Title : Hold Me Tight ( Part IV )
Chapter : Part I | Part II | Part III Cast :
- Luhan
- Baekhyun EXO
- Oh Sehun EXO
- Kim Jongdae EXO
Genre : MxB, Action, Drama
Rating : PG-15
Rating : PG-15
=====================================================================
Luhan POV
Hal pertama yang Luhan sadari begitu membuka matanya adalah ia berada di kamarnya. Matanya melihat kiri-kanan kemudian berniat bangun dari tempat tidur karena merasa ada yang aneh. Tapi diurungkannya karena pusing tiba-tiba menyerang. Selain itu buritnya terasa nyeri yang menjalar sampai tulang belakangnya. Matanya mendelik tajam, rasa nyeri itu?!. Meski tidak pernah mengalaminya tapi ia tidak asing. Selalu mendengarnya ketika ia dan pasangannya melakukan hubungan seksual tanpa persiapan. Dan ia tidak pernah berada diposisi bawah. Ini pertama kalinya. Alarm dalam kepalanya menyala.
‘Tidak mungkin’ Bantah hatinya.
“Oh?! Kau sudah bangun? Aku membawakan obat pereda nyeri dan segelas air” Luhan kaget saat melihat Oh Sehun berdiri diambang pintu. Lalu ia melihat kondisinya, dibawah selimut ia tanpa pakaian. Luhan mulai panik, ia belum ingat apa yang ia lakukan semalam.
“Hei...tenang...aku menemukan mu diluar klub
malam dalam keadaan mabuk, lalu aku membawa mu pulang” Jawaban Oh Sehun tidak lantas membuatnya tenang. Pikirannya kacau, pertanyaan-pertanyaan dalam dikepalanya belum terjawab.
“Benarkah?” Ia menatap Oh Sehun lama, otaknya terus
berputar mencari kebenaran. Luhan menaruh curiga jika laki-laki yang ada
didepannya itu berbohong.
“Minumlah
ini agar nyeri mu hilang” Sehun menyodorkan sebutir pil dan segelas air
yang dibawanya. Luhan menerimanya lalu diteguknya bersamaan.
"Terima kasih".
Oh Sehun terdiam.
"Aku tidak minum alkohol semalam, yang aku pesan hanya minuman soda. Tapi kau menemukan ku di luar klub dalam keadaan mabuk?" Luhan bicara, bicara sangat cepat. Diantara rasa panik dan marah, ia berpikir seseorang memasukkan obat kedalam minumannya.
Kim Jongdae. Si bangsat itu.
Ya dia yakin Jongdae yang melakukannya. Karena semalam hanya mereka berdua yang pergi ke klub.
"Mungkin kau lupa?" jawaban Sehun separuh bertanya.
"Tidak. Aku yakin ada seseorang yang menaruh sesuatu diminuman ku. Aku memiliki tolerani alkohol yang cukup tinggi, jadi tidak mungkin aku seteler itu sampai tidak ingat". Rasa penasaran Luhan tak hilang. Siapa yang melakukannya?.
***
Luhan tidak akan mengingatnya.
Karena terlihat sesekali laki-laki berwajah tirus itu menggelengkan kepala, tanda bahwa ia mencoba mengingat sesuatu. Dan kemudian mengkerutkan keningnya karena masih ragu-ragu. Sehun menarik kedua lengan Luhan, memposisikannya agar berhadapan dengannya. Lalu Sehun menatap bola mata Luhan dalam-dalam. Bola mata berwarna hijau Zamrud itu bergerak tak tentu arah, mungkin karena malu.
"Kita akan menemukan orang yang melakukannya padamu. Yang merendahkan harga dirimu, aku akan membantu mu". Wajah Luhan menunduk, pipi hingga pangkal lehernya bersemu merah, tetapi tidak tersenyum.
"Sekarang aku akan pulang. Tapi besok aku akan kembali, dan bersiaplah kita akan pergi keluar" setelah Oh Sehun selesai mengatakan itu, ia lalu keluar dari kamar Luhan. Membiarkan laki-laki yang berperawakan seperti wanita itu mencerna kata-katanya.
Dalam perjalanannya menuju tangga, ia bertemu dengan ayah Luhan. Pria yang umurnya dua kali darinya dan bertubuh tegap itu hanya menganggukkan kepala.
Aku tahu.
***
Luhan mengetuk-ngetukkan tumitnya pada lantai rumah sakit, ia khawatir soal hasil tesnya. Setelah Oh Sehun pulang, ia bergegas menghubungi dokter pribadinya dan langsung membuat janji untuk bertemu. Dan disanalah Luhan sekarang, duduk diruang pemeriksaan menunggu dokter Mavis Luo membawakan kabar baik dari hasil laboratorium.
"Maaf Luhan karena menunggu lama" Dokter Luo kemudian duduk dengan selembar kertas ditangannya.
"Ah...iya. Aku hanya khawatir dengan hasilnya" Luhan sudah menceritakan semuanya dan dokter Luo menyarankan untuk melakukan tes. Karena dari yang dokter Luo katakan , ia bisa saja adalah korban.
