Saturday, August 19, 2017

Fanficbox : Hold Me Tight (Part V)




Title         : Hold Me Tight ( Part V )
Chapter   : Part I | Part II | Part III 
Cast        : 
  • Luhan 
  • Baekhyun EXO
  • Oh Sehun EXO
  • Kim Jongdae EXO

Genre       : MxB, Action, Drama
Rating      : PG-15
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Baekhyun

Selagi menunggu kabar dari Oh Sehun, dia mencari jawaban sendiri. Di ruangan kerja yang terpisah dengan pegawai lain – ia tidak suka keramaian – ia menggelar semua bukti kasus yang sudah ia kumpulkan menjadi jurnal. Dalam ruangannya sangatlah sederhana. Hanya ada satu set meja kerja dan lemari arsip. Dan satu bingkai foto keluarganya.

Ia mencoba  membuat ilustrasi dari gambar yang terlihat buram. Ia memutar otak, mengira-ngira hingga mencarinya di internet. Ia sudah  menghabiskan dua cangkir kopi hitam, dan satu gelas ekspreso dingin. Tetapi ditengah keputusasaannya, ia menemukan yang dicarinya.
Karena sepertinya keberuntungan sedang berpihak dengannya, salah satu webpage yang muncul dari hasil pencarian hampir menunjukkan gambar yang sama. Tetapi setelah ia membukan halaman web hasilnya adalah barisan tulisan dengan bahasa mandarin. Ia tidak begitu pandai dalam bahasa yang satu ini. Buru-buru ia mencetaknya dan membawanya kepada ahlinya, Suho.

***

“Hyung....” Baekhyun disambut dengan sedikit kaget oleh Suho saat melihatnya masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa. Baekhyun berdiri di tengah ruangan dengan kikuk. Ini adalah kedua kali ia bertemu dengan Suho setelah ia keluar dari rumah sakit. Ia sedikit kecewa saat Suho tidak jadi menjenguknya, padahal ia sudah menunggunya. Selain Oh Sehun, kawan karibnya yang lain adalah Suho. Bukan karena sering diberi kasus yang sama, tetapi saat ia menemukan hal yang janggal dan ia tidak bisa menyelesaikannya, maka Suho lah tempat terakhir yang ia tuju.

“Ah... iya... aku kesini butuh bantuannmu” kemudian Baekhyun duduk di kursi tepat di depan meja kerja Suho. Tangannya sedikit gemetar, karena terlalu senang.
“Aku ingin kau menerjemahkannya ke dalam hangul. Aku sedikit kesulitan mengartikannya karena pengetahuannku terbatas.” Baekhyun memberikan kertas yang dibawanya. Suho melihatnya sekilas.

“Hemmm.....” Suho memijit dagunya pelan sambil bergumam, “Aku bisa menyelesaikannya dalam sepuluh menit. Apa kau akan menuggu hingga aku selesai menterjemahkannya?” tanyanya.

“Aku akan ke kafetaria saja. Apa ada yang kau inginkan? Kopi? Teh?” Baekhyun menawari Suho. Berharap temannya memesan sesuatu sebagai balasbudinya.

“Kopi hitam dengan satu gula”. Ia tersenyum mendengarnya. Selera Suho belum berubah.

“Oke” jawabnya singkat.

***

Baekhyun sudah menghabiskan kopi ketiganya sore itu. Ia yang awalnya duduk di depan Suho sambil memperhatikan anak itu menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya ia pindah tempat karena merasa suntuk. Jarang-jarang ia masuk ke ruangan juniornya karena kesibukan yang berbeda. Ia adalah tipe orang yang suka dengan tantangan dan petualangan, jadi jika ia ditempatkan pada ruangan tiga kali tiga meter maka sebentar saja ia akan kram. Sedangkan Suho adalah orang yang lebih suka duduk berlama-lama di depan komputer dan perangkat teknologi lainnya. Mereka mungkin hanya dua kali dalam sebulan bertemu, tetapi mereka berteman akrab.

Lima menit berlalu, tapi Suho belum juga selesai, apalagi Oh Sehun. Anak itu tidak masuk kantor dan tidak ada kabar. Keduanya sama-sama membuat resah batinnya. Jari-jarinya memainkan ketukan pada meja untuk mengurangi ketegangannya.

“Hyung, kalau kau tidak bisa diam, kau bisa menunggu ku diruang mu, aku nanti akan kesana”kata Suho yang sudah gerah dengan tingkah Baekhyun.

