Title : The Spine breaker
Chapter : Chapter I Chapter II Chapter III Chapter IV Chapter V Chapter VI
Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Cast : Kang Seulgi Red VelvetChapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Min Suga BTS
Jung Jungkook BTS
V BTS
Kai EXO
Oh Sehun EXO
Length : Chapter
Note : Saatnya Kang Seulgi memperlihatkan sisi Badass dan Smartass nya. Yeah!.
********************************************************************************
Suga tahu ada seseorang yang mengintai rumahnya. Ia bisa melihat dengan jelas dari layar security home system yang dipasang Seulgi kemarin. Tak perlu menebak siapa orang itu, karena pasti Oh Sehun akan menggunakan orang yang sama.
Ia terus mengamati gerak-gerik yang mencurigakan. Tidak mungkin Oh Sehun akan menerobos masuk dan membunuhku. Dia hanya ingin melihat ku sengsara dan stress.
Mengingat saat dia mengatakan bahwa dirinya memiliki sesuatu yang diinginkannya terus menghantuinya. Setiap kali Suga menemukan jawabannya tapi itu tidak sesuai dengan apa maunya Oh Sehun.
Sial. Dia seperti Gadis ingusan saja.
Hampir saja Suga menyemburkan kopi dimulutku, saat melihat orang itu membawa sebuah bingkisan. Panik.
"Oh!!!! dia tidak bermaksud meledakkan rumah ku dengan itu kan?" dia berlari ke pintu depan. Secepat mungkin.
Pintu terbuka lebar, tapi dia tidak menemukan siapa pun. Dia mengambil bingkisan yang terbungkus rapi dan kembali ke dalam rumah.
Penasaran ia membukanya.
Dia ingin muntah melihatnya. Di dalamnya ia menemukan kepala seekor anjing dengan jantung, usus dan segala isi perutnya. Hanya isi perutnya saja. Tanpa kaki, tanpa bulu dan tanpa daging.
Dia hanya mengambil kertas yang terselip di mulut bintang itu.
Oh...sepertinya kau tidak paham dengan jangan menyentuhnya.
Kau sangat keras kepala rupanya. Walaupun kau bersembunyi, aku masih bisa melihatnya.
Sudah, itu saja.
Suga terduduk lemas bersandar di dinding.
Kenapa?
Hanya itu pertanyaan yang melintas di kepalanya. Berurusan dengan Oh Sehun adalah kesalahan besar. Dia orang yang memiliki pengaruh besar dan akan melakukan apapun untuk yang menghalangi jalannya.
*********************************************************************************
Kang Seulgi
Aku tidak menyangka jika aku aku kembali ke rumah secepat ini. Baru melihatnya halamannya saja aku sudah merasa senang. Perasaan itukah yang sebenarnya tersembunyi selama ini. Perasaan ingin pulang dan merindukan ayah.
"Noona, ini rumah mu?" tanya Jungkook.
"Ah...iya..." jawabku canggung. Aku lihat ketiga bodyguard yang ternganga lebar melihat ku dengan Jungkoook.
"Agashi...?"
"Hai...semuanya..".
Langsung aku lempar kunci motor Ducati , dan salah satu dari mereka menangkapnya dan tersenyum.
Yeah...mereka tidak sedang bermimpi.
Mereka membuka pintu gerbang utama dan aku membawa Jungkook masuk kedalam rumah untuk istirahat.
Haha...pasti pantatnya sangat panas. Karena sejak berangkat dari Seoul, tidak sekalipun kita berhenti untuk istirahat. Sepanjang jalan Jungkook tak berhenti terkagum-kagum, aku bisa melihatnya. Pastilah akan takjub untuk anak seusianya. Beberapa dari mereka sedang berpatroli di sekitar halaman rumah. Disetiap menara ada penjaga dengan senjata masing-masing. Dan di halaman utama ada puluhan bodyguard yang sedang berlatih, Kai oppa yang mengawasi mereka.
