanan yang mereka lihat setiap kali mereka menyiksaku runtuh. Yang aku inginkan agar aku dilepaskan dari rasa sakit yang datang.
"Arghhhh!!!!!" teriak ku saat dokter itu mengambil peluru dari dalam kaki ku. Napas ku tersengal. Semakin pendek setiap kali aku memaksa udara memasuki paru-paru ku.

"Bawa dia kembali ke tempatnya" kata dokter itu setelah dia menyuntikkan obat di leher ku. Jika jarum-jarum itu meninggalkan bekas, maka aku bisa menghitungnya yang mungkin mencapai puluhan jumlahnya.
Aku dibawa kembali ketempat ku semula. Setidaknya tempat itu menyembunyikanku dari mereka yang akan meyakiti ku.

Setiap kali menggerakkan bagian tubuhku, hanya ada rasa perih dan sakit. Luka dari hari sebelumnya aku rasa tidak akan mengering. Mereka tidak membersihkannya. Bahkan mungkin sudah terinfeksi.

Heran dengan tubuh ku yang telah melewati penyiksaan yang tak terhitung jumlahnya. Yang setiap kali datang, mengubur semua harapan ku akan keluar dari tempat ini dengan selamat. Yang setiap kali benda-benda sialan itu melakukan sesuatu dengan tubuh ku.

Hah...aku menyalahkan benda yang tidak bersalah. Seharusnya aku menyalahkan orang-orang itu. Mereka memperlakukan ku seperti binatang percobaan. Mereka menilai seberapa lama tubuh ku menerima rasa sakit. Apakah tubuh ku bertahan dengan semua siksaan?.

Aku tidak hidup dimana super hero nyata. Aku bukan Hulk atau apapun.
Semoga mereka membusuk di kerak neraka. Itu pun kalau malaikat berpihak padaku. Jika aku tidak beruntung malaikat yang akan mengikat ku di kerak terbawah. Mengingat apa yang sudah aku lakukan selama ini, mungkin banyak yang mendoakan ku seperti itu. Banyak hati wanita yang telah aku lukai.

Ahh...minta maaf pun percuma, mungkin mereka akan mengusirku dengan tatapan jijik mereka.
Jika kematian sudah mengetuk pintu rumah mu, pintu belakang pun percuma.


To Be Continue





Jujur saja ini tidak sebagus digambaran pikiran ku. Jika otak kepala berlari lebih cepat dari pada merangkaknya jari-jari di keyboard. hahahha....
Ini namanya kewalahan.