Tuesday, May 26, 2015

FanFics : The Spine Breaker ( Chapter IV )



Title                 : The  Spine breaker
Chapter            : Chapter I  Chapter II Chapter III  Chapter IV Chapter V Chapter VI   
                         Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
                         Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Cast                 : Kang Seulgi Red Velvet
                          Min Suga BTS
                          Jeon Jungkook BTS
                          V BTS
                          Kai EXO
                          Oh Sehun EXO
Length             : Chapter
Note                : Yay....Chapter IV...saya bergembira ria...Min Swagg... 

********************************************************************************

Lalu disinilah Seulgi. Duduk di ruang keluarga. Setelah dia setuju menjadi bodyguard, dia pikir akan diberi waktu untuk berpikir lagi, tapi ternyata tidak. Seulgi langsung di bawa ke rumah calon bos nya. Siapa namanya? Min Suga , Min Yoongi. Hah, dia bingung mau memanggilnya apa.

Seulgi mengamati wajah Suga yang sibuk dengan kontrak mereka. Mulai dari wajahnya yang sok dingin, bibirnya yang lucu dan bagaimana jika bibirnya menyatu dengan bibir Suga?.
Ya!!!.
Seulgi membuang jauh-jauh pikiran kotornya. Tapi dia tak mengalihkan matanya, karena...ah...laki-laki di depannya sangat menggemaskan. Lupa dia jika beberapa waktu yang lalu dia ingin mengunyah kepala Min Suga karena sudah menghinanya. Dan dia menangkap sesuatu yang lain...kesepian, khawatir?.

"Ehem..." suara yang tak terduga dari Suga. Karena itu berarti Seulgi tertangkap basah sedang mengamatinya. Ini membuat Seulgi semakin grogi.
"Ini kontrak kerja kita, jika ada yang belum jelas kau bisa bertanya padaku" Suga memberikan beberapa lembar kertas ketangan Seulgi.
Setelah membaca dengan teliti, tidak sebenarnya Seulgi hanya melihat sekilas, kemudian membalik halaman berikutnya dan dia menandatanganinya.
"Aku harap kau tahu isi dari yang kau tandatangani".
"Ha, aku memiliki kecepatan membaca diatas rata-rata" kata Seulgi sedikit tersinggung. Suga tak menanggapi dan langsung mengambil kontrak dan menyimpannya di brankas.
"Hei, kau tidak memberi ku rangkapnya?". Dia baru sadar jika mereka hanya memiliki satu kontrak kerja. Apakah Suga ingin menipunya?. Dia harap tidak, karena kalau sampai Suga berani menipu dirinya, dia akan menggerakkan seluruh anak buah ayahnya untuk merobohkan rumah Min Suga yang sok itu.
"Bukankah kau memiliki otak yang cerdas. Aku pikir kau bisa mengingat isi dari kontrak" suara Suga terdengar dingin dan tanpa emosi bahwa dia menyindir dirinya.
"Aish...terserah" Kang Seulgi menyerah berbicara dengan Suga yang hatinya terbuat dari batu. Yang ia harap dirinya adalah air yang perlahan bisa menghancurkan egonya yang sebesar rumahnya.
Ck...baru dua hari bersama Suga tapi sudah bisa memutar akal sehatnya. Apakah itu berarti dia sudah mulai gila. Ya...gila cinta. Ups.

"Ini adalah kamar mu, sebelah kiri milik Jungkook dan kanan milikku" kata Suga menjelaskan.
Huh..mereka membuat ku seperti sandwich...kekeke...lalu...apa aku sepotong daging ham?. hahaha.

Agar tawanya tak terselip dari mulutnya dan mempermalukan dirinya, Seulgi melihat-lihat kamarnya. Besarnya separuh dari miliknya. Dindingnya dicat dengan warna karamel dengan jendela besar, Kamar mandi dan lemari baju. Karena Seulgi tak berkata apa-apa, akhirnya Suga yang bicara

"Apa aku harus merubah cat dindingnya menjadi pink?". 

Wow....tentu dia tahu bagaimana cara menyinggung perasaan seseorang. Tapi sebenarnya dia tidak bermaksud begitu. Hey...dia hanya bertanya karena aku terlihat bengong dan dia juga tidak tahu warna kesukaan ku. Lalu kenapa aku marah?. 