 “Oh!! Maafkan aku karena mengganggu pekerjaan mu” sahut Baekhyun setelah mendengar nada masam Suho.

“Ah, tidak apa-apa, tapi kalau kau terus membuat suara, konentrasi ku buyar, hyung.”.

“Baiklah aku akan diam”.

Tiga menit kemudian, Baekhyun sudah mendapatkan hasilnya. Ia membaca secara hati-hati artikel dari laman berita china itu.

Anak perusahaan Hong Group yang bermarkas di Seoul, Korea Selatan membuka Casino ke tiganya di Macau, Hongkong. Mengambil tema ‘Royal’ , Casino dibagun di atas kapal pesiar yang mewah dengan fasilitas bintang lima. Dari mulai hotel,...
Baekhyun tidak melanjutkan, yang menarik perhatiannya adalah simbol yang posisinya  sebagai background foto yang di pasang pada kolom artikel.

“Suho-ya, kau tahu arti dari simbol ini?”.

“Oh Itu, adalah fenghuong, artinya burung phoenix, sejenis burung merak. Bisa juga diartikan sebagai simbol kemewahan, atau keagungan ”kata Suho menjelaskan.

“Apa mungkin pembunuhan istri ku ada hubungannya dengan Hong Group?” kata Baekhyun setengah bertanya pada temannya.

“Bisa saja, karena tulisan itu sangat mirip” jawab Suho singkat.

“Apa kau bisa membantu ku untuk menyusup dalam kelompok mereka?”
Suho mengkerutkan dahinya mendengar itu.

“Aku tidak yakin, karena grup ini sangat tertutup. Tidak pernah menerima anggota baru. Dan terhadap orang luar mereka skeptikal. Tapi mungkin kau bisa lebih dekat jika bergabung dengan rivalnya. Mereka bermarkas di Macau, Cina.  Baru-baru ini bawahan ku menerima informasi jika mereka menjalin kerjasama dengan Hong Group. Jadi mungkin hubungan mereka telah membaik. Ini sangat bagus untuk mu. Hanya saja, kau harus meningkatkan bahasa mandarin mu yang kacau itu agar mereka tidak curiga.” Setelah mendengarkan penjelasan Suho panjang lebar, ini adalah ide yang paling mungkin.

“Akan aku siapkan segalanya. Beri aku waktu seminggu”.

  “Dan aku tidak tahu kenapa logo perusahaan ada di topeng salah satu pembunuh istri mu. Ini sangat random, kecuali jika memang mereka adalah suruhan mereka langsung, dan logo yang secara sengaja mereka perlihatkan memang ditujukan sebagai peringatan. Tapi setahuku kau tidak pernah berurusan dengan mereka, benarkan?”. Baekhyun mengangguk pelan.  

Karakter penulisannya sangat mirip dengan yang ada di foto yang aku cetak kemarin. Apakah ini ada hubungannya dengan mereka?.

Tapi seingatnya tidak pernah ia menyelidiki kasus yang berhubungan dengan Hong Grup. Jadi motif dendamnya apa?

***
“Bos, Detektif itu sudah menemukannya”.

Oh Sehun tidak kaget.

“Oke, kau boleh pergi”.

Oh Sehun tidak merasa bersalah karena kejadian itu adalah salah paham. Suatu saat nanti pasti kasus ini terpecahkan dan resikonya adalah terbuka semua kedoknya. Tapi sebelum semua itu terjadi dia hanya akan bungkam.



 tbc

Wednesday, August 16, 2017

Fanficsbox : Hold Me Tight (Part IV)


Title         : Hold Me Tight ( Part IV )
Chapter   : Part I | Part II | Part III 
Cast        : 
  • Luhan 
  • Baekhyun EXO
  • Oh Sehun EXO
  • Kim Jongdae EXO
Genre       : MxB, Action, Drama
Rating      : PG-15



=====================================================================

Luhan POV

Hal pertama yang Luhan sadari begitu membuka matanya adalah ia berada di kamarnya. Matanya melihat kiri-kanan kemudian berniat bangun dari tempat tidur karena merasa ada yang aneh. Tapi diurungkannya karena pusing tiba-tiba menyerang. Selain itu buritnya terasa nyeri yang menjalar sampai tulang belakangnya. Matanya mendelik tajam, rasa nyeri itu?!. Meski tidak pernah mengalaminya tapi ia tidak asing. Selalu mendengarnya ketika ia dan pasangannya melakukan hubungan seksual tanpa persiapan. Dan ia tidak pernah berada diposisi bawah. Ini pertama kalinya. Alarm dalam kepalanya menyala.

