Title : My Fox Mate
Cast : Byun Baekhyun EXO
Hani EXID
D.O / Kyungsoo EXO
Yura Girls Day
Length : Chaptered
*******************************************************************************
Sore hampir menjelang.
Malam nanti adalah bulan purnama. Aku mulai khawatir, Belum juga menemukan tempat tinggal. Bahkan
dua hari ini perut ku belum terisi. Aku bisa merasakan energy yang tersisa
tinggal sejengkal.
Aku tidak bisa mengambil resiko , karena hari masih terang.
Lapar pun aku tahan, walaupun tikus-tikus kecil yang monda-mandir di depanku
tampak menggoda. Aku tahu Ahn
Heeyeon menampakkan barisan giginya yang
membuat tikus-tikus itu berlarian menyelamatkan diri.
'Ahn Heeyeon jangan sampai kau makan tikus-tikus itu,
binatang itu sangat menjijikan'.
Ahn Heeyeon tidak menjawabku. Konsentrasinya hanya pada rasa lapar. Aku tidak ingin binatang menjijikkan itu masuk
kedalam perut ku. Merebahkan tubuh ku
diantara semak-semak, menunggu matahari kembali ke barat sangatlah menyebalkan.
Apalagi dengan pendegaranku yang sangat sensitive, ternyata manusia itu sangat
berisik.
'Ahn Heeyeon!! , bagaimana jika kita tidak bisa
menemukannya?' tanya ku mencoba mengalihkan perhatiannya.
'Kau terdengar sangat
tidak yakin. Tenang saja, ada ikatan yang akan menarik jiwa yang terpisahkan
untuk bersatu. Kalau pun kita menemui kesulitan, akan ada yang membantu
kita. Kau ingat kenapa tiba-tiba mereka
membuat kita dibuang disini? Kenapa mereka tiba-tiba membuat jiwa kita menjadi
dua bagian dan meminta kita untuk mendari separuhnya? Karena mereka tidak ingin
kita melakukan hal itu lagi' .
Ahn Heeyeon terdengar bijaksana kali ini. Benar,
mereka tidak ingin aku merebut kekasih mereka. Dan ini bukan salah ku karena
aku memiliki wajah yang menawan, memikat siapa saja yang memandang ku. Buka pula salah ku karena aku memiliki tubuh
yang menjadi impian dan imajinasi gila dari setiap laki-laki. Aku tidak
menginginkan semua perhatian itu karena hanya mendatangkan kebencian.
'Kau benar, dari cerita yang dulu, seekor rubah putih tidak
pernah memiliki pasangan. Dia adalah makhluk kesepian sehingga merusak cinta
yang dimiliki rubah yang lain. Dan karena dia iri dengan cinta itu, dia
membunuh dengan mengambil jantung dari setiap yang jatuh diperangkapnya.'.
Sedikit
ngeri menceritakan itu kembali. Tidak sedikit dari teman-teman ku yang menjauhkan
diri karena aku seekor rubah putih.
'Tapi kita tidak
seperti itu. Dan orang-orang disekitar kita membantu agar kejadian seperti itu
tidak terulang. mereka berhasil mencegah kita agar tidak menjadi seorang pembunuh'.
Aku tidak mungkin melupakannya. Kejadian mengerikan itu
seperti baru beberapa hari yang lalu. Bagaimana nanti jika aku bertemu
dengannya? Aku sudah hampir membunuhnya. Jika dia memanggilku monster pantaslah
atas apa yang aku lakukan padanya. Jika saja eomma tidak menyadarkan ku, mungkin aku sudah mengambil jatungnya.
‘Jangan dipikirkan,
kejadian itu tidak sengaja. Itu adalah insting yang sama dari setiap rubah
putih”.
Kata-kata Ahn Heeyeon tidak sampai di hati. Aku tetap merasa
bersalah. Saat itu yang ada di mataku hanya warna merah darah dan bisikan ‘ambil jantungnya, karena kau tak akan
pernah memilikinya’.
‘Kau pasti terlalu banyak
berpikir. Hey....ini sudah malam, apa kau tidak ingin menggerakkan kaki malas
mu?’.
