Monday, August 17, 2015

FanFics : The Spine Breaker (Chapter XIII)



Title                 : The  Spine Breaker

Chapter            :  Chapter I  Chapter II Chapter III  Chapter IV Chapter V Chapter VI 
                         Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
                         Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog

Cast                 : Kang Seulgi Red Velvet
                          Min Suga BTS
                          Jung Jungkook BTS
                          V BTS
                          Kai EXO
                          Oh Sehun EXO

Length             : Chapter

********************************************************************************

Kang Seulgi

Bersyukur saat aku melihat Hyunseung berdiri di depan pintu dengan koper besarnya, ditemani dengan dua orang lainnya. Tidak menunggu lama, aku mempersilahkan mereka masuk. Dengan sigap mempersiapkan alat-alat yang tak aku kenal macamnya. Tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dengan posel Yoongi.

"Kau hanya ingin berdiri saja disana?" tanyanya. Jika kita bertemu di keadaan yang berbeda, mungkin aku akan menggilas senyum mengejeknya dari wajahnya. Dan aku tidak menjawab pertanyaannya, aku langsung duduk di depan mereka. Aku tidak ingin membuat ini menjadi percakapan basa-basi. Sejak kemarin suasananya memang sudah tegang.

Mungkin Hyunseung terlihat main-main, tapi saat aku mendengar jika dia berasal dari kumpulan hacker underground Cina, cara pandang ku berubah. Karena aku tahu apa saja yang mereka lakukan. Rahasia itu tidak beredar di muka umum, tapi aku tahu.
Aku mengamatinya dengan jeli. Bagaiman ia bekerja. Wajahnya sangat serius.

"Kalau kau memandangi ku terus, mungkin aku tidak bisa menyelesaikannya sekarang juga, kita bisa menyelesaikannya di tempat tidur" pandangannya beralih dari komputer ke wajah ku dengan senyum menggoda.

Ck, tidak ada yang lebih payah dari yang namanya Hyunseung. "Sial" kata ku. Sengaja aku tidak merendahkan suaraku, agar dia mendengarnya. Aku bangkit dari tempat duduk ku dan berkumpul dengan lainnya di meja makan. Dari jauh aku bisa mendengar gelak tawa Hyunseung. Aku tahu dia hanya bercanda dengan ku. Jadi aku membiarkannya kali ini.

Dari arah meja makan, aku mendengar mereka sedang adu argumen. Siapa lagi kalau bukan Jimin dan V. Karena usul yang terdengar bodoh hanya milik mereka berdua. Tapi karena mereka juga, aku bisa mendengar tawa Jungkook yang baru kali ini aku dengar sejak beberapa hari yang lalu.
"Sebaiknya kita bawakan dia jaring, dan tali untuk mengikatnya" Suara Jimin terdengar jelas, ketika tinggal selangkah lagi.
"Ugh...Hyung, kita bukan ingin menangkap seekor binatang" kata Jungkook.
"Dan aku akan membawa pisau untuk memotong burungnya hingga ke pangkalnya" kali ini aku ikut tertawa karena V, begitu juga dengan yang lainnya. Namjoon menjitak kepala V sedikit keras karena dia sampai meringis kesakitan.

"Hai Kang Seulgi, aku tahu kau belum sarapan" Jin menyodorkan ku Pancake yang aku tahu itu pasti buatannya. Dengan senang hati aku menerimanya. Jika aku tidak mengisi tenaga, bagaimana aku bisa memukul telak mereka.
'Hah, pancake ini sangat enak. Apa Min Yoongi sarapan menu yang sama?. Apakah pagi ini dia sudah bangun?'

Sekali lagi, pikiran ku mengikuti kemana mau ingin ku pergi. Aku seperti seseorang yang IQ nya sangat rendah. Tapi bukan kah setiap orang yang sedang kehilangan agar berharap yang hilang baik-baik saja?. Apakah membiarkan otakku memanipulasi keadaan yang sebenarnya akan membuat ku lebih tenang atau malah lebih tegang?.