"Kau mulai bekerja besok" setelah itu Suga meninggalkannya sendirian. Seulgi segera merapikan baju di lemari. Tidak banyak yang dibawakan oleh JHope, karena mengambilnya pun penuh resiko. Bagaimana jika ayahnya melihat JHope?. Lalu bagaimana dengan Oh Sehun, orang yang hampir menjadi calon suaminya?. Apakah ayahnya akan mencarinya?.
Beban pikirannya mengantarkannya untuk tidur pulas.

************************************************************************

 "Arghhh....".
Suara jeritan membawa Seulgi berlari ke lantai bawah. Dengan masih mengenakan piyama Seulgi mencari sumber suara. Ia melihat Suga dan adiknya - Jungkook, berlari menuruni tangga dengan tegesa-gesa. Sama paniknya dengan dirinya.
"Seulgi ya, ada apa?" tanya Suga.
"Entahlah...sepertinya dari halaman rumah" jawabnya singkat. Kemudian mereka mendapati salah satu dari tukang kebunnya meragkak menjauh dengan wajah ketakutan. Di depannya ada kardus besar.
"Ahjumma!!!...Ahjumma!!!" Suga memanggilnya berkali-kali, namun tak menanggapi.
"Jungkook...bawa ahjumma masuk...cepat!!!" Jungkook menuruti kakaknya, walaupun ia juga penasaran apa isi dari kardus yang besarnya hampir setengah tinggi badannya.

Kang Seulgi dan Suga membuka kardus, dan mereka berdua terkejut. Mereka menemukan tubuh asisten rumahnya, Kim ahjumma, dengan tangan terikat dan seragam maid yang biasa ia kenakan berlumuran darah. Wajahnya lebam, dari mulut dan hidung mengalir darah yang masih segar.

Seulgi hampir kehilangan kesadarannya, namun ia memegang erat lengan Suga agar ia tidak roboh. Air matanya mengalir dari kedua matanya. Suga berusaha mengangkat tubuh Kim ahjumma. namun kemudian,

Pluk..

Kepala Kim ahjumma jatuh tepat di kaki Seulgi.
"Aahh!!!" Kang Seulgi berteriak. Ia menatap kepala dengan wajah panik dan ia berusaha agar tidak memuntahkan isi perutnya., melihat darah mengalir dari leher yang terpotong.
Mengejutkan karena dia tidak pingsan. Setelah ia menenangkan detak jatungnya, menghela napas dalam-dalam, memberikan secarik kertas yang ditempelkan di tubuh Kim ahjumma. Dengan sungkan Suga mengambilnya, kemudian membacanya.

Min Yoongi,

Tentu ini tidak akan membuat mu membunuh diri mu kan?. Karena dia bukan siapa-siapa. Bagaimana jika aku membuat Jungkook seperti ini?. 
Ha, aku sudah tidak sabar.

Suga mengela napas dalam, tanganya mengepal menahan marah. Suga memalingkan wajahnya, rasa bersalah menghinggapinya seperti menagih bahwa ini adalah salahnya. Jika dia tak berurusan dengan orang itu pasti semua berjalan baik-baik saja.
"Hyung!!! Ada sesuatu di dalam sana?" Jugkook menghampiri Suga. Tidak mendapat jawaban kemudian dia mengalihkan pertanyaannya pada Seulgi, "Noona?". Karena keduanya diam, Jungkook mendekati kardus tersebut.

 "Jungkook jangan!!!" Suga memperingatkannya, namun terlambat karena dia telah membukanya dan melihat isinya.
"Hyung....Kim ahjumma, Hyung..." mata Jungkook berkaca-kaca.
"Apa kau tidak dengar aku bilang JANGAN?! Apa kau tuli?!" Suga naik pitam, membuat Seulgi tersentak. kemudian detik berikutnya  Seulgi melihat Suga merangkul Jungkook yang hampir menangis, membawanya masuk kedalam rumah, Seulgi yang masih di luar segera memanggil Polisi untuk membereskan masalahnya. Baru setelah ambulan datang dan membawa mayat Kim ahjumma, Seulgi bernapas lega.

**************************************************************************

Kang Seulgi

Hari sudah mulai sore, tapi aku tak melihat Suga maupun Jungkook. Aku harus segera menemui Suga, ini tentu bukan musuh biasa yang hanya mengirim bangkai binatang. Ini adalah masalah besar. Seseorang yang tidak bersalah kehilangan nyawa. Aku mengetuk pintu ruang kerjanya. Tidak ada suara, tapi aku yakin dia ada didalam. Aku memberanikan diri untuk masuk. Benar saja, dia sedang berdiri di jendela membelakangi ku.