"Kai Oppa!!!! ". Reaksinya sama seperti yang lain. Antara kaget dan tidak percaya melihat. Dan setelah memandangku beberapa detik lebih lama, dia kemudian berlari menghampiri ku.
"Princess??". Dan langsung memeluk ku.
"Seulgi ya!!!!". Namjoon oppa dan Jin oppa juga langung memelukku. Satu persatu mengecup kening ku.
"Kapan kau sampai?"
"Dimana saja kau selama ini, princess?"
"Kau sehat-sehat saja kan?"
Dan seterusnya. Mereka tak mau berhenti bertanya. Saling berebut dan menarik ku untuk berjalan disamping mereka. Sampai aku lupa jika Jungkook tertinggal dibelakang.
"Jungkook!!!" panggil ku yang sepertinya mengalihkan perhatiannya dari yang sedang ia lihat.
"Siapa dia?" tanya Namjoon, Kai dan Jin secara bersamaan yang bertanya dengan nada tidak suka. Membuat ku sedikit mengkerutkan dahi, possessive.
"Aku ceritakan nanti saja oppa, dia sama sekali belum istirahat"
"Jungkook, ayo....kau harus istirahat...akan aku tunjukkan kamar mu".
Kita berempat memasuki rumah, dan sudah ditunggu appa dan Jhope oppa di ruang tamu.
"Seulgi ya...syukurlah kau baik-baik saja, appa sangat khawatir dan takut jika terjadi sesuatu" Appa memelukku. Air mata tak tertahankan lagi, aku menangis.
"Appa maafkan Seulgi telah membuat appa khawatir. Aku selalu menyayangi appa, maafkan aku, Appa".
"Sudah....ssshhhhh.....yang terpenting kau kembali" appa mengusap air mata yang mengalir dipipi ku.
"Oh...siapa ini?" Tanyanya menunjuk Jungkook yang berdiri disebelah JHope.
"Ah...dia adalah adik teman ku". Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa ia adalah adik dari bos, tapi takut jika nanti appa mengangkat senjata dan memburu Min Suga.
"Annyeonghaseo, Jungkook imnida".
"Ahh...aku selalu menginginkan anak laki-laki".
"Appa, biarkan Jungkook istirahat. Dan nanti aku ingin membicarakan sesuatu yang penting". Aku mengantarkan Jungkook untuk istirahat, ruangannya persis disebelah kamar ku.
"Noona, aku tidak tahu jika ayah noona sangat keren. Kau lihat orang-orang diluar tadi? mereka semua memiliki tato. Ugh...juga ingin ditato, tapi Suga hyung pasti akan menggosok kulit ku sampai tatonya mengelupas". Aku hanya tersenyum mendengarnya. Membayangkan Suga marah besar sambil berkacak pinggang, menggelikan.
*********************************************************************
Mereka memiliki ekspresi yang berbeda. Dari mulai Appa yang sedikit marah, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga jari-jarinya memutih. Namjoon, Kai dan Jin dengan wajah kasihan dan JHope yang biasa-biasa saja karena dia pasti sudah tahu dari Suga.
Setelah aku menceritakan dari awal, kepergian ku dari rumah dan akhirnya menjadi seorang bodyguard.
Syukurlah appa tidak memarahi ku karena pilihan ku yang membahayakan diri ku sendiri.
"Suga tidak mengatakan siapa yang terus mengancamnya. Dia hanya mengatakan bahwa dia adalah rival bisnisnya. Dia membuat ku frustasi".
"Appa akan membantu menemukannya. Tapi, kau harus menjauhi masalah ini. Serahkan saja semuanya pada Namjoon, Kai , Jin dan JHope. Mereka lebih tahu apa yang harus dilakukan".
Tanpa meminta pun appa sudah menawarkan, tapi kenapa aku harus melihat saja. Aku juga ingin membantu Suga dan Jungkook. Aku khawatir dengan Min Suga. Bagaimana Jika terjadi sesuatu dengannya?. Bagaimana jika dia mati, sebelum aku sempat menciu...