"Kau tahu, jika pancake buatan momma Jin tidak enak, perut ku masih muat" Suara Namjoon membuyarkan lamunan ku. Dalam hitungan menit pancake sudah lenyap. Sepertinya aku memberi senyuman bangga di wajah Jin Oppa.
"Aku akan bergabung dengan JHope dihalaman depan. Mempersiapkan mereka dan mengurus semua peralatan yang baru saja tiba" Namjoon meninggalkan ku, Jimin, Jungkook, V dan Jin.

"Aku senang, kakak ku dikelilingi orang-orang seperti kalian" kata Jungkook.
"Bahkan kalian tidak meminta bayaran, yang jika kalian mau, aku pun tak bisa membayarnya. Hanya dengan kata 'Keluarga, teman' kalian sudah rela mengambil resiko seperti ini. Meski ini adalah musuh kakak ku - musuh ku dan tidak ada hubungannya dengan kalian, yang bahkan sebelum kakak ku mengenal kalian tapi kalian menyayangi kakak ku seperti sebuah keluarga yang rela melakukan apa saja untuk ku, untuk kakak ku" Jungkook membuka pembicaran yang serius.  Saat aku mendengarnya, air mata di pojok mata ku terjatuh.

Segera aku memeluknya. Tidak pernah sesering ini aku menangis. Tapi, kemudian aku  tak bisa menghitungnya sejak kehilangan Min Yoongi.

"Noona, A..ku tidak bisa membalas apa pun yang telah kau lakukan untuk ku. Pun dimasa depan. Jika gagal menemukan Yoongi hyung, aku tetap bahagia. Kita sudah berusaha bukan?. Jika nanti menemukan Yoongi hyung tidak bernyawa lagi, apa kau akan datang ke pemakamanya? Apa kau akan menyimpan abu nya? Karena jika aku yang menyimpannya, mugkin itu akan membuat ku menyusulnya". Mungkin dia masih hidup diluar sana, tapi mungkin juga dia sudah meninggalkan ku. Lalu apa kemudian, apa aku juga sanggup menyimpan Abu kremasi?.

"Ssstt...kau tahu, setiap kali aku selalu membisikkan pada diri ku sendiri, bahwa Yoongi di luar sana baik-baik saja. Mungkin satu dua luka memar dan itu tidak akan membuatnya meninggalkan kita?. Dia akan hidup, pasti masih hidup. Dia sedang berjuang di luar sana dengan orang-orang yang melukainya, tenang saja aku akan menemukannya".

"Tapi Noona bagaimana jika tidak. Bagaimana jika hyung tidak mampu bertahan, bagaimana jika hyung sudah menyerah karena kita terlambat?" suara Jungkook semakin parau. Dia menahan tangis, aku tahu jika dia sangat terluka.
"Kita akan berangkat malam ini. Yang kau lakukan adalah diam disini dengan Jimin dan V. Dan doakan agar aku bisa membawa Yoongi kembali. Aku merindukannya, sama dengan mu. Kita semua"
Sunyi yang sangat tebal. Tidak ada yang mengucapkan sesuatu. Kata-kata dari Jungkook terdengar sangat putus asa. Aku tidak tahu jika secepat itu dia akan menyerah. Tidak berbeda dengan Jimin dan V, ragu. Mungkinkah firasat ku salah?.

"JHope mungkin membutuhkan ku" Jin yang memutus kesunyian. Perhatian ku kembali ke Jimin dan V. Disaat ini aku membutuhkan mereka lebih dari biasanya.

"Jimin, V, jaga Jungkook saat kita pergi. Kalian akan dijaga selusin orang-orang ku. Jika ada bahaya kau harus menghubungi ku".

"Baiklah" jawab mereka serentak.

"Kang Seulgi!!! Aku menemukan lokasinya" teriak Hyunseung. Semua orang sudah berada di ruang keluarga.
"Aku akan menuntun kalian ke lokasi mereka." katanya.
"Baiklah. Yang kita butuhkan adalah rencana." jawabku singkat.

