Sunday, July 19, 2015

FanFics : My Fox Mate ( Chapter 5 )




Title     : My Fox Mate

Cast      : Byun Baekhyun EXO
               Hani EXID
               D.O / Kyungsoo EXO
              Yura Girls Day

Length : Chaptered

*******************************************************************************

Sore hampir menjelang.  Malam nanti adalah bulan purnama.  Aku mulai khawatir,  Belum juga menemukan tempat tinggal. Bahkan dua hari ini perut ku belum terisi. Aku bisa merasakan energy yang tersisa tinggal sejengkal.
Aku tidak bisa mengambil resiko , karena hari masih terang. Lapar pun aku tahan, walaupun tikus-tikus kecil yang monda-mandir di depanku tampak menggoda.  Aku tahu Ahn Heeyeon  menampakkan barisan giginya yang membuat tikus-tikus itu berlarian menyelamatkan diri.

'Ahn Heeyeon jangan sampai kau makan tikus-tikus itu, binatang itu sangat menjijikan'.
Ahn Heeyeon tidak menjawabku.  Konsentrasinya hanya pada rasa lapar.  Aku tidak ingin binatang menjijikkan itu masuk kedalam perut ku.  Merebahkan tubuh ku diantara semak-semak, menunggu matahari kembali ke barat sangatlah menyebalkan. Apalagi dengan pendegaranku yang sangat sensitive, ternyata manusia itu sangat berisik.

'Ahn Heeyeon!! , bagaimana jika kita tidak bisa menemukannya?' tanya ku mencoba mengalihkan perhatiannya.

'Kau terdengar sangat tidak yakin. Tenang saja, ada ikatan yang akan menarik jiwa yang terpisahkan untuk bersatu. Kalau pun kita menemui kesulitan, akan ada yang membantu kita.  Kau ingat kenapa tiba-tiba mereka membuat kita dibuang disini? Kenapa mereka tiba-tiba membuat jiwa kita menjadi dua bagian dan meminta kita untuk mendari separuhnya? Karena mereka tidak ingin kita melakukan hal itu lagi' .
 Ahn Heeyeon terdengar bijaksana kali ini. Benar, mereka tidak ingin aku merebut kekasih mereka. Dan ini bukan salah ku karena aku memiliki wajah yang menawan, memikat siapa saja yang memandang ku.  Buka pula salah ku karena aku memiliki tubuh yang menjadi impian dan imajinasi gila dari setiap laki-laki. Aku tidak menginginkan semua perhatian itu karena hanya mendatangkan kebencian.

'Kau benar, dari cerita yang dulu, seekor rubah putih tidak pernah memiliki pasangan. Dia adalah makhluk kesepian sehingga merusak cinta yang dimiliki rubah yang lain. Dan karena dia iri dengan cinta itu, dia membunuh dengan mengambil jantung dari setiap yang jatuh diperangkapnya.'.
Sedikit ngeri menceritakan itu kembali. Tidak sedikit dari teman-teman ku yang menjauhkan diri karena aku seekor rubah putih.

'Tapi kita tidak seperti itu. Dan orang-orang disekitar kita membantu agar kejadian seperti itu tidak terulang.  mereka berhasil mencegah kita agar tidak menjadi seorang pembunuh'.

Aku tidak mungkin melupakannya. Kejadian mengerikan itu seperti baru beberapa hari yang lalu. Bagaimana nanti jika aku bertemu dengannya? Aku sudah hampir membunuhnya. Jika dia memanggilku monster pantaslah atas apa yang aku lakukan padanya. Jika saja eomma tidak menyadarkan ku, mungkin aku sudah mengambil jatungnya.

Jangan dipikirkan, kejadian itu tidak sengaja. Itu adalah insting yang sama dari setiap rubah putih”.
Kata-kata Ahn Heeyeon tidak sampai di hati. Aku tetap merasa bersalah. Saat itu yang ada di mataku hanya warna merah darah dan bisikan ‘ambil jantungnya, karena kau tak akan pernah memilikinya’.

