Title : The Spine Breaker
Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Cast : Kang Seulgi Red Velvet
Min Suga BTS
Jung Jungkook BTS
V BTS
Kai EXO
Oh Sehun EXO
Length : Chapter
******************************************************************************
Min Yoongi/Min Suga
Ruangannya sudah berbeda. Hidungku mencium bau yang asing. Seperti cat kayu tua dan debu tebal. Pandangan ku yang semula kabur sudah mulai sedikit membaik. Tidak gelap dan membuat sedikit aku senang, lantainya tidak basah. Sehingga aku tidak menahan diri untuk merebahkan tubuhku.
Tangan ku masih terikat kuat. Anggap saja mereka baik hati dengan mengikat kedua tangan ku di depan. Karena saat terakhir kali mereka melakukan itu aku berteriak histeris. Otot lengan ku tertarik kebelakang, membuat luka pertama yang aku dapatkan kembali mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Meraba bekas tembakan dikaki ku, ujung-ujung jari ku berair. Mendekatkan ke mata ku, putih kekungingan dan ada sedikit warna merah.
Ahhhh....infeksi yang lain.
Aku ingin menertawakan keadaan ku. Tapi suara serak seperi ada ratusan benda tajam yang digoreskkan di semakin lama semakin keras dan seluruh tubuh ku bergetar karena tawa. Antara kasihan dengan diri ku sendiri dan menertawakan keadaan ku. Dari ujung mata ku mengalir air mata. Tidak bisa membedakan apakah aku menangis atau tertawa.
Oh..ayolah, anggap saja aku tertawa. Menangis itu tidak gentle.
Du
Setelah tawa ku mereda aku mengambil memori dari masa kecil. Tidak pernah aku terluka sampai menimbulkan infeksi, karena aku gila kebersihan, dan melihat keadaanku sekarang, ini sangat lucu.
Dipikir lagi aku bisa menggunakan otakku dengan lancar. Tidak ada halusinasi. Otakku berfungsi normal. Aku bahkan bisa menghitung jari-jari ku. Untunglah masih 10, mereka belum memotongnya. Mungkin belum saatnya?.
Mungkin mereka tidak menyuntikkan obat itu?.
Bahkan aku bisa mendengar suara ribut diluar. Seperti barang-barang yang dilempar dan teriakan. Dan kalau tidak salah ada suara tembakan.
Suara itu membuat ku frustasi. Yang ingin aku lakukan saat ini hanya memejamkan mata. Seluruh bagian tubuh ku lelah. Ada baiknya obat itu tidak ada di sistem peredaran darah ku. Aku merasa seperti belum pernah tidur dalam waktu seratus tahun.
Aku hanya ingin tidur yang nyenyak dan tidak terbangun lagi. Aku takut jika bangun masih dalam ruangan ini.
Mata ku semakin berat untuk aku paksa berjaga. Menyerah, aku membiarkan tidur menyambut ku.
*****************************************************************************
Kang Seulgi
Oh Sehun seperti rusa tertangkap pemburu. Wajahnya ketakutan, aku bisa melihat dari bola matanya yang bergerak mencari jalan keluar.
Aku melihat sekelilingku, tersenyum mengejek
"Kau ingin melarikan diri? Jangan bermimpi. Kematian mu tinggal menuggu aku menarik pelatu ini dan BAMM!!! kepala mu pecah".
Oh Sehun masih memegang pisto mengarahkannya kepadaku. Kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkannya. Tidak dengan orang-orangnya yang sudah menjadi bangkai. Aku menunggu Oh Sehun mengucapkan sesuatu. Tapi tidak satu kata pun keluar dari mulut busuknya.
"Aku mencintai mu, aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Hanya saja aku tidak akan meminta maaf atas apa yang aku lakukan padanya" sekali mengucap, mulut Oh Sehun tidak bisa berhenti rupanya.
Dan 'nya' yang dia maksud aku tahu siapa, Min Yoongi.
"Ck, untuk orang yang mau mati dalam hitungan detik, kau banyak bicara".
Oh Sehun melakukan yang tidak aku pikirkan. Dia mengarahkan ujung pistol ke kepalanya sendiri.
"Tidak secepat itu" dengan secepat kilat aku menendang tangan Oh Sehun sehingga senjata itu terlepas dari tangan Oh Sehun. Melumpuhkan Oh Sehun,
"Cepat ambilkan borgol" salah satu dari anah buah JHope melemparkan borgol kearah ku.
"Oh Sehun ssi, Kau tidak akan mati semudah itu".
Mereka membawa tubuh Oh Sehun dan memasukkannya kedalam mobil.
"Aku menemukan ini" Namjoon mencengkeram leher laki-laki paruh baya. "Bawa dia juga" perintahku.