Aku segera memanggil JHope dan Namjoon. Karena mereka yang akan memimpin operasi ini. Duduk melingkar mendengarkan setiap detil lokasinya.
"Lokasi terakhir yaitu ada di sebuah gedung,  arah barat daya kota Seoul. Melihat lokasinya yang berada di tengah kota. Gedung tersebut milik Oh Sehun. Pengusaha sekaligus calon anggota dewan".
Sedikit tercengang mendengar nama Oh Sehun. Apa yang dilakukannya dengan semua ini?
Apa ada kaitannya dengan hilangnya Yoongi. Tapi bahkan tadi malam dia menelpon ku, menanyakan bagaimana perkembangannya, pencarian Yoongi.

Melihat Namjoon dan JHope yang memiliki reaksi sama dengan ku, berarti bukan hanya aku saja yang terkejut. Mereka ,mungkin tidak mengenal secara langsung, tapi mereka tahu Oh Sehun. Mantan calon suaminya.

"Oh Sehun....seperti Oh Sehun yang beberapa kali datang ke rumah mu? Oh Sehun yang itu?" tanya JHope. Mungkin Namjoon juga akan bertanya hal yang sama.
"Mungkin saja. Kecuali jika ada nama Oh Sehun yang lain yang memiliki profesi yang sama dengan yang satu ini" jawab Hyunseung.
Yah, aku mengangguk setuju. Tapi iyakah?. Jika Oh Sehun yang aku kenal adalah orang dibalik semua ini. Dibalik semua teror yang kita alami. Beruntungnya aku tidak memberitahu bagaiman rencana yang aku bangun.
Tapi mungkin dia tahu seberapa banyak orang yang ikut bersama ku. Tapi lagi-lagi aku sudah meminta appa untuk menjaga agar tidak bocor keluar.

"Musuh yang tidak terduga" Namjoon sepertinya berpikir keras. Mungkin mengingat kembali dari beberapa pertemuan mereka yang lebih banyak tidak sengaja?.
"Yah, aku tidak pernah mendengar Min Suga menyebut nama itu" kata JHope menimpali.
"Lalu rencana selanjutnya?" aku sudah tidak bisa berpikir. Yang berputar dikepalaku hanya Yoongi dan Yoongi. Jadi aku pasrahkan pada Namjoon dan JHope. Aku bukan ahli lapangan. Namjoon dan JHope, iya. Mereka sudah sering terjun langsung berurusan dengan hal-hal seperti ini.

"Gedung itu adalah sebuah apartemen mewah. jika kita menyerang maka menarik perhatian penghuni yang lain. Kita harus mengosongkan gedung isi gedung, baru kemudian kita bisa masuk. Tapi bagaimana caranya, aku belum tahu" Namjoon dan JHope saling bertukar pandang. Ini lebih sulit dari yang aku duga. Tempat itu bukan  rumah yang terbengkalai atau di sebuah gudang  bekas yang jauh dari tempat umum.
Sial!!!.

"Gedung tersebut terdiri dari 5 lantai. Dua lantai paling atas adalah milik pribadi. Sedangkan lantai satu adalah lobi dan yang benar-benar ada penghuninya hanya lantai dua dan tiga. Menurut orang dalam, yang berpenghuni hanya 20 blok apartemen".
"Hemm....kita sepertinya tidak bisa mengosongkan dalam waktu singkat. Mereka akan curiga" JHope sepertinya belum muncul dengan ide yang lebih brilian.

"Kita pancing mereka agar memindahkan Yoongi keluar dari sana. Dan aku akan menempatkan orang-orang ku untuk memata-matai gerakan mereka".
Benar juga apa yang dikatakan Namjoon. Itu tidak akan memakan waktu yang lama jika membuat mereka bergerak.
"Jika benar ini adalah Oh Sehun. Kau, Kang Seulgi harus menelponnya sekarang juga dan memberitahu Oh Sehun bahwa kita sudah menemukan tempatnya dan akan langsung kesana". kata JHope menambahkan.

