Title : Hold Me Tight ( Part II )
Chapter : Prolog | Part I | Part II | Part III | Part IV
Cast :
- Luhan
- Baekhyun
Genre : MxB, Action, Drama
Rating : PG-15
Rating : PG-15
=====================================================================
LUHAN POV
Luhan membenci matahari yang membakar kulitnya. Ia membenci matahari yang menyilaukan matanya, serta suara-suara berisik dari pagi hingga siang. Apalagi mendengar suara Kim Jongdae yang terus saja memaki.
"Manfaatkan tubuhmu yang kecil, Lulu!!!!!" Teriak Jongdae sembari terus mengarahkan tinjunya, berharap Luhan yang bertubuh lebih kecil mampu melawan, bukannya terus menghindar. Tetapi napas Luhan mulai memendek, dan ia sudah tidak mampu menghindar lagi. Akhirnya satu pukulan keras mendarat di pelipis kanan Luhan, dan ia jatuh tersungkur.
"Jangan melamun!!!!! Lawan tidak akan segan menggorok leher mu jika kau lengah!!!!" teriak Jongdae sekali lagi. Luhan membalikknya tubuhnya, menatap matahari yang menyinarinya hampir menyakitkan matanya. Ia mengatur napasnya yang tersengal.
Brengsek
Ia selalu menolak jika ayahnya memerintahkan Kim Jongdae mengajarinya. Karena yang dilakukan anak itu hanya memakinya sepanjang hari. Sedangkan ia merasa tidak ada yang perlu dipelajari lagi. Bayangkan, ia sudah melakukannya sejak ia mulai berjalan. Apalagi yang tidak ia ingat? melompat, menghindar atau bahkan membaca gerakan lawan?. Kalau ia mengatakan itu semua keras-keras, pasti Jongdae akan menjawabnya, 'Lalu kenapa kau terjungkal ke tanah hanya karena satu pukulan ringan?', itu semua ada di dalam otaknya.
Tetapi ia selalu dipaksa, katanya, kekuasaan yang sekarang ia nikmati akan di lemparkan kepada yang lebih pantas jika ia tidak bisa tumbuh lebih tinggi dari ayahnya.
"Kau tidak mau bangun ya?!!!!" kata Jongdae sambil menyiramkan seember air dingin ke tubuhnya yang masih terbaring di tanah.
"Oh Shitt!!!!!" umpatnya gelagapan setelah air masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Ia langsung berdiri dan mengibaskan kaos oblongnya.
"Apa yang kau lakukan!!!!!" teriak Luhan tak kalah nyaring, beradu keras dengan suara anak buah ayahnya yang sedang berlatih. Ia bangkit berdiri agak meninggikan tumitnya agar sepadan dengan pria yang dibencinya, Kim Jongdae. Matanya melebar, tulang dagunya menekuk, ia marah.
"Oh, jadi sekarang anak perempuan ingusan ini marah?" Kim Jongdae dengan sengaja mengacungkan jari ke arahnya , pandangan setengah merendahkan. Luhan menggelengkan kepalanya. Harga dirinya terinjak-injak saat Jongdae membawa-bawa fisiknya untuk menghinanya. Ia meninggalkan lapangan karena kecewa akan perlakuan sepupunya. Meskipun itu bukan pertama kalinya, yang ia yakin juga bukan untuk yang terakhir kalinya.
Kalimat perumpamaan jika ikatan darah lebih kental daripada air, tidak berlaku lagi untuknya. Kim Jongdae akan berusaha mati-matian untuk merebut perhatian sekaligus bisnis ayahnya, dan ia harus berhati-hati.
***
Luhan tahu jika beberapa bawahan ayahnya memandangnya dengan sinis. Tidak sedikit pula teman bisnis menatapnya dengan tatapan agresif, penuh gairah yang ia pun dibuat merinding.
Ia tidak ingin menyalahkan ibunya, yang merupakan penyumbang gen terbanyak, sehingga ia bertubuh kecil dan perawakannya seperti seorang perempuan, feminim dan manis. Kulit putih mulus bak porselen, bibir tipis, hidung mungil, mata bulat lebar, dan dagu yang meruncing.