"Apa Jungkook akan baik-baik saja?" tanya ku penasaran. Karena dilihat dari wajah Jungkook saat melihat mayat itu, dia seperti ingin berlari dan membalas kematian Kim ahjumma. Dia membalik badannya kemudian menatapku, tidak....dia menatap sesuatu, apa saja dibelakang ku, tapi tidak mataku.
"Tidak, Jungkook tidak baik-baik saja. Kim ahjumma adalah seperti ibu untuknya. Dia sudah bekerja sejak orang tua Jungkook-kita meniggal, usianya waktu itu lima tahun".
Dan pasti Suga juga menganggap Kim ahjumma seperti ibunya. Mereka sama-sama masih anak-anak saat orang tua mereka meninggal. Pantas saja mereka berdua terpukul. Tapi aku bisa melihat jika Jungkook paling kehilangan. Dan Suga hampir tidak memperlihatkan emosinya. Dia menyembunyikannya dengan sangat baik. Mungkin tidak ingin membuat adiknya lebih terluka?.

"Apa kau tahu siapa mereka?" aku tidak ingin bertanya lebih dalam tentang orang tuanya, karena aku yakin Suga ingin menguburnya dalam-dalam. Karena memberitahuku sepenggal saja sepertinya dia harus pikir-pikir dulu.

"Ya, dia adalah saingan bisnis" jawabnya.
"Bisakah kau memberiku nama?. Setidaknya aku tahu siapa musuh kita. Ok!!! aku hanya bekerja sebagai bodyguard, tapi aku berhak tahu siapa mereka" kataku berapi-api. Mendapat beberapa kejutan yang tak diignkan membuatku tidak nyaman. Melihat Suga yang terlihat tenang, kembali membuat ddarah ku mendidih. Apa susahnya dia mengatakan sebuah nama,

"Aku akan pergi sebentar, tolong jaga Jungkook" Suga meninggalkan ku tanpa petunjuk.
"Ok" hanya itu yang bisa ku katakan. Mungkin saja aku salah jika aku mengatakan bahwa dia tidak merasa bersalah. Bagaimana pun juga Kim ahjumma sudah lama berada dikehiduoan mereka, bukan?.

Ini untuk pertama kalianya melihat sesuatu yang mengerikan seperti ini. Apa aku sanggup melindungi mereka?. Kenapa aku menjadi ragu dengan keputusan ini.
Ahhh...harusnya aku pulang dan menikah dengan Oh Sehun. Setidaknya wajah Oh Sehun tampan.

Aku menghapus semua kejadian yang mengerikan dengan mengunjungi Jungkook yang dari tadi tak ku lihat batang hidungnya. Aku khawatir, dia sangat terpukul tadi. Mungkin akan lebih baik jika aku menemaninya.
Aku ketuk berkali-kali pintu kamarnya, tapi tak ada jawaban. Yang justru membuat ku semakin ketakutan. Aku tidak sabar. Takut jika terjadi apa-apa, aku mendobrak paksa pintu kamarnya.
Itu membuat engsel pintu jebol, nah mungkin aku keturunan Hulk?.

Aku mendapati Jungkook tertidur pulas. Meringkuk dan menyembunyikan wajahnya dibawah bantal. Pasti dia menangis.
"Jungkookie, bangun..." aku berusaha membangunkannya. Sedikit demi sedikit matanya terbuka.
"Oh, noona, ada apa?" tanyanya.
"Apa kau lapar? dari tadi pagi kau belum makan. Aku akan membuatkanmu sesuatu". Jungkook sama sekali tidak menolak. Wajahnya masih sembab dan matanya kemerahan.

"Duduklah..." Jungkook mengangguk pelan. Aku menyibukkan diri membuatkan Jungkook samgyetang. 
"Makanlah, ini akan menggantikan energi mu" kataku sambil tersenyum. Matanya bersinar dan ada sedikit senyum diwajahnya saat suapan pertama menyentuh lidahnya.
Nah, aku adalah koki terbaik.
"Terima kasih noona" wajah Jungkook kembali ceria. Aku tertawa melihat Jungkook makan seperti Vacuum Cleaner. Ahh...aku menginginkan adik laki-laki yang lucu seperti Kookie.



To be continue