Title : The Spine Breaker
Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Cast : Kang Seulgi Red Velvet
Min Suga BTS
Jung Jungkook BTS
V BTS
Kai EXO
Oh Sehun EXO
Length : Chapter
Min Yoongi / Min Suga
Selamanya akan menjadi mimpi buruk. Selamanya luka itu akan meninggalkan bekas.
Itu tersimpan dalam, di pikiranku. Masih tersimpan dendam sebenarnya. Jika Oh Sehun masih hidup. Tapi aku tak pernah menemukan bangkainya di tumpukan bangunan Villa yang dibakar hangus hingga rata dengan tanah.
Dia bukan manusia. Aku akan menganggapnya jika waktu itu, saat aku memohon agar dilepaskan dia menurutinya. Tapi tidak, waktu itu dia hanya melihatku dengan ekspresi kosong.
Aku pendam dendam itu sehingga Seulgi tidak terlalu khawatir. Di kehamilannya yang menginjak 24 minggu, aku tidak akan membuatnya stress.
Dia tidak pernah mengeluh atau punya niat meninggalkan ku. Bahkan saat aku bersikap dingin padanya, di bulan-bulan pertama setelah kejadian itu. Waktu itu aku baru saja keluar dari rumah sakit. Dengan trauma besar aku kembali, sampai aku tidak memperhatikan keluarga ku yang berusaha membantu. Bahkan aku mengurung diri dan mendorong mereka pergi.
Saat melihat wajah Seulgi yang terlihat lelah dan selalu ada bekas air mata setiap malam, akhirnya meluluhkan keras kepala ku. Menghilangkan ketakutan dan menumbuhkan keinginan ku untuk keluar dari masa-masa berat.
Dan saat Seulgi menyarankan ku agar aku menemui dokter, jujur saja aku sedikit tersinggung. Dalam benak ku, mungkin dia sudah lelah dengan sikap ku dan menganggap ku gila. Tapi Kang Seulgi meyakinkan ku, dia menginginkan ku untuk kembali seperti saat semua ini belum terjadi.
Apalagi yang tidak bisa diluluhkan cinta, tidak satu pun.
Aku sadar aku tidak ingin orang lain yang mengatakan bahwa semua sudah berlalu. Aku hanya ingin Seulgi yang mengatakan itu. Di samping ku setiap malam, mengusir iblis yang mengganggu tidur ku.
Dan mulailah aku terapi. Awalnya sangat sulit, karena aku merasa mereka hanya pura-pura merasakan hal yang sama dengan yang aku lalui. Mereka tidak akan bisa membayangkan apa yang aku lalui pun tidak berharap itu terjadi pada mereka. Sampai sekarang tidak banyak yang aku katakan. Bagian tergelap aku simpan sendiri sebagai pengingat.
Sulgi selalu bertanya apa yang terjadi selama aku disana. Aku tak pernah menjawabnya. Mengalihkan pembicaraan adalah pilihan tepat. Mungkin karena lelah bertanya, akhirnya berhenti dengan sendirinya. Aku tak siap untuk menceritakan pada siapa pun.
Aku sudah tidak lagi terapi. Dokter telah menyatakan bahwa aku sembuh dari trauma. Tapi sekali lagi, dia adalah dokter bukan Tuhan. Tapi aku tidak menyangkal jika aku memang semakin membaik. Jungkook juga telah mengatakan hal yang sama. Tak lupa juga dengan dua idiot. Mereka berkata sekarang aku lebih sering tersenyum.
Oh ini karena kabar bahagia. Kang Seulgi sedang isi.
Isi apakah?
Jajangmyun, samgyupsal?
Bukanlah....Jadi bagaimana Kang Seulgi bisa hamil?.
Oh jangan bayangkan. Yang pasti kita sudah resmi mengikat janji di depan altar. Mengingat kembali saat itu membuat ku tersenyum. Hari dimana aku tahu aku sangat mencintainya. Wanita yang menjadi Superhero di dalam hidup ku.