Di dalam cermin, Luhan melihat dirinya dengan kelebihan yang bisa membuatnya berada dipuncak. Ya, jika ia tidak bisa menggunakan kemampuannya karena semua orang menyepelekannya, maka ia akan menggunakan tubuhnya. Ia sudah setengah berhasil 'setengah jalan', saat memacari Pak Jimin, seorang anak pejabat tinggi di Korea Selatan. Beberapa kali transaksi gelap berjalan mulus berkat anak itu. Sayangnya ia tidak mengenal konsep 'komitmen'.
Jadi saat Jimin mulai bertingkah, ia meninggalkannya. Ayahnya marah besar saat mengetahui itu. Mengutuknya, tapi yaa.... Tuhan tidak mengabulkan apa yang keluar dari mulut si tua bangsat.
"Kita kehilangan pasar hanya gara-gara kau!!. Gunakan otak mu, dasar anak jalang!!!".
Ia sudah kenyang dengan kata-kata kasar, jadi tak digubrisnya.
"Tuan Luhan" Soojung, pembantu perempuannya berdiri diambang pintu memanggilnya dengan posisi membungkuk-memberi hormat.
"Tuan besar memberikan ini untuk dipakai acara malam ini" sambung gadis yang usianya lebih muda 2 tahun darinya. Luhan mengambilnya lalu menyuruh Soojung keluar kamarnya. Dilihatnya sekilas, Jas merk Armani, ayahnya paham seleranya, tapi tidak dengan warnanya. Abu-abu, yang membuat kulitnya tambah pucat.
Ck, sampai baju pun ia masih diatur-atur.
Luhan berdecak, mencibir dirinya sendiri yang terlalu lemah.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, menyadarkannya dari mengasihi diri sendiri. Luhan membuka pintu dengan kesal, "Tuan besar sudah menunggu, acaranya akan dimulai dalam tiga puluh menit", Sial. Dasar orang tua brengsek.
***
"Aku tidak tahu cara mu menghargai waktu" ayahnya langsung menyambarnya begitu ia memasuki mobil Limo. Ia terdiam. Tidak ada gunanya adu argumen dengan orang paling kolot dan keras kepala seperti ayahnya. Mengabaikan situasi di dalam mobil yang mencekiknya, ia memandangi malam disepanjang perjalanan.
"Kau harus jaga sikap mu nanti. Aku tidak mau kejadian yang lalu terulang. Kalau perlu jadilah anjing yang tunduk pada majikannya.".
Tidak aneh jika ayahnya memperlakukannya seperti binatang peliharaan. Toh di juga dipelihara oleh ayahnya yang berharap ia bisa dipergunakan.
"Ya." jawab Luhan singkat.
-
"Kita sudah sampai, kau! berjalanlah dibelakang ku. Jangan bicara tanpa se-ijin ku. Karena yang keluar dari mulut mu itu sampah" bentak ayahnya. Luhan mengangguk pelan. Menuruti permintaan ayahnya.
Baru kali ini ia menginjakkan kakinya di Casino sekaligus hotel mewah yang bentuknya kapal pesiar. Seperti di hotel-hotel bintang lima, pegawai bergantian memarkirkan mobil para tamu. Bentley seri terbaru, mobil-mobil sport yang hampir mirip dengan kepunyaannya, atau limo yang jumlahnya tidak sedikit.
Wanita-wanita bergaun mewah dengan perhiasan yang mencolok, bergelayut di tangan laki-laki. Mereka adalah wajah-wajah yang sering ia lihat lalu lalang di TV.
"Maaf tuan, apa tuan memiliki undangan?" seorang pelayan mencegat ayahnya yang langsung mengeluarkan kartu invitasi dari balik saku mantelnya dan langsung diterima si pelayan. Kartu itu berbeda dengan kartu undangan lain yang tergeletak di atas meja resepsionis, lebih elegan dan berwarna putih dengan tinta warna perak, tertera nama ayahnya disana,
ZHANG ZHIDONG
Memasuki lobi utama, Luhan tertarik dengan patung perunggu berbentuk burung Merak jantan yang posisinya berada di tengah-tengah, antara pintu masuk . Burung Merak memiliki arti kasta, kekuasaan, kecantikan dan kebebasan. Kemungkinan besar sebagai simbol kapal pesiar. Ia terus berjalan mengikuti ayahnya, melewati lorong panjang dengan kaca kiri kanan, membuatnya leluasa melihat apa yang ada diluar sana. Kolam renang yang luasnya hampir menutupi seluruh lantai dasar kapal. Pria dan wanita bercampur baur dengan gelas cocktail ditangan mereka, Disc Jockey, dan bartender yang melayani pengunjung.