‘Tidak mungkin’ Bantah hatinya.

“Oh?! Kau sudah bangun? Aku membawakan obat pereda nyeri dan segelas air” Luhan kaget saat melihat Oh Sehun berdiri diambang pintu. Lalu ia melihat kondisinya, dibawah selimut ia tanpa pakaian. Luhan mulai panik, ia belum ingat apa yang ia lakukan semalam. 

 “Hei...tenang...aku menemukan mu diluar klub malam dalam keadaan mabuk, lalu aku membawa mu pulang” Jawaban Oh Sehun tidak lantas membuatnya tenang. Pikirannya kacau, pertanyaan-pertanyaan dalam dikepalanya belum terjawab. 

“Benarkah?”  Ia menatap Oh Sehun lama, otaknya terus berputar mencari kebenaran. Luhan menaruh curiga jika laki-laki yang ada didepannya itu berbohong. 

“Minumlah ini agar nyeri mu hilang” Sehun menyodorkan sebutir pil dan segelas air yang dibawanya. Luhan menerimanya lalu diteguknya bersamaan. 
"Terima kasih".

Oh Sehun terdiam.

"Aku tidak minum alkohol semalam, yang aku pesan hanya minuman soda. Tapi kau menemukan ku di luar klub dalam keadaan mabuk?" Luhan bicara, bicara sangat cepat. Diantara rasa panik dan marah, ia berpikir seseorang memasukkan obat kedalam minumannya. 

Kim Jongdae. Si bangsat itu. 

Ya dia yakin Jongdae yang melakukannya. Karena semalam hanya mereka berdua yang pergi ke klub.
"Mungkin kau lupa?" jawaban Sehun separuh  bertanya.
"Tidak. Aku yakin ada seseorang yang menaruh sesuatu diminuman ku. Aku memiliki tolerani alkohol yang cukup tinggi, jadi tidak mungkin aku seteler itu sampai tidak ingat". Rasa penasaran Luhan tak hilang. Siapa yang melakukannya?.

***

Luhan tidak akan mengingatnya. 

Karena terlihat sesekali laki-laki berwajah tirus itu menggelengkan kepala, tanda bahwa ia mencoba mengingat sesuatu. Dan kemudian mengkerutkan keningnya karena masih ragu-ragu. Sehun menarik kedua lengan Luhan, memposisikannya agar berhadapan dengannya. Lalu Sehun menatap bola mata Luhan dalam-dalam. Bola mata berwarna hijau Zamrud itu bergerak tak tentu arah, mungkin karena malu.

"Kita akan menemukan orang yang melakukannya padamu. Yang merendahkan harga dirimu, aku akan membantu mu". Wajah Luhan menunduk, pipi hingga pangkal lehernya bersemu merah, tetapi tidak tersenyum.
"Sekarang aku akan pulang. Tapi besok aku akan kembali, dan bersiaplah kita akan pergi keluar" setelah Oh Sehun selesai mengatakan itu, ia lalu keluar dari kamar Luhan.  Membiarkan laki-laki yang berperawakan seperti wanita itu mencerna kata-katanya.

Dalam perjalanannya menuju tangga, ia bertemu dengan ayah Luhan. Pria yang umurnya dua kali darinya dan bertubuh tegap itu hanya menganggukkan kepala.

Aku tahu. 

***

Luhan mengetuk-ngetukkan tumitnya pada lantai rumah sakit, ia khawatir soal hasil tesnya. Setelah Oh Sehun pulang, ia bergegas menghubungi dokter pribadinya dan langsung membuat janji untuk bertemu. Dan disanalah Luhan sekarang, duduk diruang pemeriksaan menunggu dokter Mavis Luo membawakan kabar baik dari hasil laboratorium.

"Maaf Luhan karena menunggu lama" Dokter Luo kemudian duduk dengan selembar kertas ditangannya.
"Ah...iya. Aku hanya khawatir dengan hasilnya" Luhan sudah menceritakan semuanya dan dokter Luo menyarankan untuk melakukan tes. Karena dari yang dokter Luo katakan , ia bisa saja adalah korban.
"Hasil tes ada ditemukan tiga DNA berbeda dari sampel yang diambil dari tubuh mu. Kemungkinan tiga orang telah melakukannya dengan mu. Dan minimnya persiapan, membuat beberapa bagian mengalami pendarahan ringan. Tetapi aku masih menunggu hasil tes yang lebih lengkap, kemungkinan kau tertular penyakit bisa diketahui setelah aku menerimanya dari bagian laboratorium. Saran ku agar kau menghentikan segala aktivitas seksual sampai tiga bulan".