Walaupun sejak saat itu dia sangat protektiv, dia selalu memaksa agar aku membawa selusin pengawal kemana pun aku pergi. Jadi jika ada bisnis keluar korea harus dengan jet pribadi. Dan sebagian besar ruangan dalam jet dipakai oleh para pengawal. Aku mirip titik kecil dilautan bodyguard.
Aku tidak bisa menolak, tidak mau Seulgi menyelamatkan ku dua kali. Setelah melalui pertimbangan yang panjang, dan disertai dengan janji-janji manis dari Seulgi akhirnya aku menurut. Yang ditanggapi gelengan kepala oleh Abonim.
Ahh...hari ini pun Seulgi masih murung dan cemberut. Saat dia meminta pendapat ku tentang baju renangnya, aku bilang dia sangat cantik namun baju renangnya terlalu kecil. Tapi dia malah marah karena aku mengatakan dia gendut. Padahal tidak satu kata pun yang keluar dari mulut ku ada kata 'gemuk'.
Tapi memang dia sudah mulai gemuk, dengan usia kehamilannya yang masuk minggu ke 28 minggu. Gendut yang membuat ku bahagia.
"Yeobo!!! "
***********************************************************************
1 Tahun kemudian.....
1 Tahun kemudian.....
Min Yoongi / Min Suga
Selamanya akan menjadi mimpi buruk. Selamanya luka itu akan meninggalkan bekas.
Itu tersimpan dalam, di pikiranku. Masih tersimpan dendam sebenarnya. Jika Oh Sehun masih hidup. Tapi aku tak pernah menemukan bangkainya di tumpukan bangunan Villa yang dibakar hangus hingga rata dengan tanah.
Dia bukan manusia. Aku akan menganggapnya jika waktu itu, saat aku memohon agar dilepaskan dia menurutinya. Tapi tidak, waktu itu dia hanya melihatku dengan ekspresi kosong.
Aku pendam dendam itu sehingga Seulgi tidak terlalu khawatir. Di kehamilannya yang menginjak 24 minggu, aku tidak akan membuatnya stress.
Dia tidak pernah mengeluh atau punya niat meninggalkan ku. Bahkan saat aku bersikap dingin padanya, di bulan-bulan pertama setelah kejadian itu. Waktu itu aku baru saja keluar dari rumah sakit. Dengan trauma besar aku kembali, sampai aku tidak memperhatikan keluarga ku yang berusaha membantu. Bahkan aku mengurung diri dan mendorong mereka pergi.
Saat melihat wajah Seulgi yang terlihat lelah dan selalu ada bekas air mata setiap malam, akhirnya meluluhkan keras kepala ku. Menghilangkan ketakutan dan menumbuhkan keinginan ku untuk keluar dari masa-masa berat.
Dan saat Seulgi menyarankan ku agar aku menemui dokter, jujur saja aku sedikit tersinggung. Dalam benak ku, mungkin dia sudah lelah dengan sikap ku dan menganggap ku gila. Tapi Kang Seulgi meyakinkan ku, dia menginginkan ku untuk kembali seperti saat semua ini belum terjadi.
Apalagi yang tidak bisa diluluhkan cinta, tidak satu pun.
Aku sadar aku tidak ingin orang lain yang mengatakan bahwa semua sudah berlalu. Aku hanya ingin Seulgi yang mengatakan itu. Di samping ku setiap malam, mengusir iblis yang mengganggu tidur ku.
Dan mulailah aku terapi. Awalnya sangat sulit, karena aku merasa mereka hanya pura-pura merasakan hal yang sama dengan yang aku lalui. Mereka tidak akan bisa membayangkan apa yang aku lalui pun tidak berharap itu terjadi pada mereka. Sampai sekarang tidak banyak yang aku katakan. Bagian tergelap aku simpan sendiri sebagai pengingat.