"Mr Zhang, anda sudah ditunggu. Silahkan ikuti wanita ini" kata salah seorang pelayan laki-laki dengan dasi kupu-kupu warna hitam berdiri di depan elevator bertanda 'privat' yang memiliki design elegan, jari pelayan itu menunjuk seorang wanita yang sudah berdiri di dalam elevator.
***
"Mr. Zhang, Silahkan duduk. Mr. Oh Sehun akan segera tiba" Pelayan wanita yang bersama mereka sejak dari elevator , membukakan pintu dan memepersilakan ia dan Ayahnya untuk duduk.
"Ingat pesanku! jangan buka mulut mu" Luhan tak menggubris, matanya berkeliaran kemana-mana, terutama pada anak buah ayahnya, karena ia ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat mendengar dirinya direndahkan.
"Sudah menunggu lama?" seorang laki-laki berdiri diambang pintu menyapa, Luhan langsung memandang ke arah suara. Sedikit terkejut karena laki-laki yang mungkin lebih tua beberapa tahun darinya memiliki wajah yang lumayan. Seperti hasil perkawinan silang, bule. Ia mengikuti gerak laki-laki itu. Dari mulai berjabat tangan dan mengobrol ringan dengan ayahnya.
"Apakah ini anak yang kau maksud?" sedikit tersentak, Luhan baru sadar jika menjadi pusat perhatian dan membuatnya malu. Apalagi laki-laki yang didepannya memandangnya tajam, seperti menelanjanginya.
"Ya, namanya Luhan. Kau harusnya sudah tahu, Oh Sehun" dari nada bicara Ayahnya, terdengar sedikit kesal.
"Ahhh.... iya. hemmmm....." Oh Sehun menggumam, memikirkan sesuatu.
"Deal." Sambung Oh Sehun singkat. Luhan yang sejak tadi seperti orang bingung, tambah bingung. Kesepakatan apa yang mereka bicarakan? Kenapa ia punya firasat buruk?
Kenapa Oh Sehun terlihat mencurigakan?
Tbc
Kalau buru-buru memang tidak sempurna. Jadi masih butuh di edit.... hawhahaha land...
LUHAN POV
Luhan membenci matahari yang membakar kulitnya. Ia membenci matahari yang menyilaukan matanya, serta suara-suara berisik dari pagi hingga siang. Apalagi mendengar suara Kim Jongdae yang terus saja memaki.
"Manfaatkan tubuhmu yang kecil, Lulu!!!!!" Teriak Jongdae sembari terus mengarahkan tinjunya, berharap Luhan yang bertubuh lebih kecil mampu melawan, bukannya terus menghindar. Tetapi napas Luhan mulai memendek, dan ia sudah tidak mampu menghindar lagi. Akhirnya satu pukulan keras mendarat di pelipis kanan Luhan, dan ia jatuh tersungkur.
"Jangan melamun!!!!! Lawan tidak akan segan menggorok leher mu jika kau lengah!!!!" teriak Jongdae sekali lagi. Luhan membalikknya tubuhnya, menatap matahari yang menyinarinya hampir menyakitkan matanya. Ia mengatur napasnya yang tersengal.
Brengsek
Ia selalu menolak jika ayahnya memerintahkan Kim Jongdae mengajarinya. Karena yang dilakukan anak itu hanya memakinya sepanjang hari. Sedangkan ia merasa tidak ada yang perlu dipelajari lagi. Bayangkan, ia sudah melakukannya sejak ia mulai berjalan. Apalagi yang tidak ia ingat? melompat, menghindar atau bahkan membaca gerakan lawan?. Kalau ia mengatakan itu semua keras-keras, pasti Jongdae akan menjawabnya, 'Lalu kenapa kau terjungkal ke tanah hanya karena satu pukulan ringan?', itu semua ada di dalam otaknya.
Tetapi ia selalu dipaksa, katanya, kekuasaan yang sekarang ia nikmati akan di lemparkan kepada yang lebih pantas jika ia tidak bisa tumbuh lebih tinggi dari ayahnya.
"Kau tidak mau bangun ya?!!!!" kata Jongdae sambil menyiramkan seember air dingin ke tubuhnya yang masih terbaring di tanah.