Eeeiittt....kenapa aku jadi mengarah kesana....
"Tapi...ini adalah tanggung jawab ku, tidak mungkin aku main angkat tangan saja". Aku berharap appa merubah keputusannya.
"Tidak!!!" appa menaikkan suaranya "ini sangat berbahaya, kau saja tidak tahu berurusan dengan siapa, bagaimana musuhmu. Dan kau ingin merangsek maju begitu saja?"
"Tapi....". Kemudian dipotong oleh JHope oppa yang membenarkan keputusan appa. Saat aku meminta bantuan Namjoon dan Jin, mereka juga beranggapan sama. Bahkan Kai juga.
"Baiklah...Tapi bolehkan Jungkook untuk sementara disini?".
"Tentu saja, dia lebih aman disini. Dan anak imut itu mungkin akan betah disini" Jin dan Kai menanggapi.
"Appa akan mengirimkan orang-orang terbaik untuk ke Seoul untuk menjadi bodyguard untuk Min Yoongi".
Kalau Suga mendengar ia dipanggil Min Yoongi, dia bisa memalik meja dan kursi. Psssttt... aku menahan tawa.
Ahh...aku merindukannya. Ups.
********************************************************************
"Hai...." suaranya terdengar lelah.
"Hai..." sapa ku. Lama tidak bersuara. "Apa kau baik-baik saja?" tanyaku padanya. Yang mungkin tidak baik-baik saja. Mungkin aku hanya ingin terdengar peduli dan.....
"Yeah...bagaimana kabar Jungkook?"
Ugh...dia tidak menanyakan kabar ku terlebih dulu.
Ya!!! dasar bodoh. Dia bukan siapa-siapa mu, kau ingat itu.
"Dia baik-baik saja. Sedang bermain dengan teman-teman ku" aku melihat keluar jendela kamar ku. Melihat Jungkook bersama JHope dan Namjoon di pinggir arena tempat biasanya aku berlatih. Jungkook terlihat antusias melihat Kai mengajari beberapa anak buah ayahnya.
"Kapan kau pulang ke Seoul?".
"Apa kau rindu padaku?" separuh bercanda dan separuh berharap Suga akan mengatakan , iya.
"Sedikit...rasanya beda tidak ada kau dan Jungkook".
Nah, dia sangat sulit untuk dipancing rupanya.
"3 hari lagi" kataku.
"Apanya?"
"Ckck...Pulang ke Seoul, bodoh!!!"
"Apa kau baru saja mengatai ku bodoh?!!"
"HAHAHAHAHAHA....." aku tidak tahan untuk tertawa, wajahnya pasti sangat lucu.
"Jika kau terus tertawa, aku tutup teleponnya" Oh....mengancam. Hahaha....
"Kau seperti anak ingusan yang mengancam pacarnya karena menertawakan kebodohannya".
"Terserah..." kemudian sambungan terputus.
Aku menggeleng heran dengan tingkahnya. Kadang dia sangat dingin dan detik berikutnya dia seperti anak tiga tahun yang merengek minta lolipop.
To Be Continue
Sorry merry strawberry....
ini seperti chapter...entahlah...
hwehehehe....
Aku tidak menyangka jika aku aku kembali ke rumah secepat ini. Baru melihatnya halamannya saja aku sudah merasa senang. Perasaan itukah yang sebenarnya tersembunyi selama ini. Perasaan ingin pulang dan merindukan ayah.
"Noona, ini rumah mu?" tanya Jungkook.
"Ah...iya..." jawabku canggung. Aku lihat ketiga bodyguard yang ternganga lebar melihat ku dengan Jungkoook.
"Agashi...?"
"Hai...semuanya..".
Langsung aku lempar kunci motor Ducati , dan salah satu dari mereka menangkapnya dan tersenyum.
Yeah...mereka tidak sedang bermimpi.