"Hasil tes ada ditemukan tiga DNA berbeda dari sampel yang diambil dari tubuh mu. Kemungkinan tiga orang telah melakukannya dengan mu. Dan minimnya persiapan, membuat beberapa bagian mengalami pendarahan ringan. Tetapi aku masih menunggu hasil tes yang lebih lengkap, kemungkinan kau tertular penyakit bisa diketahui setelah aku menerimanya dari bagian laboratorium. Saran ku agar kau menghentikan segala aktivitas seksual sampai tiga bulan".
Luhan bagai disambar petir disiang bolong mendengar penjelasan dokter pribadinya. Antara percaya dan tidak. Air matanya menggenang, tangannya gemetar, ia mulai terisak. Doker Luo langsung memeluknya.
"Semoga hasil tes mu baik-baik saja, aku berdoa untuk mu" wanita yang hampir seumuran dengan ayahnya itu terus menyemangatinya. Ia melepaskan pelukannya dengan berat hati.
"Terima kasih" ucapnya, lalu pergi meninggalkan ruangan dengan hasil tes di saku kanan mantelnya.
***
"Kau!!!! Manusia sialan!!!" Luhan langsung menerjang Jongdae yang berdiri di depan pintu gerbang. Jongdae yang tidak sempat menghindar jatuh ke tanah. Tanpa jeda, Luhan memukuli wajah Jongdae berkali-kali. Mencekiknya lalu memukulinya hingga hidung dan mulut Jongdae berdarah-darah yang malah justru membuat Luhan murka. Jongdae berusaha melindungi wajahnya dengan kedua lengannya. Tidak puas, Luhan berdiri lalu menendangi rusuk dan bagian perut Jongdae. Ia berniat membunuhnya.
Kim Jongdae sadar jika ia membuat Luhan berapi-api, malah tertawa keras.
"Hahaha... bagaimana rasanya, hah?!!! pasti kau menikmatinya" ledeknya di sela-sela tawanya.
Wajah Luhan memerah. Kata-kata yang dilontarkan Jongdae membuatnya naik pitam. Tidak puas, Luhan berdiri lalu menendangi rusuk dan bagian perut Jongdae. Ia berniat membunuhnya. Tidak peduli jika Kim Jongdae terkapar tanpa perlawanan.
Beberapa anak buah ayahnya yang melihatnya memukuli Jongdae berusaha melerai.
Pundaknya dirangkul lalu ia diseret menjauhi tubuh Jongdae yang tergeletak di tanah. Luhan meronta. Mengeluarkan sumpah serapah.
"Awas kau Kim Jongdae. Akan ku bunuh kau".
"Diam kau!!! Aku tidak tahu setan apa yang merasuki mu" ayahnya langsung menyambarnya begitu ia sampai di ruang utama. Napas Luhan masih tidak beraturan, emosinya belum turun, Kim Jongdae masih hidup.
"Jika kau membunuhnya , aku yang akan menembak kepalamu. Dasar anak tidak berguna. Kau tahu apa akibatnya saat kau membuatnya babak belur?!! Hah!!!". Pipi Luhan terasa panas saat tangan ayahnya menamparnya. Ayahnya menarik kerah bajunya.
"Hari ini ada bongkar muat dan Kim Jongdae sebagai foreman bertanggung jawab atas muatan sampai ke tujuan. Apa kau mau bertanggung jawab jika barang datang molor dari yang dijadwalkan?".
Kali ini ia merasa benar-benar tidak berguna. Dipermalukan di depan orang banyak, rasa-rasanya ia ingin menghabisi nyawanya sendiri.
Tbc
"Terima kasih".
Oh Sehun terdiam.
"Aku tidak minum alkohol semalam, yang aku pesan hanya minuman soda. Tapi kau menemukan ku di luar klub dalam keadaan mabuk?" Luhan bicara, bicara sangat cepat. Diantara rasa panik dan marah, ia berpikir seseorang memasukkan obat kedalam minumannya.
Kim Jongdae. Si bangsat itu.
Ya dia yakin Jongdae yang melakukannya. Karena semalam hanya mereka berdua yang pergi ke klub.
"Mungkin kau lupa?" jawaban Sehun separuh bertanya.
"Tidak. Aku yakin ada seseorang yang menaruh sesuatu diminuman ku. Aku memiliki tolerani alkohol yang cukup tinggi, jadi tidak mungkin aku seteler itu sampai tidak ingat". Rasa penasaran Luhan tak hilang. Siapa yang melakukannya?.
***
Luhan tidak akan mengingatnya.
Karena terlihat sesekali laki-laki berwajah tirus itu menggelengkan kepala, tanda bahwa ia mencoba mengingat sesuatu. Dan kemudian mengkerutkan keningnya karena masih ragu-ragu. Sehun menarik kedua lengan Luhan, memposisikannya agar berhadapan dengannya. Lalu Sehun menatap bola mata Luhan dalam-dalam. Bola mata berwarna hijau Zamrud itu bergerak tak tentu arah, mungkin karena malu.
