Title : The Spine breaker
Chapter : Chapter I Chapter II Chapter III Chapter IV Chapter V Chapter VI
Chapter VII Chapter VIII Chapter IX Chapter X Chapter XI Chapter XII
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Chapter XIII Chapter XIV Chapter XV Epilog
Cast : Kang Seulgi Red Velvet
Min Suga BTS
Jung Jungkook BTS
V BTS
Kai EXO
Oh Sehun EXO
Length : Chapter
Note : Yay....Chapter V...Min Swagg adalah lelaki kesepian...dia butuh wanita untuk inspirasi rap nya ...hahaha
********************************************************************************
"Oh...jadi seperti ini bodyguard wanita yang diinginkan Min Suga" Jimin dan V memutari Seulgi sambil melihat dari atas ke bawah.
"Wow....100 untuk Yoongi hyung" kata V sambil menepuk kedua tangannya.
"Apa dia akan menahan mu hingga satu bulan?" tanya Jimin penasaran. Tiba-tiba Seulgi mengambil pistol dan menodongkan ke bagian-kau-tahu-dimana.
"Oww...ow...tahan, aku hanya bercanda...aku masih membutuhkannya..Ok?!" Jimin mundur beberapa langkah. Seulgi hanya tersenyum menyeringai puas dan meletakkan kembali senjatanya di atas meja.
"Apakah itu asli?". Kini giliran V yang bertanya.
"Hem...penasaran bisa membunuh kucing,loh" kata Seulgi menanggapi, ini membuat V mendelik tajam, mungkin berpikir jika dia akan ditembak.
" Ya...ini adalah tipe SIG Sauer P938 dengan kapasitas 6+1, dan..."
"Sudah..sudah...aku merinding mendengarnya", V memotong Seulgi, dengan kedua tangan didadanya. Jika JHope adalah pendramatisir, maka V adalah sebangsanya, pikir Seulgi.
"Hyung, Cukup, kalian menakuti Seulgi noona, dan kalian tidak kasihankah padaku...." Jungkook memasang wajah masam.
"Aww...Jungkook ya..." dua idiot itu langsung memberikannya pelukan, dan bersama-sama jatuh ke sofa. Detik berikutnya tawa mereka meledak. Seulgi memandang mereka dengan penuh hiburan.
Ahh...ia merindukan Kai, Namjoon, Jin dan JHope.
"Apa kalian tahu kenapa Suga tidak ingin dipanggil Yoongi?" tanya Seulgi.
"Karena dia merasa dirinya semanis gula, memalukan memang karena kita sudah tidak anak-anak lagi, tapi ini sudah menjadi kebiasaan memanggilnya Min Suga". Penjelasan Jimin memang sedikit tidak masuk akal, tapi memang ada beberapa orang yang menjaga nama panggilan mereka.
"Lagi pula kita bisa membuatnya menjadi lebih lucu dari namanya...Min Swagg...Morning Swagg...Swagg...Swaggg".
Tidak ada yang tidak tertawa mendengarnya, bahkan Seulgi dan Jungkook sampai memegangi perutnya dan merangkak di karpet.
"Tapi jangan pernah mengatakannya di depan orangnya langsung, karena bisa saja TV melayang kearah mu". Saran yang bagus dari Jimin. Tentu saja tidak ada orang yang rela wajahnya penyok karena kemarahan Suga kan?.
**************************************************************************
Suga / Min Yoongi
Aku menjabat tangannya saja rasanya akan membusuk di neraka. Mungkin dia adalah anak setan yang berkeliaran disekitar ku untuk mengajakku juga. Ck, seperti aku mau saja.
"Harga dirimu tidak akan jatuh hanya dengan duduk, Yoongi ssi" katanya. Aku hanya tidak tahan duduk di depannya, dia seperti penyakit menular yang mulai merayapi ku.
"Tidak terima kasih, aku hanya sebentar" jika tidak karena kejadian hari ini, tidak mungkin aku seperti orang bodoh berdiri di kantornya.
"Jangan sentuh adikku, aku tahu orang-orang mu selalu mengikutinya" kataku. Aku memegang erat berkas kontrak yang akan aku batalkan agar dia berhenti mengganggu Jungkook. Miris, karena aku adalah kakak yang tak bisa berbuat apa-apa walaupun nyawa adiknya terancam.
Matanya melihat ke berkas yang ada ditangan ku. Dan dia terlihat...tidak tertarik?. Tangan ku mulai berkeringat. Ini adalah satu-satunya yang bisa aku tawarkan.
"Ah...kau membawa kontrak bernilai murah itu untuk ditukarkan dengan nyawa adikmu?" ingin sekali aku mencabut lidahnya. "Sayang sekali Yoongi ssi aku sudah tidak tertarik, kau memiliki sesuatu yang aku inginkan...tapi aku akan mengambilnya dari mu setelah aku melihat kau bersujud di kaki ku" aku mengepalkan tangan ku menahan marah. Ingin aku hancurkan wajah congaknya. Tapi tidak sekarang, ini adalah tempatnya. Nanti..aku pasti akan membalasnya.