Luhan bagai disambar petir disiang bolong mendengar penjelasan dokter pribadinya. Antara percaya dan tidak. Air matanya menggenang, tangannya gemetar, ia mulai terisak. Doker Luo langsung memeluknya.
"Semoga hasil tes mu baik-baik saja, aku berdoa untuk mu" wanita yang hampir seumuran dengan ayahnya itu terus menyemangatinya. Ia melepaskan pelukannya dengan berat hati.
"Terima kasih" ucapnya, lalu pergi meninggalkan ruangan dengan hasil tes di saku kanan mantelnya.

***

"Kau!!!! Manusia sialan!!!" Luhan langsung menerjang Jongdae yang berdiri di depan pintu gerbang. Jongdae yang tidak sempat menghindar jatuh ke tanah. Tanpa jeda, Luhan memukuli wajah Jongdae berkali-kali. Mencekiknya lalu memukulinya hingga hidung dan mulut Jongdae berdarah-darah yang malah justru membuat Luhan murka. Jongdae berusaha melindungi wajahnya dengan kedua lengannya. Tidak puas, Luhan berdiri lalu menendangi rusuk dan bagian perut Jongdae. Ia berniat membunuhnya.
Kim Jongdae sadar jika ia membuat Luhan berapi-api, malah tertawa keras.
"Hahaha... bagaimana rasanya, hah?!!! pasti kau menikmatinya" ledeknya di sela-sela tawanya.

Wajah Luhan memerah. Kata-kata yang dilontarkan Jongdae membuatnya naik pitam. Tidak puas, Luhan berdiri lalu menendangi rusuk dan bagian perut Jongdae. Ia berniat membunuhnya. Tidak peduli jika Kim Jongdae terkapar tanpa perlawanan.

Beberapa anak buah ayahnya yang melihatnya memukuli Jongdae berusaha melerai.
Pundaknya dirangkul lalu ia diseret menjauhi tubuh Jongdae yang tergeletak di tanah. Luhan meronta. Mengeluarkan sumpah serapah.

"Awas kau Kim Jongdae. Akan ku bunuh kau".

"Diam kau!!! Aku tidak tahu setan apa yang merasuki mu" ayahnya langsung menyambarnya begitu ia sampai di ruang utama. Napas Luhan masih tidak beraturan, emosinya belum turun, Kim Jongdae masih hidup.

"Jika kau membunuhnya , aku yang akan menembak kepalamu. Dasar anak tidak berguna. Kau tahu apa akibatnya saat kau membuatnya babak belur?!! Hah!!!". Pipi Luhan terasa panas saat tangan ayahnya menamparnya. Ayahnya menarik kerah bajunya.

"Hari ini ada bongkar muat dan Kim Jongdae sebagai foreman bertanggung jawab atas muatan sampai ke tujuan. Apa kau mau bertanggung jawab jika barang datang molor dari yang dijadwalkan?".

Kali ini ia merasa benar-benar tidak berguna. Dipermalukan di depan orang banyak, rasa-rasanya ia ingin menghabisi nyawanya sendiri.

Tbc

























  


Sunday, August 6, 2017

Fanficsbox : Hold Me Tight (Part III)


Title         : Hold Me Tight ( Part II )
Chapter   : Prolog |  Part I | Part II Part III | Part IV
Cast        : 
  • Luhan  
  • Baekhyun
  • Oh Sehun
  • Kim Jongdae
Genre       : MxB, Action, Drama
Rating      : PG-15


=====================================================================


BAEKHYUN

Malam itu ia duduk di meja kerjanya. Mengeluarkan barang bukti yang ia dapat dari kepolisian. Mulai dari foto dan barang-barang yang ditemukan di lokasi kejadian, hingga rekaman kamera cctv yang datanya telah ia tampung dalam usb.