Mereka membuka pintu gerbang utama dan aku membawa Jungkook masuk kedalam rumah untuk istirahat.
Haha...pasti pantatnya sangat panas. Karena sejak berangkat dari Seoul, tidak sekalipun kita berhenti untuk istirahat. Sepanjang jalan Jungkook tak berhenti terkagum-kagum, aku bisa melihatnya. Pastilah akan takjub untuk anak seusianya. Beberapa dari mereka sedang berpatroli di sekitar halaman rumah. Disetiap menara ada penjaga dengan senjata masing-masing. Dan di halaman utama ada puluhan bodyguard yang sedang berlatih, Kai oppa yang mengawasi mereka.
"Kai Oppa!!!! ". Reaksinya sama seperti yang lain. Antara kaget dan tidak percaya melihat. Dan setelah memandangku beberapa detik lebih lama, dia kemudian berlari menghampiri ku.
"Princess??". Dan langsung memeluk ku.
"Seulgi ya!!!!". Namjoon oppa dan Jin oppa juga langung memelukku. Satu persatu mengecup kening ku.
"Kapan kau sampai?"
"Dimana saja kau selama ini, princess?"
"Kau sehat-sehat saja kan?"
Dan seterusnya. Mereka tak mau berhenti bertanya. Saling berebut dan menarik ku untuk berjalan disamping mereka. Sampai aku lupa jika Jungkook tertinggal dibelakang.
"Jungkook!!!" panggil ku yang sepertinya mengalihkan perhatiannya dari yang sedang ia lihat.
"Siapa dia?" tanya Namjoon, Kai dan Jin secara bersamaan yang bertanya dengan nada tidak suka. Membuat ku sedikit mengkerutkan dahi, possessive.
"Aku ceritakan nanti saja oppa, dia sama sekali belum istirahat"
"Jungkook, ayo....kau harus istirahat...akan aku tunjukkan kamar mu".
Kita berempat memasuki rumah, dan sudah ditunggu appa dan Jhope oppa di ruang tamu.
"Seulgi ya...syukurlah kau baik-baik saja, appa sangat khawatir dan takut jika terjadi sesuatu" Appa memelukku. Air mata tak tertahankan lagi, aku menangis.
"Appa maafkan Seulgi telah membuat appa khawatir. Aku selalu menyayangi appa, maafkan aku, Appa".
"Sudah....ssshhhhh.....yang terpenting kau kembali" appa mengusap air mata yang mengalir dipipi ku.
"Oh...siapa ini?" Tanyanya menunjuk Jungkook yang berdiri disebelah JHope.
"Ah...dia adalah adik teman ku". Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa ia adalah adik dari bos, tapi takut jika nanti appa mengangkat senjata dan memburu Min Suga.
"Annyeonghaseo, Jungkook imnida".
"Ahh...aku selalu menginginkan anak laki-laki".
"Appa, biarkan Jungkook istirahat. Dan nanti aku ingin membicarakan sesuatu yang penting". Aku mengantarkan Jungkook untuk istirahat, ruangannya persis disebelah kamar ku.
"Noona, aku tidak tahu jika ayah noona sangat keren. Kau lihat orang-orang diluar tadi? mereka semua memiliki tato. Ugh...juga ingin ditato, tapi Suga hyung pasti akan menggosok kulit ku sampai tatonya mengelupas". Aku hanya tersenyum mendengarnya. Membayangkan Suga marah besar sambil berkacak pinggang, menggelikan.
*********************************************************************
Mereka memiliki ekspresi yang berbeda. Dari mulai Appa yang sedikit marah, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga jari-jarinya memutih. Namjoon, Kai dan Jin dengan wajah kasihan dan JHope yang biasa-biasa saja karena dia pasti sudah tahu dari Suga.
Setelah aku menceritakan dari awal, kepergian ku dari rumah dan akhirnya menjadi seorang bodyguard.
Syukurlah appa tidak memarahi ku karena pilihan ku yang membahayakan diri ku sendiri.