Kau pasti terlalu banyak berpikir. Hey....ini sudah malam, apa kau tidak ingin menggerakkan kaki malas mu?’.

Oh!!! Aku lupa.
Tidak ada bedanya malam dan siang. Aku pikir manusia adalah makhluk paling berisik.  
Krruukkkk...kruuukkkk....

Ha!!!....lapar bukan? Aku sudah hampir memakan bintang itu, tapi kau menolaknya’ sungut Ahn Heeyeon kesal.

‘Sttt....bulan sudah bersinar penuh. Aku pikir ini saatnya’

Selalu sama saat aku berubah wujud. Tulang belakang ku terasa tidak nyaman, berganti posisi. Bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuh ku masuk ke dalam kulit. Moncong hidung ku memendek, begitu juga dengan telinga ku. Tak sampai lima menit , aku kembali ke wujud ku yang lama aku rindukan. Aku bisa merasakan kemampuan yang sudah terbuka mengalir di dalam darah ku.  
Rambut panjang ku tergerai, menutupi bagian atas tubuh ku. jangan dikira saat berubah wujud aku mengenakan baju. Tidak. Tubuh ku tidak tertutup sehelai benang pun.  Untunglah pemilik toko kue itu seorang wanita tua, yang jika dihitung dalam umur manusia sekitar tujuh puluh tahun.

“Permisi....” sapa ku ramah. Wanita tua itu tidak langsung menjawabnya. Seperti menace arah sumber suara yang saat itu juga aku tahu jika wanita tua itu sudah berkurang pendengarannya.

“Ohh...aku tidak melihatmu datang” katanya saat melihat ku berdiri dihadapannya. Kemudian wantia itu memandang ku heran, mungkin karena aku tanpa baju.

“Kau tahu jika udara diluar sana dingin bukan?” tanyanya.

“Maaf bibi, aku tidak memiliki uang untuk membeli pakaian” aku tidak berbohong padanya.

“Kemarilah, aku akan memberikan mu baju yang hangat. “ aku hanya menurut saja. Kemudian wanita itu membawaku naik ke lantai dua.

“Ini adalah milik cucu ku, tapi jangan khawatir dia tidak akan bangkit dari kubur hanya karena baju ini aku berikan pada mu” dibalik senyumnya, aku tahu jika ia merasa kehilangan dan kesepian. Dan karena aku tak melihat orang lain selain wanita tua dihadapan ku.

“Terima kasih bibi, ini lebih dari cukup”. Tapi kemudian perut ku yang lapar berbunyi nyaring. Hingga membuat kita berdua tertawa.

“Aku yakin ‘lebih dari cukup’ sudah tidak dipakai lagi. Kau bisa makan malam disini”.
Kemudian aku dibawa ke dapur. Tidak banyak yang bisa aku lihat dalam rumah ini. Selain hanya oven yang biasa untuk memanggang kue. Dan perabotan dapur yang sederhana.

“Maaf hanya ini yang bibi punya. Akhir-akhir ini toko selalu sepi. Oh...aku belum tahu siapa nama mu dan dimana keluarga mu tinggal” katanya sembari meletakkan dua potong kue dihadapan ku.
Tidak mungkin aku mengatakan tempat asal ku. Bisa dikir aku orang gila.

“Nama ku Hani, bibi. Dan orang tua ku meninggal beberapa tahun yang lalu” maafkan aku appa , eomma aku menyayangi kalian. Amat...sangat.

“Jika tidak keberatan, kau bisa tinggal disini dan membantu bibi berjualan kue” tanpa diminta pun sudah ditawari. Oh...moon goddess....kau baik sekali.

“Benarkah?!! Terima kasih bibi” kue yang masih separuhnya menggantung dimulutku jatuh saat aku memeluknya erat.

“Istirahatlah..besok pagi kita mulai bekerja”.

Untunglah masih ada yang sebaik orang itu. Setidaknya aku tidak tidur di alam terbuka malam ini.
Dan perasaan ku mengatakan jika aku semakin dekat dengan kebahagiaan ku. 

To Be Continue