Sampai di rumah, aku hanya melihat Seulgi di ruang Gym sedang memoles, sniper?. Aku yakin pernah melihat senjata seperti itu di Film. Wow...wanita ini tidak bisa diremehkan. Sepertinya tepat jika dia menjadi bodyguard Jungkook.
Ngomong-ngomong tentang Jungkook, aku belum melihat anak itu sejak tadi pagi.
"Kookie...Kookie ya..." aku tahu dia tidak bodoh, jadi pasti dia baik-baik saja.
"Ne hyung..." dia berlari menghampiriku. Syukurlah, wajahnya sedikit sumringah tidak seperti pagi tadi saat aku meninggalkannya.
"Kau belum makan?" tanya ku padanya.
"Belum...Ha, biar Seulgi noona yang memasak, rasa masakannya sangat lezat" kenapa tiba-tiba menjadi Seulgi?. Apa Jungkook ingin menukarkan ku dengan Seulgi?. Ck...anak ini tidak masuk akal.
"Ok" jawabku singkat. Dalam kedipan mata, Jungkook sudah menghilang dari pandangan. Dan kembali dengan Seulgi. Hampir saja aku tersedak saat melihat Seulgi. Dia memakai tanktop dan short. Rambutnya di ikat ekor kuda dengan keringat mengalir di lekuk lehernya dan terus ke...
Stop!!!
Tarik napas yang dalam Yoongi...kau akan baik-baik saja. Singkirkan pikiran kotor mu.
Aku mengikuti mereka berdua ke meja makan, Jungkook duduk di depanku membelakangi Seulgi. Aku melihat setiap gerakan Seulgi. Pinggangnya yang ramping, bagaimana jika aku melingkarkan...
Stop!!!
Aku memperingatkan diri ku sendiri. Ini semakin menjadi-jadi.
"Seulgi ssi, aku tidak mau jika keringat mu menetes dimakanan ku. Itu menjijikkan" Seulgi membalik badannya dan seperti tahu maksud ku, dia permisi untuk ganti baju.
Nah, ini lebih baik. Seulgi memakai celana dan kaos longgar. Tapi aku bisa melihat jika sesekali Seulgi menatapku dengan tatapan sebal. Hemm...hiburan menarik, dia sangat lucu saat marah. Ada yang bilang jika wanita marah adalah seksi, itu aku.
*************************************************************************
Kang Seulgi
Ha, mulutnya sepedas cabai. Apa dia pikir aku berkeringat hingga bisa membuat kuah sup?. Tsk, aku harap dia tenggelam digenangan keringatku, aku pastikan memakan bawang satu truk. Suga membuat mood ku berubah-ubah.
"Kai Oppa....!!!" sapa ku ceria. "Ohhhh...ha..hai...Seulgi ya..." aku tertawa kecil membayangkan Kai oppa gugup dan menjatuhkan handphone nya.
"Princess...bagaimana kabar mu? Apa JHope menjaga mu dengan baik? Apa dia memberi mu makan tiga kali sehari" kemudian blah...blah..blah...mungkin sampai matahari muncul Kai Oppa baru akan berhenti. Aku suka dengannya,
"Kai oppa...aku baik-baik saja. Bagaimana kabar Appa?" harap-harap cemas.
Dan jawaban darinya membuatku semakin khawatir, "Hah..." aku bisa mendengar Kai oppa menghela napas dalam "dia sangat merindukan mu. Karena mulai beberapa hari yang lalu, bos selalu tidur di kamar mu..." ada jeda panjang sebelum ia melanjutkan kata-katanya. "Kapan kau akan kembali?" tanyanya.
Ini yang membuatku sedih. Setiap orang menanyakan ku kapan kembali. Tidak, aku tidak bisa memutuskan hal ini sekarang. Mana mungkin aku meninggalkan Jungkook dan Suga?.
"Mungkin tidak untuk saat ini. oppa, aku titip Appa pada mu" ini yang terbaik. "Ok...jaga diri baik-baik. Dan....cobalah telepon ayah mu. Beritahu dia bahwa kau baik-baik saja".
"Akan aku coba" kataku pelan.
Bicara dengan Kai oppa adalah sesuatu yang bisa menaikkan mood ku yang drop. Apalagi ditambah Snack malam dan segelas jus. yummy.
Karena gelap, aku harus berjalan pelan meniti tangga agar tidak mencelakai diri sendiri. Aku tahu, menyelinap dan mencuri beberapa snack dari Kulkas adalah kejahatan besar untuk tubuh ku. Kenapa?, karena berat badanku akan naik beberapa gram hanya dengan satu kantung keripik penuh udara. Hiii.
