Title : Hold Me Tight ( Part II )
Chapter : Prolog | Part I | Part II | Part III | Part IVCast :
- Luhan
- Baekhyun
- Oh Sehun
- Kim Jongdae
Genre : MxB, Action, Drama
Rating : PG-15
Rating : PG-15
=====================================================================
Note :
haii... maaf yang nunggu lama, karena author masih sibuk dengan macem-macem jadi ini chap di post tanpa diedit... maaf yaaa....
annyeong......
BAEKHYUN
Malam itu ia duduk di meja kerjanya. Mengeluarkan
barang bukti yang ia dapat dari kepolisian. Mulai dari foto dan barang-barang
yang ditemukan di lokasi kejadian, hingga rekaman kamera cctv yang datanya
telah ia tampung dalam usb.
Meski
separuh hatinya merasa keberatan karena ia harus mengingat kejadian mengerikan
itu, tetapi sebagian lagi teguh untuk mencari siapa pembunuhnya.
Tidak
sepenuhnya ia merekam dalam memorinya apa yang sebenarnya terjadi tiga bulan
yang lalu. Tahu-tahu ia sudah dirumah sakit , menjalani rehabilitasi karena ia
menderita stres berat. Tetapi dalam sela-sela terapinya, entah itu siang
ataupun malam , saat matanya terpejam, ia akan dihampiri mimpi buruk yang
berkepanjangan.
Ia bermimpi Taeyeon dan Jinri berlumuran darah di ruang
keluarga. Suara tangisan Jinri memanggil namanya, suara tebasan pedang dan
Taeyeon yang memohon ampun dengan suara parau. Itu semua tidak bisa ia hapus
dari ingatannya sampai sekarang, karena begitu jelasnya. Seperti ia benar-benar
berada disana dan menyaksikan itu semua. Tetapi dokter sudah menjelaskan bahwa
ia tidak ada disana saat itu terjadi. Katanya, Oh Sehun lah yang membawanya ke
rumah sakit setelah menemukan dirinya dalam bathtub dengan urat nadi hampir putus.
Sesalnya tak sampai disitu, ia melewatkan pemakaman keduanya. Karena kondisinya
tidak stabil, maka ia hanya diberitahu bahwa pemakaman itu dihadiri mertuanya
serta keluarga dekatnya.
Sekarang
adalah bagiannya untuk mengungkap kasus itu. Setelah polisi mandeg
menyelidikinya karena menemukan jalan buntu.
Dalam dugaannya, antara orang yang pernah diselidikinya kemudian menaruh
dendam atau justru ia tidak mengenalnya tapi tahu dipekerjakan oleh siapa.
Pertama Baekhyun
menyetel rekaman cctv yang terpasang dihalaman depan rumah. Tertera tanggal
dilayar dua puluh tiga desember tahun dua ribu lima belas, pukul enam sore
lebih enam menit. Dalam lima menit pertama tidak ada hal ganjil, kendaraan yang
bisa dihitung dengan jari, lalu-lalang di jalan raya.
Ia tidak mempercepat video yang ia putar karena takut melewatkan petunjuk yang penting. Sembilan menit kemudian, terlihat mobil masuk ke halaman rumahnya, ia tahu
mobil itu adalah milik Taeyeon. Benar saja, Taeyeon dan Jinri keluar dari dalam
mobil dan masuk kedalam rumah. Melihat keduanya
membuat dadanya sesak. Dipukulnya dengan
keras untuk melegakan sesaknya. Air matanya sudah mengembun di pelupuk matanya,
sehingga pandangannya kabur. Diusap kedua matanya dengan lengan baju. Sampai
rekaman itu berakhir, sekitar tiga puluh menit, tidak terlihat Taeyeon maupun
Jinri Keluar rumah.
Kemudian
Baekhyun melanjutkan dengan rekaman kedua. Kamera CCTV yang ia pasang di ruang
tamu. Dalam rumahnya hanya ada dua CCTV, ruang tamu dan di kamar Jinri. Ia
tidak memasang di Ruang keluarga dengan alasan di dua tempat saja sudah cukup.
Sekarang ia menyesalinya. Karena pasti tidak akan mudah mencari pembunuh itu.