"Kita akan menemukan orang yang melakukannya padamu. Yang merendahkan harga dirimu, aku akan membantu mu". Wajah Luhan menunduk, pipi hingga pangkal lehernya bersemu merah, tetapi tidak tersenyum.
"Sekarang aku akan pulang. Tapi besok aku akan kembali, dan bersiaplah kita akan pergi keluar" setelah Oh Sehun selesai mengatakan itu, ia lalu keluar dari kamar Luhan. Membiarkan laki-laki yang berperawakan seperti wanita itu mencerna kata-katanya.
Dalam perjalanannya menuju tangga, ia bertemu dengan ayah Luhan. Pria yang umurnya dua kali darinya dan bertubuh tegap itu hanya menganggukkan kepala.
Aku tahu.
***
Luhan mengetuk-ngetukkan tumitnya pada lantai rumah sakit, ia khawatir soal hasil tesnya. Setelah Oh Sehun pulang, ia bergegas menghubungi dokter pribadinya dan langsung membuat janji untuk bertemu. Dan disanalah Luhan sekarang, duduk diruang pemeriksaan menunggu dokter Mavis Luo membawakan kabar baik dari hasil laboratorium.
"Maaf Luhan karena menunggu lama" Dokter Luo kemudian duduk dengan selembar kertas ditangannya.
"Ah...iya. Aku hanya khawatir dengan hasilnya" Luhan sudah menceritakan semuanya dan dokter Luo menyarankan untuk melakukan tes. Karena dari yang dokter Luo katakan , ia bisa saja adalah korban.
"Hasil tes ada ditemukan tiga DNA berbeda dari sampel yang diambil dari tubuh mu. Kemungkinan tiga orang telah melakukannya dengan mu. Dan minimnya persiapan, membuat beberapa bagian mengalami pendarahan ringan. Tetapi aku masih menunggu hasil tes yang lebih lengkap, kemungkinan kau tertular penyakit bisa diketahui setelah aku menerimanya dari bagian laboratorium. Saran ku agar kau menghentikan segala aktivitas seksual sampai tiga bulan".
Luhan bagai disambar petir disiang bolong mendengar penjelasan dokter pribadinya. Antara percaya dan tidak. Air matanya menggenang, tangannya gemetar, ia mulai terisak. Doker Luo langsung memeluknya.
"Semoga hasil tes mu baik-baik saja, aku berdoa untuk mu" wanita yang hampir seumuran dengan ayahnya itu terus menyemangatinya. Ia melepaskan pelukannya dengan berat hati.
"Terima kasih" ucapnya, lalu pergi meninggalkan ruangan dengan hasil tes di saku kanan mantelnya.
***
"Kau!!!! Manusia sialan!!!" Luhan langsung menerjang Jongdae yang berdiri di depan pintu gerbang. Jongdae yang tidak sempat menghindar jatuh ke tanah. Tanpa jeda, Luhan memukuli wajah Jongdae berkali-kali. Mencekiknya lalu memukulinya hingga hidung dan mulut Jongdae berdarah-darah yang malah justru membuat Luhan murka. Jongdae berusaha melindungi wajahnya dengan kedua lengannya. Tidak puas, Luhan berdiri lalu menendangi rusuk dan bagian perut Jongdae. Ia berniat membunuhnya.
Kim Jongdae sadar jika ia membuat Luhan berapi-api, malah tertawa keras.
"Hahaha... bagaimana rasanya, hah?!!! pasti kau menikmatinya" ledeknya di sela-sela tawanya.
Wajah Luhan memerah. Kata-kata yang dilontarkan Jongdae membuatnya naik pitam. Tidak puas, Luhan berdiri lalu menendangi rusuk dan bagian perut Jongdae. Ia berniat membunuhnya. Tidak peduli jika Kim Jongdae terkapar tanpa perlawanan.
Beberapa anak buah ayahnya yang melihatnya memukuli Jongdae berusaha melerai.
Pundaknya dirangkul lalu ia diseret menjauhi tubuh Jongdae yang tergeletak di tanah. Luhan meronta. Mengeluarkan sumpah serapah.
"Awas kau Kim Jongdae. Akan ku bunuh kau".
"Diam kau!!! Aku tidak tahu setan apa yang merasuki mu" ayahnya langsung menyambarnya begitu ia sampai di ruang utama. Napas Luhan masih tidak beraturan, emosinya belum turun, Kim Jongdae masih hidup.
"Jika kau membunuhnya , aku yang akan menembak kepalamu. Dasar anak tidak berguna. Kau tahu apa akibatnya saat kau membuatnya babak belur?!! Hah!!!". Pipi Luhan terasa panas saat tangan ayahnya menamparnya. Ayahnya menarik kerah bajunya.
"Hari ini ada bongkar muat dan Kim Jongdae sebagai foreman bertanggung jawab atas muatan sampai ke tujuan. Apa kau mau bertanggung jawab jika barang datang molor dari yang dijadwalkan?".
Kali ini ia merasa benar-benar tidak berguna. Dipermalukan di depan orang banyak, rasa-rasanya ia ingin menghabisi nyawanya sendiri.
Tbc






