Thursday, August 20, 2015

FanFics : The Spine Breaker (Chapter XIV)



Title                 : The  Spine Breaker

Chapter            :  Chapter I  Chapter II Chapter III  Chapter IV Chapter V Chapter VI 
                         Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
                         Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog

Cast                 : Kang Seulgi Red Velvet
                          Min Suga BTS
                          Jung Jungkook BTS
                          V BTS
                          Kai EXO
                          Oh Sehun EXO



Length             : Chapter

*************************************************************************

Min Yoongi/Min Suga

Setiap kematian memiliki warna yang berbeda. Lalu, apa warna kematian ku?. Haha...aku takut jika aku bertanya akan ada yang menjawabnya. Kau tahu yang berdiri di depan pintu jika kematian sudah datang?.

Yah, yang bahkan pintu belakang tak akan bisa menghalangi mu dari kematian. Selama hidup ku aku hanya sekali melihat kelahiran, yaitu adikku, Jungkook. Belum sekalipun aku mengalami kematian. Tidak dengan kedua orang tua ku ataupun keluarga yang lainnya. Aku tidak memiliki keluarga selain Jungkook. Yang aku takutkan jika kematian menghampirinya lebih dulu, maka hidup ku akan lebih menderita dari kematian itu sendiri.

Beruntung bukan jika aku yang lebih dulu mati?.

Aku merasa kematian ku bahkan sudah ditulis hari ini. Sebagian dari diriku berbisik aku takut menghadapi kematian, dan sebagian lagi berpikir ini adalah kesempatan melepaskan diri.
Anggap saja aku putus asa jika melihat keadaan ku yang sekarang. Ingin hidup salah, ingin mati tapi tak kunjung datang.

Dari dua pilihan jika masih mungkin aku ingin memilih hidup. Aku masih muda, aku masih ingin memiliki keluarga. Tapi tubuh ku sudah tidak bisa lagi menahan semua siksaan. Tubuh ku bukan segumpal daging yang mati rasa. Setiap kali mereka mulai menyiksa ku, mereka seperti membangunkan setiap indera yang aku miliki. Hingga sakitnya dua kali lipat. Jika mereka menusukku dengan pisau kecil, tidak ada yang bisa membayangkan bagaimana rasanya.

Dan yang lebih parah lagi, mereka tidak membiarkan ku tertidur. Obat yang disuntikkan membuatku tetap terjaga. Bagaimana aku bisa mati jika mata ku saja selalu terbuka.

Aku bisa mendengar meski samar-samar, aku bisa melihat meski pandangan ku kabur, aku masih bisa berdiri walaupun kemudian tersungkur di lantai detik berikutnya. Dan aku masih bisa mencium bau busuk.
Karena waktu itu aku sengaja tidak memakan makanan yang mereka berikan. Namun karena rasanya yang mengerikan aku memuntahkannya kembali. Dan penjaga yang biasanya memaksa ku memakan kembali makanan yang tercecer di lantai. Demi mengurangi hukuman ku, aku melakukannya. Itu sangat menjijikkan.

Pintu kembali terbuka, cahaya yang sama yang selalu menyilaukan mata. Empat orang masuk dan mengeluh kenapa ruangan ini bau sekali seperti kandang babi. Andai saja mereka menggantikan ku disini, ck, tukang mengeluh.
Ah, aku pun tidak ada bedanya jika aku berada diposisi mereka. Dan aku sudah lelah mengeluh, tidak ada gunanya. Tuhan tidak mendengarnya. Lucu karena aku menyalahkan Tuhan. Beberapa saat disini saja aku merubah cara berpikir ku.

Bayangan yang semula empat berubah menjadi dua orang berubah menjadi Oh, aku mulai meragukan penilaian otak ku.
"Dia tidak bisa berjalan. Kita seret saja. Boss menginginkan ini cepat dilakukan".
Tidak bisa merasakan apapun. Tapi dengan pandangan ku yang kabur masih bisa melihat aku dibawa melewati beberapa rangkaian jendela dan suara 'Ding'.
Selebihnya seperti waktu yang berjalan cepat. Aku sudah tidak berdaya.