Meski separuh hatinya merasa keberatan karena ia harus mengingat kejadian mengerikan itu, tetapi sebagian lagi teguh untuk mencari siapa pembunuhnya.
Tidak sepenuhnya ia merekam dalam memorinya apa yang sebenarnya terjadi tiga bulan yang lalu. Tahu-tahu ia sudah dirumah sakit , menjalani rehabilitasi karena ia menderita stres berat. Tetapi dalam sela-sela terapinya, entah itu siang ataupun malam , saat matanya terpejam, ia akan dihampiri mimpi buruk yang berkepanjangan. 

Ia bermimpi Taeyeon dan Jinri berlumuran darah di ruang keluarga. Suara tangisan Jinri memanggil namanya, suara tebasan pedang dan Taeyeon yang memohon ampun dengan suara parau. Itu semua tidak bisa ia hapus dari ingatannya sampai sekarang, karena begitu jelasnya. Seperti ia benar-benar berada disana dan menyaksikan itu semua. Tetapi dokter sudah menjelaskan bahwa ia tidak ada disana saat itu terjadi. Katanya, Oh Sehun lah yang membawanya ke rumah sakit setelah menemukan dirinya dalam bathtub dengan urat nadi hampir putus.

Sesalnya tak sampai disitu, ia melewatkan pemakaman keduanya. Karena kondisinya tidak stabil, maka ia hanya diberitahu bahwa pemakaman itu dihadiri mertuanya serta keluarga dekatnya.

Sekarang adalah bagiannya untuk mengungkap kasus itu. Setelah polisi mandeg menyelidikinya karena menemukan jalan buntu.  Dalam dugaannya, antara orang yang pernah diselidikinya kemudian menaruh dendam atau justru ia tidak mengenalnya tapi tahu dipekerjakan oleh siapa.

Pertama Baekhyun menyetel rekaman cctv yang terpasang dihalaman depan rumah. Tertera tanggal dilayar dua puluh tiga desember tahun dua ribu lima belas, pukul enam sore lebih enam menit. Dalam lima menit pertama tidak ada hal ganjil, kendaraan yang bisa dihitung dengan jari, lalu-lalang di jalan raya. 

Ia tidak mempercepat video yang ia putar karena takut melewatkan petunjuk yang penting. Sembilan menit kemudian, terlihat mobil masuk ke halaman rumahnya, ia tahu mobil itu adalah milik Taeyeon. Benar saja, Taeyeon dan Jinri keluar dari dalam mobil dan masuk  kedalam rumah. Melihat keduanya membuat dadanya  sesak. Dipukulnya dengan keras untuk melegakan sesaknya. Air matanya sudah mengembun di pelupuk matanya, sehingga pandangannya kabur. Diusap kedua matanya dengan lengan baju. Sampai rekaman itu berakhir, sekitar tiga puluh menit, tidak terlihat Taeyeon maupun Jinri Keluar rumah. 

Kemudian Baekhyun melanjutkan dengan rekaman kedua. Kamera CCTV yang ia pasang di ruang tamu. Dalam rumahnya hanya ada dua CCTV, ruang tamu dan di kamar Jinri. Ia tidak memasang di Ruang keluarga dengan alasan di dua tempat saja sudah cukup. Sekarang ia menyesalinya. Karena pasti tidak akan mudah mencari pembunuh itu.

Di layar tertera jam yang sama dengan yang pertama, enam sore lewat enam menit. Dan saat Taeyeon yang menggandeng Jinri membuka pintu kemudian menutupnya kembali sudah empat menit lamanya. Karena CCTV tidak bisa menjangkau ruang keluarga, maka apa yang dilakukan Taeyeon dan Jinri, ia tak melihatnya. Rekaman terus berjalan, masih tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Hingga pada rekaman, jam ada pada delapan kurang satu menit, pintu depan didobrak, ada lima orang dengan penutup kepala dan sarung tangan. Jantung Baekhyun tidak karuan,

‘Jadi itu mereka? ‘ batinnya. Mereka semua pembunuhnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Baekhyun melihat satu diantara mereka mendekati kamera dan mematikannya.

“SIAL!!!!! SIAL!!!” umpatnya. Ia menenangkan deru napasnya, mendinginkan kepalanya. Ia kemudian kembali duduk, menyetel ulang rekaman itu sampai dengan dimana mereka mematikan kameranya. Baekhyun menurukan kecepatannya dari normal menjadi 0,25. Dengan kecepatan yang lebih lambat, ia melihat di bagian pangkal pelipis ada simbol saat orang itu mendekat untuk mematikan kamera. Ia sendiri masih ragu karena simbol itu sangat kecil. 
Kemudian ia menjeda video dan memperbesar layar. Karena masih belum terpecahkan, ia mencetaknya diatas kertas.