Tapi...
Gulp...gulp...gulp...
Ahh...tidak akan ada yang menolak segelas jus. Oh...aku menemukan oase di padang pasir.
Aku baru akan menutup pintu kulkas, dan dikejutkan dengan bayangan putih di kursi.
Hantukah?!!.
Gelas ditangan aku siapkan untuk senjata. Siapa tahu jika hantu itu melompat kearah ku, aku bisa menonjoknya dengan gelas plastik ini.
Langkah demi langkah aku mendekati objek yang aku tidak tahu apa itu. Kau tahu seperti di Film-film horor yang peran utamanya malah mendekati si hantu dari pada lari menyelamatkan diri. Nah...itulah aku. Rasa takut ku tak bisa melampaui rasa penasaran ku.
Semakin dekat dan lebih dekat, akhirnya aku bisa bernapas lega.
Huhffttt....Dia hanyalah Min Suga. Lalu kenapa dia duduk di sini tengah malam begini. Jelas matanya terbuka lebar yang berarti dia tidak tidur sambil berjalan.
lalu kenapa semua lampu dimatikan?. Apa dia lupa apa pesan nenek?. Awas jangan main gelap-gelapan!!.
Sepertinya dia sedang jauh didalam pikirannya, karena dia sama sekali tidak merespon saat aku duduk didepannya.
"Hai!!!!!" aku menjentikkan jari ku di depan mukanya. Tapi tidak dia tidak bergerak sama sekali.
Seluruh meja tertutup dengan kertas yang berserakan, beberapa lembar lusuh dan yang lainnya jatuh ke lantai.
Pandangan ku kembali ke wajahnya. Walaupun remang-remang aku masih bisa melihatnya yang sesekali bergerak mengikuti arah pandangan ku.
"Apa kau sudah selesai memandangi ku?" tiba-tiba dia bersuara.
"Omo!! omo!!!..." aku hampir terjatuh dari tempat duduk.
"Err...aku...".
Aku apa?. Apa?.
Sial. Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Dia pasti tertawa bodoh melihatku panik.
Untuk menghindari suasana yang canggung, aku segera menyalakan lampu. Suga sedikit terkejut dengan cahaya yang tiba-tiba menyilaukan matanya.
"Aku tidak tahu jika kau bodoh" gumamnya pelan. Gezz...dia mengolok-olok ku lagi.
"Ckck..mulut mu tidak semanis nama mu" Hempp....aku menutup mulut ku. Menyesal karena telah menyalakan lampu. Karena dia akan melihat wajahku yang merah malu.
Ha?! apa aku baru saja mengatakan itu. Ya Tuhan selamatkan aku. Aku tahu jika aku suka mempermalukan diriku sendiri. Tapi tidak dengan laki-laki didepanku. Karena dia pandai memelintir kata-kataku.
Aku bisa melihat matanya sembab.
Oh!! dia baru saja menangis. Tidak aku saja yang malu saat lampunya menyala, tapi dia juga. Hahahh.
Aku tersenyum geli. Mungkin dibalik wajah dinginnya ada hati yang hangat.. Dan yang pasti ada air mata.
Sepertinya dia sadar kalau aku memandanginya dengan tatapan selidik, Suga kemudian bangkit dan naik menuju kamarnya.
Aku membuatnya kesal, mungkin. Sebagian otakku berkata jika aku harus tidur, sebagian lagi menyuruhku untuk pergi menyusulnya.
Mengambil yang terbaik, aku berlari menyusulnya.
"Yoongi sii!!!!" teriakku begitu sampai di kamarnya. Gelap. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengannya?. Aku berjalan mendekati tempat tidurnya. Kemudian dari samping ada yang mendorong ku hingga jatuh di tempat tidur. Dan memegangi kedua pundakku, terperangkap diatas tempat tidur. Bagus!!!.
"Kenapa kau menyelinap ke kamar ku?" Suga berbisik di telingaku. Napas hangatnya menggelitik dan dia melakukan sesuatu yang tak terduga. Dia menggigit telingaku. Kembang api dimana-mana. Berusaha mengumpulkan jiwa ku yang berceceran di lantai, aku bisa lihat seringai nya saat melihat wajah ku yang merah. Suga kemudian melepaskan ku dan masuk ke kamar mandi. Meninggalkan ku yang malu setengah mati.
Aku tidak bisa disini. Ini sangat memalukan. Kembali ke kamar ku adalah pilihan yang terbaik.
Min Yoongi sudah gila.
Dia stress berat.
Dia sakit jiwa.
Dia jelek.
Dia tidak sopan.
Dia usil.
Dia Jorok.
Dia bermulut kotor
Dia Tampan.
Aku tidak tahu kenapa di akhir aku bilang dia tampan. Mungkin yang gila adalah aku.
To be continue






