Title : The Spine breaker
Cast : Kang Seulgi Red Velvet
Min Suga BTS
Jung Jungkook BTS
V BTS
Kai EXO
Oh Sehun EXO
Length : Chapter
Note : Ini dia Chapter 9
******************************************************************************
Min Suga/Yoongi
Tidak ada dampak yang serius dengan perusahaan ternyata. Oh Sehun sudah tidak menyentuh bagian itu lagi. Tapi yang lain. Mana aku tahu apa itu. Dia hanya seorang psycho, gila, tidak waras.
Tapi orang-orang di sekitarnya tidak ada yang berani membuatnya masuk ke rumah sakit jiwa. Bahkan jika dia nanti terpilih sebagai anggota dewan, mungkin yang memilihnya adalah sama sakitnya dengan Oh Sehun.
Oh Sehun seorang saja membuatku melupakan kalau Jungkook dan Seulgi belum juga kembali ke Seoul. Huh!! Mereka lebih suka menghabiskan waktu tanpa ku. Dan mereka suka membuatku makan sendirian di meja makan.
Memandang ke depan, aku melihat Kang Seulgi duduk menikmati makanannya sambil sesekali melihat kearah ku, tak lupa dengan senyuman dan kedipan mata.
Ke samping, aku melihat Jungkook sibuk dengan ponselnya, kebiasaan buruk yang harus aku peringatkan nanti.
Tentu saja bayangan keduanya hanyalah imajinasi saja, seandainya mereka berdua di rumah. Karena pada kenyataannya memang aku makan sendiri.
Suara alarm memecah lamunan ku. Detik selanjutnya alarm mati. Itu sangat tidak biasa. Alarm akan terus berbunyi samapi aku mematikannya. Pasti ada seseorang di dalam rumah. Dengan sigap aku berlari ke kamar Seulgi. Aku tahu pasti dimana Sulgi meletakkan pistolnya.
Setelah senjata ditangan, aku harus mencari tahu siapa yang berani menerobos ke dalam rumah. Jujur saja, aku tidak pernah menembak mati seseorang. Jika nanti ada yang terbunuh dengan tanganku, itu hanya karena ingin melindungi diri.
Dibeberapa ruangan yang aku lewati, tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Tapi saat melihat tirai jendela di ruang keluarga yang berkelebat tertiup angin, keraguan ku meningkat.
Aku mendekati jendela dan menutupnya, namun tiba-tiba listrik mati. Bagus!! gelap dan kesempatan untuk menangkap mereka semakin kecil.
Aku mengarahkan senjata yang tak pernah lepas dari tangan ku - hidup ku tergantung dengan senjata ini. Menyesuaikan penglihatan, aku memutar langkah ke ruang tamu. Mungkin keluar dari rumah ini adalah pilihan yang terbaik.
Bukk!!!
Sakit luar biasa di leher bagian belakang.
Bukk!!!
Pukulan kedua, aku jatuh tersungkur. Membuat senjata terlepas dari tangan, salah satu dari mereka menendangnya jauh dari jangakauan ku. Pandangan ku mulai kabur. Samar-samar ada beberapa orang yang mengelilingi ku. Apalagi dalam kedaan gelap. Benar-benar tidak ada ide apa yang terjadi.
Bukk!!!
Bukk!!!
Berkali-kali mereka menendang bagian rusuk, punggung dan kepala. Aku hanya mengerang kesakitan. Sial!!! mereka membuatku seperti kantong tinju yang isinya pasir. Setiap inch tulang ku seperti dicabut satu per satu.
*********************************************************************************
Kang Seulgi
"Hai....." Suara Oh Sehun di ujung telepon.
"Oh, Hai!!?" jawabku, canggung. Ini adalah ke lima kalinya dia menelpon ku dalam sehari. Dan membuat ku lupa jika aku belum memberi kabar Min Suga.
"Bagaiman hari mu?" tanyanya.
"Kau yakin bertanya itu lagi? . Aku sudah menjawabnya beberapa jam yang lalu dari pertanyaan yang sama. Hahahaha....kau sangat aneh Oh Sehun"
Oh Sehun adalah tipe yang mudah tersinggung jika aku menjawab tidak sesuai yang dia inginkan. Aku mulai sadar itu setelah beberapa kali bertemu dengannya.
"Aku ingin kau tinggal di Seoul bersama ku" selalu begitu, tiba-tiba. Aku sudah memberinya alasan kenapa aku tidak menerima semua tawarannya. Meskipun dia menawarkan langit beserta bintangnya. Hey...dia tidak akan sanggup mengambilnya, itu hanya ada dicerita roman bo'ongan.
"Aku menyukai orang lain, Oh Sehun sii"
"Jadi sekarang kau bicara pada ku seolah aku orang lain?" lama aku mencerna maksud kata-katanya. Baru aku sadar jika 'ssi' menyinggung perasaannya.