"Suga tidak mengatakan siapa yang terus mengancamnya. Dia hanya mengatakan bahwa dia adalah rival bisnisnya. Dia membuat ku frustasi".
"Appa akan membantu menemukannya. Tapi, kau harus menjauhi masalah ini. Serahkan saja semuanya pada Namjoon, Kai , Jin dan JHope. Mereka lebih tahu apa yang harus dilakukan".
Tanpa meminta pun appa sudah menawarkan, tapi kenapa aku harus melihat saja. Aku juga ingin membantu Suga dan Jungkook. Aku khawatir dengan Min Suga. Bagaimana Jika terjadi sesuatu dengannya?. Bagaimana jika dia mati, sebelum aku sempat menciu...
Eeeiittt....kenapa aku jadi mengarah kesana....
"Tapi...ini adalah tanggung jawab ku, tidak mungkin aku main angkat tangan saja". Aku berharap appa merubah keputusannya.
"Tidak!!!" appa menaikkan suaranya "ini sangat berbahaya, kau saja tidak tahu berurusan dengan siapa, bagaimana musuhmu. Dan kau ingin merangsek maju begitu saja?"
"Tapi....". Kemudian dipotong oleh JHope oppa yang membenarkan keputusan appa. Saat aku meminta bantuan Namjoon dan Jin, mereka juga beranggapan sama. Bahkan Kai juga.
"Baiklah...Tapi bolehkan Jungkook untuk sementara disini?".
"Tentu saja, dia lebih aman disini. Dan anak imut itu mungkin akan betah disini" Jin dan Kai menanggapi.
"Appa akan mengirimkan orang-orang terbaik untuk ke Seoul untuk menjadi bodyguard untuk Min Yoongi".
Kalau Suga mendengar ia dipanggil Min Yoongi, dia bisa memalik meja dan kursi. Psssttt... aku menahan tawa.
Ahh...aku merindukannya. Ups.
********************************************************************
"Hai...." suaranya terdengar lelah.
"Hai..." sapa ku. Lama tidak bersuara. "Apa kau baik-baik saja?" tanyaku padanya. Yang mungkin tidak baik-baik saja. Mungkin aku hanya ingin terdengar peduli dan.....
"Yeah...bagaimana kabar Jungkook?"
Ugh...dia tidak menanyakan kabar ku terlebih dulu.
Ya!!! dasar bodoh. Dia bukan siapa-siapa mu, kau ingat itu.
"Dia baik-baik saja. Sedang bermain dengan teman-teman ku" aku melihat keluar jendela kamar ku. Melihat Jungkook bersama JHope dan Namjoon di pinggir arena tempat biasanya aku berlatih. Jungkook terlihat antusias melihat Kai mengajari beberapa anak buah ayahnya.
"Kapan kau pulang ke Seoul?".
"Apa kau rindu padaku?" separuh bercanda dan separuh berharap Suga akan mengatakan , iya.
"Sedikit...rasanya beda tidak ada kau dan Jungkook".
Nah, dia sangat sulit untuk dipancing rupanya.
"3 hari lagi" kataku.
"Apanya?"
"Ckck...Pulang ke Seoul, bodoh!!!"
"Apa kau baru saja mengatai ku bodoh?!!"
"HAHAHAHAHAHA....." aku tidak tahan untuk tertawa, wajahnya pasti sangat lucu.
"Jika kau terus tertawa, aku tutup teleponnya" Oh....mengancam. Hahaha....
"Kau seperti anak ingusan yang mengancam pacarnya karena menertawakan kebodohannya".
"Terserah..." kemudian sambungan terputus.
Aku menggeleng heran dengan tingkahnya. Kadang dia sangat dingin dan detik berikutnya dia seperti anak tiga tahun yang merengek minta lolipop.
To Be Continue
Sorry merry strawberry....
ini seperti chapter...entahlah...
hwehehehe....