Sulgi selalu bertanya apa yang terjadi selama aku disana. Aku tak pernah menjawabnya. Mengalihkan pembicaraan adalah pilihan tepat. Mungkin karena lelah bertanya, akhirnya berhenti dengan sendirinya. Aku tak siap untuk menceritakan pada siapa pun.
Aku sudah tidak lagi terapi. Dokter telah menyatakan bahwa aku sembuh dari trauma. Tapi sekali lagi, dia adalah dokter bukan Tuhan. Tapi aku tidak menyangkal jika aku memang semakin membaik. Jungkook juga telah mengatakan hal yang sama. Tak lupa juga dengan dua idiot. Mereka berkata sekarang aku lebih sering tersenyum.
Oh ini karena kabar bahagia. Kang Seulgi sedang isi.
Isi apakah?
Jajangmyun, samgyupsal?
Bukanlah....Jadi bagaimana Kang Seulgi bisa hamil?.
Oh jangan bayangkan. Yang pasti kita sudah resmi mengikat janji di depan altar. Mengingat kembali saat itu membuat ku tersenyum. Hari dimana aku tahu aku sangat mencintainya. Wanita yang menjadi Superhero di dalam hidup ku.
Walaupun sejak saat itu dia sangat protektiv, dia selalu memaksa agar aku membawa selusin pengawal kemana pun aku pergi. Jadi jika ada bisnis keluar korea harus dengan jet pribadi. Dan sebagian besar ruangan dalam jet dipakai oleh para pengawal. Aku mirip titik kecil dilautan bodyguard.
Aku tidak bisa menolak, tidak mau Seulgi menyelamatkan ku dua kali. Setelah melalui pertimbangan yang panjang, dan disertai dengan janji-janji manis dari Seulgi akhirnya aku menurut. Yang ditanggapi gelengan kepala oleh Abonim.
Ahh...hari ini pun Seulgi masih murung dan cemberut. Saat dia meminta pendapat ku tentang baju renangnya, aku bilang dia sangat cantik namun baju renangnya terlalu kecil. Tapi dia malah marah karena aku mengatakan dia gendut. Padahal tidak satu kata pun yang keluar dari mulut ku ada kata 'gemuk'.
Tapi memang dia sudah mulai gemuk, dengan usia kehamilannya yang masuk minggu ke 28 minggu. Gendut yang membuat ku bahagia.
"Yeobo!!! "
Aku mendengar suara Seulgi. Namun tak juga melihat wajahnya.
"Ne!!!!" jawab ku.
Dari atas tangga aku melihat Seulgi turun dengan terburu-buru memakai baju renang yang sempat membuatny menangis. Dibelakangnya, Jungkook menyusul sambil berlari-lari kecil dengan membawa tas.
"Cepat nyalakan mobilnya" kata Seulgi begitu kakinya menyentuh anak tangga terakhir.
"Huh?? Jika hanya ingin berenang kenapa harus naik mobil, orang kolam renang dibelakang rumah juga ada" kata-kata ku disambut dengan wajah sendu Seulgi, air matanya mulai menggenang.
"Huaaaa.....Kookie yaa...." tangisnya sambil memeluk Jungkook. Aku jadi serba salah.
Aku pikir anak yang didalam perutnya mungkin perempuan, karena selalu menempel-nempel Jungkook.
Duhh!!!
"Hyung, ayolah....noona kalau menangis bisa menghabiskan ice cream milik ku" kata Jungkook sambil meratap mengenaskan. Menghela napas dalam, aku mengikuti mereka dari belakang.
"Kau tahu Water Park yang di sebelah mall?" tanya Seulgi yang aku tanggapi dengan anggukan pelan. Sejak di dalam mobil Seulgi tak henti-hentinya bicara, seperti baru saja menghabiskan permen satu toples, hiper. Suara cemprengnya ditambah suara Jungkook yang mengikuti lagu dari radio membuat perjalanan seperti malapetaka. Kita kembali dilingkaran bahagia.
Dan ini mengingatkan ku saat berada di tempat itu. Oh, bagaimana aku merindukan suaranya, tawanya bahkan tangisan Seulgi yang awalnya aku benci karena aku sering membuatnya menangis.