"Oh Shitt!!!!!" umpatnya gelagapan setelah air masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Ia langsung berdiri dan mengibaskan kaos oblongnya.
"Apa yang kau lakukan!!!!!" teriak Luhan tak kalah nyaring, beradu keras dengan suara anak buah ayahnya yang sedang berlatih. Ia bangkit berdiri agak meninggikan tumitnya agar sepadan dengan pria yang dibencinya, Kim Jongdae. Matanya melebar, tulang dagunya menekuk, ia marah.
"Oh, jadi sekarang anak perempuan ingusan ini marah?" Kim Jongdae dengan sengaja mengacungkan jari ke arahnya , pandangan setengah merendahkan. Luhan menggelengkan kepalanya. Harga dirinya terinjak-injak saat Jongdae membawa-bawa fisiknya untuk menghinanya. Ia meninggalkan lapangan karena kecewa akan perlakuan sepupunya. Meskipun itu bukan pertama kalinya, yang ia yakin juga bukan untuk yang terakhir kalinya.
Kalimat perumpamaan jika ikatan darah lebih kental daripada air, tidak berlaku lagi untuknya. Kim Jongdae akan berusaha mati-matian untuk merebut perhatian sekaligus bisnis ayahnya, dan ia harus berhati-hati.
***
Luhan tahu jika beberapa bawahan ayahnya memandangnya dengan sinis. Tidak sedikit pula teman bisnis menatapnya dengan tatapan agresif, penuh gairah yang ia pun dibuat merinding.
Ia tidak ingin menyalahkan ibunya, yang merupakan penyumbang gen terbanyak, sehingga ia bertubuh kecil dan perawakannya seperti seorang perempuan, feminim dan manis. Kulit putih mulus bak porselen, bibir tipis, hidung mungil, mata bulat lebar, dan dagu yang meruncing.
Di dalam cermin, Luhan melihat dirinya dengan kelebihan yang bisa membuatnya berada dipuncak. Ya, jika ia tidak bisa menggunakan kemampuannya karena semua orang menyepelekannya, maka ia akan menggunakan tubuhnya. Ia sudah setengah berhasil 'setengah jalan', saat memacari Pak Jimin, seorang anak pejabat tinggi di Korea Selatan. Beberapa kali transaksi gelap berjalan mulus berkat anak itu. Sayangnya ia tidak mengenal konsep 'komitmen'.
Jadi saat Jimin mulai bertingkah, ia meninggalkannya. Ayahnya marah besar saat mengetahui itu. Mengutuknya, tapi yaa.... Tuhan tidak mengabulkan apa yang keluar dari mulut si tua bangsat.
"Kita kehilangan pasar hanya gara-gara kau!!. Gunakan otak mu, dasar anak jalang!!!".
Ia sudah kenyang dengan kata-kata kasar, jadi tak digubrisnya.
"Tuan Luhan" Soojung, pembantu perempuannya berdiri diambang pintu memanggilnya dengan posisi membungkuk-memberi hormat.
"Tuan besar memberikan ini untuk dipakai acara malam ini" sambung gadis yang usianya lebih muda 2 tahun darinya. Luhan mengambilnya lalu menyuruh Soojung keluar kamarnya. Dilihatnya sekilas, Jas merk Armani, ayahnya paham seleranya, tapi tidak dengan warnanya. Abu-abu, yang membuat kulitnya tambah pucat.
Ck, sampai baju pun ia masih diatur-atur.
Luhan berdecak, mencibir dirinya sendiri yang terlalu lemah.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, menyadarkannya dari mengasihi diri sendiri. Luhan membuka pintu dengan kesal, "Tuan besar sudah menunggu, acaranya akan dimulai dalam tiga puluh menit", Sial. Dasar orang tua brengsek.
***
"Aku tidak tahu cara mu menghargai waktu" ayahnya langsung menyambarnya begitu ia memasuki mobil Limo. Ia terdiam. Tidak ada gunanya adu argumen dengan orang paling kolot dan keras kepala seperti ayahnya. Mengabaikan situasi di dalam mobil yang mencekiknya, ia memandangi malam disepanjang perjalanan.
"Kau harus jaga sikap mu nanti. Aku tidak mau kejadian yang lalu terulang. Kalau perlu jadilah anjing yang tunduk pada majikannya.".