Sebentar-sebentar ia mengalihkan matanya dari layar komputer yang masih memutar rekaman ketiganya, rekaman cctv yang dipasang di kamar Jinri, untuk menatap simbol - ya, iya yakin itu simbol- yang ia tempel di white board, bersama dengan foto-foto yang ia dapat. Perasaannya masih dihantui rasa penasaran jika ia tak bisa memecahkannya. Tapi sampai pagi menjelang, Baekhyun belum juga mendapat jawaban.

***

“Hemmm..... sebentar....” Oh Sehun memandangi kertas ditangannya dengan dahi berkerut. Selain karena cetakan yang berwarna hitam putih, juga karena kualitasnya yang begitu buruk sehingga sulit dibaca. Baekhyun yang duduk didepannya, memandang dengan penuh harap, membuat Sehun tak enak hati.

“Bukankah kau akan membaca hasil otopsi yang aku berikan pada mu?” Oh Sehun mengingatkan laki-laki dihadapannya yang terlihat resah.

“Ah... itu... aku sudah membacanya semalam. Tapi entah kenapa hanya gambar itu yang aku pikirkan. Rasa penasarann ku tidak hilang bahkan saat Suho mengatakan itu karena topeng yang mereka pakai berlubang” ia hanya mengangguk pelan mendengarnya. Matanya tidak langsung menatap Baekhyun saat ia mendengarkan laki-laki itu bicara.

Maafkan aku

“Aku dengar direktur akan memberi mu kasus baru, tapi jika kau merasa keberatan karena perhatian mu saat ini adalah menemukan pelakunya, aku bisa membantu mu untuk bicara dengannya” Oh Sehun mencari topik lain. Ia memasukkan kertas itu kedalam laci.

“Ya, kemarin siang ia bicara dengan ku. Tapi aku beralasan jika belum stabil. Memang benar sih, dokter telah menyatakan telah sembuh... hahahaha” tawa Baekhyun terdengar pilu, Oh Sehun memalingkan wajahnya, cemas. “aku diperlakukan seperti orang yang baru saja sukses menjalani pembedahan, padahal tidak seorang pun tahu apa yang aku rasakan” ekspresi sahabatnya itu berubah menjadi pahit. Mendengarnya, Oh Sehun hanya terdiam.

Kemudian teman karibnya itu bangit dari tempat duduknya, menawarkan senyum ramahnya, “aku pamit dulu. Kabari aku jika kau menemukan sesuatu” Oh Sehun menahan napasnya, sampai Baekhyun keluar dari ruangannya, ia baru melemaskan otot tubuhnya yang panik.

Ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam lacinya, kemudian merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponselnya,

“Aku menemukan sesuatu” katanya singkat.

Tbc

Note : 

haii... maaf yang nunggu lama, karena author masih sibuk dengan macem-macem jadi ini chap di post tanpa diedit... maaf yaaa.... 
annyeong......















Wednesday, August 2, 2017

Fanficsbox : Hold Me Tight (Part II)


Title         : Hold Me Tight ( Part II )
Chapter   : Prolog |  Part I | Part II Part III | Part IV
Cast        : 

  • Luhan 
  • Baekhyun
Genre       : MxB, Action, Drama
Rating      : PG-15

=====================================================================

LUHAN POV

Luhan membenci matahari yang membakar kulitnya. Ia membenci matahari yang menyilaukan matanya, serta suara-suara berisik dari pagi hingga siang. Apalagi mendengar suara Kim Jongdae yang terus saja memaki. 

"Manfaatkan tubuhmu yang kecil, Lulu!!!!!" Teriak Jongdae sembari terus mengarahkan tinjunya, berharap Luhan yang bertubuh lebih kecil mampu melawan, bukannya terus menghindar. Tetapi napas Luhan mulai memendek, dan ia sudah tidak mampu menghindar lagi. Akhirnya satu pukulan keras mendarat di pelipis kanan Luhan, dan ia jatuh tersungkur. 

"Jangan melamun!!!!! Lawan tidak akan segan menggorok leher mu jika kau lengah!!!!" teriak Jongdae sekali lagi. Luhan membalikknya tubuhnya, menatap matahari yang menyinarinya hampir menyakitkan matanya. Ia mengatur napasnya yang tersengal. 