Wanita hebat disampingku ini adalah isteri ku dan calon ibu dari anak ku.
Kang Seulgi
Aku masih melihat diantara bicaranya, tawanya dan candanya. Bagian murung yang belum juga bisa aku hilangkan.
Jika aku mengatakan bahwa aku telah berusaha keras, mungkin bagian ini yang butuh kesabaran ku.
Laki-laki disamping ku, suami ku dan ayah dari anak ku. Jika aku hanya bisa mengurangi kesedihanya separuhnya saja, aku harap anak ini akan mamapu mengembalikan Yoongi.
Semoga nanti saat kelahirannya, dia bisa menghilangkan wajah gelap ayah nya.
Tidak terasa satu tahun. Awal yang sulit, harus aku akui. Hampir menyerah beberapa kali. Tapi jika aku menyerah, siapa yang akan mengembalikan Yoongi seperti dulu. Aku ada disana, melihatnya terluka sangat parah, jadi apa aku tega menginggalkannya saat dia hampir saja putus asa.
Cinta yang meminta ku untuk tinggal.
"Ne!!!!" jawab ku.
Dari atas tangga aku melihat Seulgi turun dengan terburu-buru memakai baju renang yang sempat membuatny menangis. Dibelakangnya, Jungkook menyusul sambil berlari-lari kecil dengan membawa tas.
"Cepat nyalakan mobilnya" kata Seulgi begitu kakinya menyentuh anak tangga terakhir.
"Huh?? Jika hanya ingin berenang kenapa harus naik mobil, orang kolam renang dibelakang rumah juga ada" kata-kata ku disambut dengan wajah sendu Seulgi, air matanya mulai menggenang.
"Huaaaa.....Kookie yaa...." tangisnya sambil memeluk Jungkook. Aku jadi serba salah.
Aku pikir anak yang didalam perutnya mungkin perempuan, karena selalu menempel-nempel Jungkook.
Duhh!!!
"Hyung, ayolah....noona kalau menangis bisa menghabiskan ice cream milik ku" kata Jungkook sambil meratap mengenaskan. Menghela napas dalam, aku mengikuti mereka dari belakang.
"Kau tahu Water Park yang di sebelah mall?" tanya Seulgi yang aku tanggapi dengan anggukan pelan. Sejak di dalam mobil Seulgi tak henti-hentinya bicara, seperti baru saja menghabiskan permen satu toples, hiper. Suara cemprengnya ditambah suara Jungkook yang mengikuti lagu dari radio membuat perjalanan seperti malapetaka. Kita kembali dilingkaran bahagia.
Dan ini mengingatkan ku saat berada di tempat itu. Oh, bagaimana aku merindukan suaranya, tawanya bahkan tangisan Seulgi yang awalnya aku benci karena aku sering membuatnya menangis.
Wanita hebat disampingku ini adalah isteri ku dan calon ibu dari anak ku.
Wanita
Kang Seulgi
Aku masih melihat diantara bicaranya, tawanya dan candanya. Bagian murung yang belum juga bisa aku hilangkan.
Jika aku mengatakan bahwa aku telah berusaha keras, mungkin bagian ini yang butuh kesabaran ku.
Laki-laki disamping ku, suami ku dan ayah dari anak ku. Jika aku hanya bisa mengurangi kesedihanya separuhnya saja, aku harap anak ini akan mamapu mengembalikan Yoongi.
Semoga nanti saat kelahirannya, dia bisa menghilangkan wajah gelap ayah nya.
Tidak terasa satu tahun. Awal yang sulit, harus aku akui. Hampir menyerah beberapa kali. Tapi jika aku menyerah, siapa yang akan mengembalikan Yoongi seperti dulu. Aku ada disana, melihatnya terluka sangat parah, jadi apa aku tega menginggalkannya saat dia hampir saja putus asa.
Cinta yang meminta ku untuk tinggal.
TH
THE END