********************************************************************************

Kang Seulgi

Mereka memilih rute yang berbahaya, melewati tengah kota. Sehingga kita tidak bisa menyerang dengan tiba-tiba. Jika dalam film itu terlihat seru, maka yang ini tidak. Yang ada kita akan berurusan dengan Polisi.
Akhirnya kita memutuskan untuk mengikuti mereka sampat lokasi akhir.

Setelah menunggu hampir lim jam lamanya, akhirnya memasuki jalanan berbukit dan hutan yang tak begitu lebat.
"Mereka membawa Yoongi ke Villa pribadi milik Oh Sehun. Kita harus berhenti sekarang dan menepi karena tempat itu tidak jauh dari sini" aku bisa mendengar suara Hyunseung dari alat komunikasi wireless .
Deretan mobil berhenti di depan ku. Satu persatu mereka keluar. Namjoon menghampiri ku dan melemparkan satu pucuk senjata api. Dengan sigap aku menangkapnya.

"Dia sangat licin" komentarnya yang membuat ku tertawa kecil.
"Ha, dia sangat licin seperti belut dalan lumpur. Kalian siap?" tanya ku sembari menyembunyikan pistol pemberian Namjoon. JHope mengangguk mantap, mengangkat senjatanya. Ah, aku tahu kelakuan anak satu ini. Dia sangat ingin beraksi mirip Rambo.

Mendengar dengan seksama dari Hyunseung tentang cetak biru Villa, berapa jumlah orang yang berjaga-aku tidak ingin mempertanyakan dia dapat dari mana karena pasti itu ilegal.
Dari layar gadget yang masing-masing memegangnya ada cetak biru Villa  dengan titik-titik merah yang terlihat bergerak, Hyungseung menjelaskan jika titik merah itu adalah orang yang berada di dalam Villa.
"Titik merah akan padam jika kalian berhasil membunuh mereka" katanya final.

JHope dan Namjoon menggerakkan bawahan mereka, sedangkan aku bergerak sendiri. Lebih mendekat ke lokasi, aku mengambil posisi yang paling memungkinkan untuk melakukan eksekusi.
Untuk pertama kalinya aku akan menjadi pembunuh, seseorang yang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Tapi aku tidak akan membiarkan ini terungkap, aku sudah memiliki rencana lain.
Membuka tas besar ku yang berisi perlengkapan sniper, tanpa asisten. Dalam jarak dekat seperti ini angin tidak begitu berpengaruh.

Merebahkan tubuhku sejajar dengan tanah, aku bisa melihat beberapa orang mondar-mandir di sekitar Villa. Posisiku yang lebih tinggi sangat menguntungkan.
Waktu yang semakin habis, membuatku tidak tenang. Tidak akan berhasil jika aku gugup atau terburu-buru, mengela napas dalam agar detak jantung ku kembali normal.

Membidik sasaran pertama tepat di kepala, aku menarik pelatuk dengan mantap, menimbulkan sedikit asap diujung laras saat peluru ditembakkan, tanpa suara tepat mengenai sasaran. Detik berikutnya satu musuh roboh.
'satu......dua.......tiga' aku menghitung berapa musuh yang jatuh dalam kepala ku. Mengulanginya berkali-kali tanpa jeda waktu yang lama. Sudah tidak ada tanda-tanda musuh yang masih hidup. Aku terus merangsek ke depan. Yang ada dipikirannku hanya
'Yoongi...Yoongi...Yoongi....' memalukan memang, tapi cinta bahkan bisa membuat seseorang mampu memindahkan sebuah gunung.

Di tangan ku sudah ada HK416 Assault Rifle buatan German. Libas semua yang ada didepanku. Melihat mereka panik, membuat adrenalin memuncak. Ada kesenangan saat aku melakukannya secara nyata, bukan hanya di Video game yang sering aku mainkan.
Masih ada banyak titik merah yang masih menyala. Namjoon dan yang lainnya sudah diberitahu jika Oh Sehun adalah bagianku.
Dari arah yang berbeda, aku mendengar suara tembakan lebih dari sekali. Mereka sudah mulai masuk ke dalam Villa.

Apa yang akan menyambutku di dalam Villa?
Ck...mereka meremehkan ku.


To Be Continue

Bersambung lagi....
ayolah cepat selesaikan....terus selesain yang lainnya....Noh My Fox Mate udah nunggu....