Di layar
tertera jam yang sama dengan yang pertama, enam sore lewat enam menit. Dan saat
Taeyeon yang menggandeng Jinri membuka pintu kemudian menutupnya kembali sudah
empat menit lamanya. Karena CCTV tidak bisa menjangkau ruang keluarga, maka apa
yang dilakukan Taeyeon dan Jinri, ia tak melihatnya. Rekaman terus berjalan,
masih tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Hingga pada rekaman, jam ada pada
delapan kurang satu menit, pintu depan didobrak, ada lima orang dengan penutup
kepala dan sarung tangan. Jantung Baekhyun tidak karuan,
‘Jadi itu mereka? ‘ batinnya. Mereka semua pembunuhnya.
Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Baekhyun melihat satu diantara mereka
mendekati kamera dan mematikannya.
“SIAL!!!!!
SIAL!!!” umpatnya. Ia menenangkan deru napasnya, mendinginkan kepalanya. Ia
kemudian kembali duduk, menyetel ulang rekaman itu sampai dengan dimana mereka
mematikan kameranya. Baekhyun menurukan kecepatannya dari normal menjadi 0,25.
Dengan kecepatan yang lebih lambat, ia melihat di bagian pangkal pelipis ada
simbol saat orang itu mendekat untuk mematikan kamera. Ia sendiri masih ragu
karena simbol itu sangat kecil.
Kemudian ia menjeda video dan memperbesar
layar. Karena masih belum terpecahkan, ia mencetaknya diatas kertas.
Sebentar-sebentar
ia mengalihkan matanya dari layar komputer yang masih memutar rekaman ketiganya, rekaman cctv yang dipasang di kamar Jinri, untuk menatap simbol - ya, iya yakin
itu simbol- yang ia tempel di white
board, bersama dengan foto-foto yang ia dapat. Perasaannya masih dihantui
rasa penasaran jika ia tak bisa memecahkannya. Tapi sampai pagi menjelang,
Baekhyun belum juga mendapat jawaban.
***
“Hemmm.....
sebentar....” Oh Sehun memandangi kertas ditangannya dengan dahi berkerut. Selain
karena cetakan yang berwarna hitam putih, juga karena kualitasnya yang begitu
buruk sehingga sulit dibaca. Baekhyun yang duduk didepannya, memandang dengan
penuh harap, membuat Sehun tak enak hati.
“Bukankah
kau akan membaca hasil otopsi yang aku berikan pada mu?” Oh Sehun mengingatkan
laki-laki dihadapannya yang terlihat resah.
“Ah...
itu... aku sudah membacanya semalam. Tapi entah kenapa hanya gambar itu yang
aku pikirkan. Rasa penasarann ku tidak hilang bahkan saat Suho mengatakan itu
karena topeng yang mereka pakai berlubang” ia hanya mengangguk pelan
mendengarnya. Matanya tidak langsung menatap Baekhyun saat ia mendengarkan
laki-laki itu bicara.
Maafkan aku
“Aku dengar direktur
akan memberi mu kasus baru, tapi jika kau merasa keberatan karena perhatian mu
saat ini adalah menemukan pelakunya, aku bisa membantu mu untuk bicara
dengannya” Oh Sehun mencari topik lain. Ia memasukkan kertas itu kedalam laci.
“Ya, kemarin
siang ia bicara dengan ku. Tapi aku beralasan jika belum stabil. Memang benar
sih, dokter telah menyatakan telah sembuh... hahahaha” tawa Baekhyun terdengar
pilu, Oh Sehun memalingkan wajahnya, cemas. “aku diperlakukan seperti orang
yang baru saja sukses menjalani pembedahan, padahal tidak seorang pun tahu apa
yang aku rasakan” ekspresi sahabatnya itu berubah menjadi pahit. Mendengarnya, Oh
Sehun hanya terdiam.
Kemudian
teman karibnya itu bangit dari tempat duduknya, menawarkan senyum ramahnya, “aku
pamit dulu. Kabari aku jika kau menemukan sesuatu” Oh Sehun menahan napasnya,
sampai Baekhyun keluar dari ruangannya, ia baru melemaskan otot tubuhnya yang
panik.
Ia mengeluarkan
selembar kertas dari dalam lacinya, kemudian merogoh saku mantelnya dan
mengeluarkan ponselnya,
“Aku
menemukan sesuatu” katanya singkat.
Tbc
Note :
haii... maaf yang nunggu lama, karena author masih sibuk dengan macem-macem jadi ini chap di post tanpa diedit... maaf yaaa....
annyeong......