Tidak aneh jika ayahnya memperlakukannya seperti binatang peliharaan. Toh di juga dipelihara oleh ayahnya yang berharap ia bisa dipergunakan.
"Ya." jawab Luhan singkat.
-
"Kita sudah sampai, kau! berjalanlah dibelakang ku. Jangan bicara tanpa se-ijin ku. Karena yang keluar dari mulut mu itu sampah" bentak ayahnya. Luhan mengangguk pelan. Menuruti permintaan ayahnya.
Baru kali ini ia menginjakkan kakinya di Casino sekaligus hotel mewah yang bentuknya kapal pesiar. Seperti di hotel-hotel bintang lima, pegawai bergantian memarkirkan mobil para tamu. Bentley seri terbaru, mobil-mobil sport yang hampir mirip dengan kepunyaannya, atau limo yang jumlahnya tidak sedikit.
Wanita-wanita bergaun mewah dengan perhiasan yang mencolok, bergelayut di tangan laki-laki. Mereka adalah wajah-wajah yang sering ia lihat lalu lalang di TV.
"Maaf tuan, apa tuan memiliki undangan?" seorang pelayan mencegat ayahnya yang langsung mengeluarkan kartu invitasi dari balik saku mantelnya dan langsung diterima si pelayan. Kartu itu berbeda dengan kartu undangan lain yang tergeletak di atas meja resepsionis, lebih elegan dan berwarna putih dengan tinta warna perak, tertera nama ayahnya disana,
ZHANG ZHIDONG
Memasuki lobi utama, Luhan tertarik dengan patung perunggu berbentuk burung Merak jantan yang posisinya berada di tengah-tengah, antara pintu masuk . Burung Merak memiliki arti kasta, kekuasaan, kecantikan dan kebebasan. Kemungkinan besar sebagai simbol kapal pesiar. Ia terus berjalan mengikuti ayahnya, melewati lorong panjang dengan kaca kiri kanan, membuatnya leluasa melihat apa yang ada diluar sana. Kolam renang yang luasnya hampir menutupi seluruh lantai dasar kapal. Pria dan wanita bercampur baur dengan gelas cocktail ditangan mereka, Disc Jockey, dan bartender yang melayani pengunjung.
"Mr Zhang, anda sudah ditunggu. Silahkan ikuti wanita ini" kata salah seorang pelayan laki-laki dengan dasi kupu-kupu warna hitam berdiri di depan elevator bertanda 'privat' yang memiliki design elegan, jari pelayan itu menunjuk seorang wanita yang sudah berdiri di dalam elevator.
***
"Mr. Zhang, Silahkan duduk. Mr. Oh Sehun akan segera tiba" Pelayan wanita yang bersama mereka sejak dari elevator , membukakan pintu dan memepersilakan ia dan Ayahnya untuk duduk.
"Ingat pesanku! jangan buka mulut mu" Luhan tak menggubris, matanya berkeliaran kemana-mana, terutama pada anak buah ayahnya, karena ia ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat mendengar dirinya direndahkan.
"Sudah menunggu lama?" seorang laki-laki berdiri diambang pintu menyapa, Luhan langsung memandang ke arah suara. Sedikit terkejut karena laki-laki yang mungkin lebih tua beberapa tahun darinya memiliki wajah yang lumayan. Seperti hasil perkawinan silang, bule. Ia mengikuti gerak laki-laki itu. Dari mulai berjabat tangan dan mengobrol ringan dengan ayahnya.
"Apakah ini anak yang kau maksud?" sedikit tersentak, Luhan baru sadar jika menjadi pusat perhatian dan membuatnya malu. Apalagi laki-laki yang didepannya memandangnya tajam, seperti menelanjanginya.
"Ya, namanya Luhan. Kau harusnya sudah tahu, Oh Sehun" dari nada bicara Ayahnya, terdengar sedikit kesal.
"Ahhh.... iya. hemmmm....." Oh Sehun menggumam, memikirkan sesuatu.
"Deal." Sambung Oh Sehun singkat. Luhan yang sejak tadi seperti orang bingung, tambah bingung. Kesepakatan apa yang mereka bicarakan? Kenapa ia punya firasat buruk?
Kenapa Oh Sehun terlihat mencurigakan?
Tbc
Kalau buru-buru memang tidak sempurna. Jadi masih butuh di edit.... hawhahaha land...