Brengsek

Ia selalu menolak jika ayahnya memerintahkan Kim Jongdae mengajarinya. Karena yang dilakukan anak itu hanya memakinya sepanjang hari. Sedangkan ia merasa tidak ada yang perlu dipelajari lagi. Bayangkan, ia sudah melakukannya sejak ia mulai berjalan. Apalagi yang tidak ia ingat? melompat, menghindar atau bahkan membaca gerakan lawan?. Kalau ia mengatakan itu semua keras-keras, pasti Jongdae akan menjawabnya, 'Lalu kenapa kau terjungkal ke tanah hanya karena satu pukulan ringan?', itu semua ada di dalam otaknya.
Tetapi ia selalu dipaksa, katanya, kekuasaan yang sekarang ia nikmati akan di lemparkan kepada yang lebih pantas jika ia tidak bisa tumbuh lebih tinggi dari ayahnya. 


"Kau tidak mau bangun ya?!!!!" kata Jongdae sambil menyiramkan seember air dingin ke tubuhnya yang masih terbaring di tanah. 

"Oh Shitt!!!!!" umpatnya gelagapan setelah air masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Ia langsung berdiri dan mengibaskan kaos oblongnya.  

"Apa yang kau lakukan!!!!!" teriak Luhan tak kalah nyaring, beradu keras dengan suara anak buah ayahnya yang sedang berlatih. Ia bangkit berdiri agak meninggikan tumitnya agar sepadan dengan pria yang dibencinya, Kim Jongdae. Matanya melebar, tulang dagunya menekuk, ia marah. 

"Oh, jadi sekarang anak perempuan ingusan ini marah?" Kim Jongdae dengan sengaja mengacungkan jari ke arahnya , pandangan setengah merendahkan. Luhan menggelengkan kepalanya. Harga dirinya terinjak-injak saat Jongdae membawa-bawa fisiknya untuk menghinanya. Ia meninggalkan lapangan karena kecewa akan perlakuan sepupunya. Meskipun itu bukan pertama kalinya, yang ia yakin juga bukan untuk yang terakhir kalinya.  

Kalimat perumpamaan jika ikatan darah lebih kental daripada air, tidak berlaku lagi untuknya. Kim Jongdae akan berusaha mati-matian untuk merebut perhatian sekaligus bisnis ayahnya, dan ia harus berhati-hati. 


***

Luhan tahu jika beberapa bawahan ayahnya memandangnya dengan sinis. Tidak sedikit pula teman bisnis menatapnya dengan tatapan agresif, penuh gairah yang ia pun dibuat merinding. 
Ia tidak ingin menyalahkan ibunya,  yang merupakan penyumbang gen terbanyak, sehingga ia bertubuh kecil dan perawakannya seperti seorang perempuan, feminim dan manis. Kulit putih mulus bak porselen, bibir tipis, hidung mungil, mata bulat lebar,  dan dagu yang meruncing.

Di dalam cermin, Luhan melihat dirinya dengan kelebihan yang bisa  membuatnya berada dipuncak. Ya, jika ia tidak bisa menggunakan kemampuannya karena semua orang menyepelekannya, maka ia akan menggunakan tubuhnya. Ia sudah setengah berhasil 'setengah jalan', saat memacari Pak Jimin, seorang anak pejabat tinggi di Korea Selatan. Beberapa kali transaksi gelap berjalan mulus berkat anak itu. Sayangnya ia tidak mengenal konsep 'komitmen'. 

Jadi saat Jimin mulai bertingkah, ia meninggalkannya. Ayahnya marah besar saat mengetahui itu. Mengutuknya, tapi yaa.... Tuhan tidak mengabulkan apa yang keluar dari mulut si tua bangsat. 

"Kita kehilangan pasar hanya gara-gara kau!!. Gunakan otak mu, dasar anak jalang!!!". 

Ia sudah kenyang dengan kata-kata kasar, jadi tak digubrisnya. 

"Tuan Luhan" Soojung, pembantu perempuannya berdiri diambang pintu memanggilnya dengan posisi membungkuk-memberi hormat. 
"Tuan besar memberikan ini untuk dipakai acara malam ini" sambung gadis yang usianya lebih muda 2 tahun darinya. Luhan  mengambilnya lalu menyuruh Soojung keluar kamarnya. Dilihatnya sekilas, Jas merk Armani, ayahnya paham seleranya, tapi tidak dengan warnanya. Abu-abu, yang membuat kulitnya tambah pucat.