"Ok, aku minta maaf, Sehunie...Ak.."
"Nah...itu terdengar lebih baik" dia suka sekali memotong pembicaraan orang.
"Bisakah kau membiarkan aku selesai bicara tanpa kau memotongnya?" kesabaranku sudah diujung lidah.
"Jadi kau mau tinggal bersama ku?"
Ya Tuhan....Dia susah sekali untuk mengerti. Syukurlah aku menolak lamarannya. Karena kata 'tidak', tak berlaku di otaknya. Apakah dia pernah tertabrak truk besar dan merusak otaknya?.
"Tidak, aku tidak mau. Aku menyukai Min Suga. Dan aku tidak ingin tinggal serumah dengan mu".
Apakah aku baru saja menyebutkan Min Suga?.
Oh!!!. Dasar bodoh. Tapi mungkin saja Oh Sehun tidak mengenal siapa Min Suga.
"Jadi karena Min Yoongi?. Hemm...aku tahu".
Dan Oh Sehun menutup teleponnya.
Mengehela napas dalam-dalam. Tapi perasaan itu tidak hilang. Aku hanya ingin pulang ke Seoul dan bertemu dengan Min Suga. Berada di dekatnya seperti menghilangkan kekhawatiran yang selama ini meneror hidupnya. Setiap kali melihat wajahnya yang penuh dengan aku-ingin-membunuh-manusia itu, membuat aku ingin memeluknya dan membantunya. Aku akan memberinya apa saja yang membuatnya bahagia.
Aku sudah melihat bagaimana perubahan dari tatapan matanya saat pertama kali aku melihatnya dan sekarang.
Jauh, jauh berbeda. Dia lebih sering tersenyum dan lebih hidup. Jarang sekali murung. Jika ini karena aku, maka dengan senang hati akan terus berusaha agar senyumnya tetap berada disana.
Memikirkannnya, membuat aku ingin mendengar suaranya. Akan aku ingat jauh seperti ini tidak baik untuk kesehatan pikiran.
Tidak ada jawaban.
Entah apa yang dia lakukan sehingga tidak mengangkat ponselnya.
Aku mulai panik. Aku tahu dia sudah besar dan bisa menjaga diri. Tapi...aku masih resah.
Suara di pojok pikiran ku mengatakan bahlwa ada yang tidak beres.
"Kookie, besok pagi kita akan berangkat ke Seoul" Jungkook langsung berhenti di tempat dan memberi tatapan tanda tanya pada ku.
"Emmm...bukankah kita sudah terlalu lama disini, lagi pula kau harus melanjutkan sekolah mu bukan?"
Tidak mungkin jika aku mengatakan padanya bahwa ada firasat buruk tentang Suga. Dan sepertinya Jungkook memakan omongan ku karena dia mengangguk setuju.
Ke Seoul tanpa persiapan itu namanya bunuh diri. Maka dari itu aku segera menemui Namjoon, JHope dan Jin. Oh tak ketinggalan Kai untuk membantuku jika dibutuhkan.
Lalu disinilah mereka. Duduk berdempet-dempetan karena mereka terus saja adu argumen soal boleh tidaknya aku ke Seoul. Bahkan Namjoon beranggapan lebih baik aku tetap disini. Mengingat jauhnya jarak Seoul dari sini, dan menuggu aku memanggil mereka untuk bantuan adalah ide buruk.
"Bagaimana jika kalian...kalian...dan kalian" aku menunjuk satu per satu "sementara tinggal di rumah JHope?" melihat wajah mereka satu per satu yang sepertinya sedikit keberatan. Bukan berarti mereka keberatan membantu ku, aku paham itu. Tapi mereka menyelamatkan kepala mereka masing-masing dari appa.
"Tidak perlu membawa orang banyak. Cukup untuk merobohkan basecamp musuh" canda ku. Mereka hanya mengangguk pelan, seperti tidak yakin dengan rencana ku.
Aku anggap mereka setuju. Walaupun aku melihat Kai oppa terus mengekrutkan wajahnya, berpikir keras. Yang aku rasa kan berdampak dengan mengkerutnya otak, maksudnya semakin tidak terkendali bodohnya.
Tanpa membuang waktu aku juga berkemas. Setelah sebelumnya Jungkook selesai mengepak semua barang-barangnya. Aku menarik koper besar dari tempat penyimpanan.
Didalamnya ada Sniper yang aku gunakan dulu sewaktu berlatih dengan JHope oppa. Dua selongsong peluru. Rompi anti peluru, maglite torch untuk meminimalkan cahaya saat aku membaca peta walaupun aku belum memiliki gambaran keadaan disana, Binocular untuk observasi, dan perlengkapan lainnya yang aku butuhkan.
Sekarang aku sudah seperti ingin pergi berperang sendirian. Menyelamatkan Damsel in Distress.
To be continue
tinggal beberapa chapter lagi......