Di ujung koridor, dua orang membawa tubuh Min Yoongi. Aku tak kuasa melihatnya. Tubuh Yoongi....aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Bahkan dia tak mampu berjalan atau sekedar membuka matanya. Itu menghancurkan hati ku. Aku bukan Seulgi yang beberapa menit lalu memegang senjata dan merubuhkan setiap musuh dengan berani. Kali ini,
Mengalir deras air mata ku tak terbendung. Melihat lengan Yoongi yang mengalirkan darah segar.
Ya Tuhan, apa yang mereka lakukan sehingga saat aku menemukannya keadaan Yoongi seperti itu?.
Aku menyerahkan sisanya kepada JHope. Dan segera membawa Yoongi ke rumah sakit secepatnya. Oh Sehun dan satu orang lagi yang masih hidup aku suruh mereka untuk membawa dua orang itu ke tempat yang telah aku tentukan.
********************************************************************************
Yoongi masih koma. Sejak seminggu yang lalu tak juga ada perubahan. Detak jantungnya sudah kembali normal, lalu apa yang membuatnya lebih nyaman tertidur?.
Apa dia tidak ingin bertemu dengan ku? dengan Jungkook dan yang lainnya?.
Aku khawatir dia tidak akan pernah bangun.
"Noona, sampai nanti sore" Jungkook masih belum banyak bicara. Selama Yoongi di rumah sakit, Jungkook selalu menghabiskan waktunya duduk di samping tempat tidur kakaknya. Tidak bercerita tentang hari-harinya seperti yang biasa orang lain lakukan. Tapi diam sambil terus mengamati peralatan medis yang menunjukkan jika denyut jantung kakaknya masih bersuara. Dia terlihat sangat stress. Tentu saja tidak bisa menerima dengan baik keadaan ini. Tapi ada rasa lega sesekali terlihat dimatanya.
"Hati-hati. Oh, Kookie, nanti sore Jimin dan V akan menjenguk Yoongi. Bisa kau datang lebih awal?".
"Akan aku usahakan" jawabnya pelan. Sepeninggal Jungkook, yang aku lakukan hanya duduk sambil berharap sewaktu-waktu Yoongi akan membuka matanya. Akan melegakan saat Yoongi bangun aku berada disisinya.
Duduk disamping Yoongi dan menggenggam tangannya erat. Seingatku sekarang telapak tangannya lebih hangat dari beberapa hari sebelumnya.
Dokter tak bisa berkata banyak. Yang dia katakan bahwa Yoongi akan bangun karena keinginannya sendiri. Dia mengalami penyiksaan fisik dan mental yang cukup parah. Aku tidak bisa membayangkan apa yang dia lewati selama mereka menahannya. Tapi dari luka yang ada di tubuhnya, pasti bukan sesuatu yang rasanya hanya tertusuk jarum.
Mengingat itu membuat ku marah. Oh Sehun akan membayar semuanya. Akan aku paku jari-jarinya satu persatu. Akan aku balas semua perlakuan yang Yoongi terima berkali lipat. Aku tidak akan terburu-buru menghabisi nyawa Oh Sehun hanya karena ia merengek dan mencium telapak kaki ku. Yang diakibatkan ulahnya terhadap Yoongi tidak akan cukup hanya dengan membunuhnya.
Aku terlonjak kaget saat merasa Yoongi menggerakkan tangannya.
"Oh Ya Tuhan....Yoongi!!!" teriakku. Saat melihat wajahnya, Yoongi sudah membuka matanya. Bahagia karena pada akhirnya Yoongi memutuskan untuk kembali kepada ku. Yang berarti dia cinta yang cukup sehingga bisa membuatnya sadar dari koma.
Aku harus menunggu di luar, karena dokter harus memastikan keadaan Yoongi. Aku bagikan pesan bahagia ini dengan yang lainnya. Berharap mereka segera datang kerumah sakit.
"Keadaanya sudah lebih baik. Kau boleh masuk, jika keluarga yang lain ingin menjenguk, hanya dua orang saja yang boleh masuk demi kenyamanan Yoongi agar tidak syok" pesan dokter sebelum meninggalkan ku berdua dengan Yoongi.
Sekarang aku menangis lagi. "Bagaimana keadaan mu? Kita merindukan mu" kata ku pelan. Yoongi tak juga menjawab pertanyaan ku. Hanya memandang ku, kemudian mengalihkannya ke langit-langit ruangan. Mungkin dia masih belum sadar penuh. Tapi saat aku melihat tatapan matanya yang tanpa emosi membuat ku sadar. Pasti ada sesuatu dengannya.
Apa yang kau lakukan padanya, Oh Sehun?
To Be Continue
Tinggal satu chapter lagi,,,,epilog....Yasss....