"Baiklah. Kita akan memonitor mereka dari jauh. Jika kita tidak bisa menyerang di tengah perjalanan, kita akan mengikuti mereka sampai lokasi selanjutnya" mereka mengangguk pelan, setuju dengan ku.

Akhirnya diputuskan, JHope dan beberapa bawahannya akan berjaga dari jauh. Sedangkan Namjoon dan aku menunggu JHope memberi perintah kapan akan bertindak.
JHope dan Namjoon bergegas menyiapkan segala sesuatunya. Dan aku,
aku bertugas meyakinkan Oh Sehun bahwa aku sudah menemukan lokasi dimana si Penculik menahannya, membawa banyak orang yang bersenjata lengkap. Dan juga meyakinkan diri sendiri, bahwa aku bisa melakukannya.

Oh Sehun. Aku tidak akan memaafkan orang itu jika benar dia yang melakukannya. Entah dendam apa yang membuatnya melakukan hal seperti itu. Dan aku akan menghukumnya, tanpa bantuan pihak yang berwajib, karena aku tahu mereka akan bungkam jika itu menyangkut dengan Oh Sehun. Aku memiliki cara sendiri agar dia menyesal berkali lipat karena merusak kebahagiaan ku.

***************************************************************************

"Terima kasih" kata ku yang sepertinya Hyunseung menangkapnya dengan sedikit terkejut,  kemudian dia tersenyum.
"Aku berhutang budi dengan ayah mu dan Namjoon" katanya. Aku tidak ingin bertanya apa itu. Mungkin sesuatu yang besar sehingga dia rela memotong liburannya.
"Mungkin appa akan senang jika kau mampir ke rumah" jika dia mau.
"Aku ragu Boss masih ingat dengan anak kecil yang pernah diselamatkan nyawanya. Tapi aku akan senang jika nanti bertemu boss lagi, mungkin aku bisa sekalian melamar mu?" candanya.
"HA HA....Lucu!!".

Segera aku berlari ke kamar. Melengkapi persiapan sebelumnya. Saatnya menggunakan Sniper yang aku simpan lama. Setelah mengeceknya dengan teliti, aku sudah siap untuk berangkat. Dua klip stripper peluru, binocular dan GPS.
Saat aku keluar rumah  sudah ada 5 mobil SUV yang terparkir di halaman. Jimn, V dan Jungkook mengamati setiap persiapan yang dilakukan dengan wajah heran, aneh dan kagum. JHope dan Namjoon menentukan siapa saja yang akan tinggal dan yang akan ikut dengan ku. Lebih baik jika Jin tinggal disini dengan yang lainnya. Setelah memastikan bahwa masing-masing sudah menenteng senjata laras panjang tipe AK-103, mereka bergegas berangkat.

"Baekhyun ssi, tugas mu sebagai spotter, untuk sementara tidak aku perlukan. Ini hanyalah operasi kecil" kata ku. Tapi seperti biasa, dia berusaha untuk menentangnya.
"Tapi...boss sudah memerintahkan ku untuk.."
"Ayolah..." rengek ku.
"Baiklah...jika nanti aku kehilangan kepala ku, aku akan bangkit dari kubur dan memburu mu" katanya.
"Ha! aku akan menunggu".

JHope dan bawahannya sudah berangkat lebih awal, sementara aku dan yang lainnya jalan paling belakang, menunggu.

******************************************************************************

Langit sudah menguning, sebentar lagi jam 6 sore. Tapi belum ada perintah untuk bergerak. Aku semakin cemas. Mungkin mereka akan tertahan disana. Tapi mereka harusnya tahu jika kita tidak mungkin membuat keributan ditengah keramainan. Jika itu yang terjadi maka akan lebih sulit lagi.

Dua jam kemudian JHope memberitahu bahwa Oh Sehun bergerak ke Selatan. Dan mereka akan mengikuti dari arah belakang.

Empat mobil SUV, satu lagi SUV milik Hyungseung dan aku mengendarai Ducati yang sudah lama terparkir di garasi.

Saatnya berlatih.

To Be Continue

5 Chapter lagi selesai....Yesss...