Oh!!! Aku lupa.
Tidak ada bedanya malam dan siang. Aku pikir manusia adalah
makhluk paling berisik.
Krruukkkk...kruuukkkk....
‘Ha!!!....lapar bukan?
Aku sudah hampir memakan bintang itu, tapi kau menolaknya’ sungut Ahn
Heeyeon kesal.
‘Sttt....bulan sudah bersinar penuh. Aku pikir ini saatnya’
Selalu sama saat aku berubah wujud. Tulang belakang ku
terasa tidak nyaman, berganti posisi. Bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuh ku
masuk ke dalam kulit. Moncong hidung ku memendek, begitu juga dengan telinga
ku. Tak sampai lima menit , aku kembali ke wujud ku yang lama aku rindukan. Aku
bisa merasakan kemampuan yang sudah terbuka mengalir di dalam darah ku.
Rambut panjang ku tergerai, menutupi bagian atas tubuh ku.
jangan dikira saat berubah wujud aku mengenakan baju. Tidak. Tubuh ku tidak tertutup
sehelai benang pun. Untunglah pemilik
toko kue itu seorang wanita tua, yang jika dihitung dalam umur manusia sekitar
tujuh puluh tahun.
“Permisi....” sapa ku ramah. Wanita tua itu tidak langsung
menjawabnya. Seperti menace arah sumber suara yang saat itu juga aku tahu jika
wanita tua itu sudah berkurang pendengarannya.
“Ohh...aku tidak melihatmu datang” katanya saat melihat ku
berdiri dihadapannya. Kemudian wantia itu memandang ku heran, mungkin karena
aku tanpa baju.
“Kau tahu jika udara diluar sana dingin bukan?” tanyanya.
“Maaf bibi, aku tidak memiliki uang untuk membeli pakaian”
aku tidak berbohong padanya.
“Kemarilah, aku akan memberikan mu baju yang hangat. “ aku
hanya menurut saja. Kemudian wanita itu membawaku naik ke lantai dua.
“Ini adalah milik cucu ku, tapi jangan khawatir dia tidak
akan bangkit dari kubur hanya karena baju ini aku berikan pada mu” dibalik
senyumnya, aku tahu jika ia merasa kehilangan dan kesepian. Dan karena aku tak
melihat orang lain selain wanita tua dihadapan ku.
“Terima kasih bibi, ini lebih dari cukup”. Tapi kemudian
perut ku yang lapar berbunyi nyaring. Hingga membuat kita berdua tertawa.
“Aku yakin ‘lebih dari cukup’ sudah tidak dipakai lagi. Kau bisa
makan malam disini”.
Kemudian aku dibawa ke dapur. Tidak banyak yang bisa aku
lihat dalam rumah ini. Selain hanya oven yang biasa untuk memanggang kue. Dan perabotan
dapur yang sederhana.
“Maaf hanya ini yang bibi punya. Akhir-akhir ini toko selalu
sepi. Oh...aku belum tahu siapa nama mu dan dimana keluarga mu tinggal” katanya
sembari meletakkan dua potong kue dihadapan ku.
Tidak mungkin aku mengatakan tempat asal ku. Bisa dikir aku
orang gila.
“Nama ku Hani, bibi. Dan orang tua ku meninggal beberapa
tahun yang lalu” maafkan aku appa , eomma
aku menyayangi kalian. Amat...sangat.
“Jika tidak keberatan, kau bisa tinggal disini dan membantu
bibi berjualan kue” tanpa diminta pun sudah ditawari. Oh...moon goddess....kau baik sekali.
“Benarkah?!! Terima kasih bibi” kue yang masih separuhnya
menggantung dimulutku jatuh saat aku memeluknya erat.
“Istirahatlah..besok pagi kita mulai bekerja”.
Untunglah masih ada yang sebaik orang itu. Setidaknya aku
tidak tidur di alam terbuka malam ini.
Dan perasaan ku mengatakan jika aku semakin dekat dengan kebahagiaan ku.
To Be Continue