Ck, sampai baju pun ia masih diatur-atur. 

Luhan berdecak, mencibir dirinya sendiri yang terlalu lemah. 

Seseorang mengetuk pintu kamarnya, menyadarkannya dari mengasihi diri sendiri. Luhan membuka pintu dengan kesal, "Tuan besar sudah menunggu, acaranya akan dimulai dalam tiga puluh menit", Sial. Dasar orang tua brengsek. 

***

"Aku tidak tahu cara mu menghargai waktu" ayahnya langsung menyambarnya begitu ia memasuki mobil Limo. Ia terdiam. Tidak ada gunanya adu argumen dengan orang paling kolot dan keras kepala seperti ayahnya. Mengabaikan situasi di dalam mobil yang mencekiknya, ia memandangi malam disepanjang perjalanan. 

"Kau harus jaga sikap mu nanti. Aku tidak mau kejadian yang lalu terulang. Kalau perlu jadilah anjing yang tunduk pada majikannya.". 
Tidak aneh jika ayahnya memperlakukannya seperti binatang peliharaan. Toh di juga dipelihara oleh ayahnya yang berharap ia bisa dipergunakan. 
"Ya." jawab Luhan singkat. 

-

"Kita sudah sampai, kau! berjalanlah dibelakang ku. Jangan bicara tanpa se-ijin ku. Karena yang keluar dari mulut mu itu sampah" bentak ayahnya. Luhan mengangguk pelan. Menuruti permintaan ayahnya. 

Baru kali ini ia menginjakkan kakinya di Casino sekaligus hotel mewah yang bentuknya kapal pesiar. Seperti di hotel-hotel bintang lima, pegawai bergantian memarkirkan mobil para tamu. Bentley seri terbaru, mobil-mobil sport yang hampir mirip dengan kepunyaannya, atau limo yang jumlahnya tidak sedikit. 
Wanita-wanita bergaun mewah dengan perhiasan yang mencolok, bergelayut di tangan laki-laki. Mereka adalah wajah-wajah yang sering ia lihat lalu lalang di TV. 


"Maaf tuan, apa tuan memiliki undangan?" seorang pelayan mencegat ayahnya yang langsung mengeluarkan kartu invitasi dari balik saku mantelnya dan langsung diterima si pelayan. Kartu itu berbeda dengan kartu undangan lain yang tergeletak di atas meja resepsionis, lebih elegan dan berwarna putih dengan tinta warna perak, tertera nama ayahnya disana, 


ZHANG ZHIDONG

Memasuki lobi utama, Luhan tertarik dengan patung perunggu berbentuk burung Merak jantan yang posisinya berada di tengah-tengah, antara pintu masuk . Burung Merak memiliki arti kasta, kekuasaan, kecantikan dan kebebasan. Kemungkinan besar sebagai simbol kapal pesiar. Ia terus berjalan mengikuti ayahnya, melewati lorong panjang dengan kaca kiri kanan, membuatnya leluasa melihat apa yang ada diluar sana. Kolam renang yang luasnya hampir menutupi seluruh lantai dasar kapal. Pria dan wanita bercampur baur dengan gelas cocktail ditangan mereka, Disc Jockey, dan bartender yang melayani pengunjung. 

"Mr Zhang, anda sudah ditunggu. Silahkan ikuti wanita ini" kata salah seorang pelayan laki-laki dengan dasi kupu-kupu warna hitam berdiri di depan elevator bertanda 'privat' yang memiliki design elegan, jari pelayan itu menunjuk seorang wanita yang sudah berdiri di dalam elevator. 

***

"Mr. Zhang, Silahkan duduk. Mr. Oh Sehun akan segera tiba" Pelayan wanita yang bersama mereka sejak dari elevator , membukakan pintu dan memepersilakan ia dan Ayahnya untuk duduk. 

"Ingat pesanku! jangan buka mulut mu" Luhan tak menggubris, matanya berkeliaran kemana-mana, terutama pada anak buah ayahnya, karena ia ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat mendengar dirinya  direndahkan. 

"Sudah menunggu lama?" seorang laki-laki berdiri diambang pintu menyapa, Luhan langsung memandang ke arah suara. Sedikit terkejut karena laki-laki yang mungkin lebih tua beberapa tahun darinya memiliki wajah yang lumayan. Seperti hasil perkawinan silang, bule. Ia mengikuti gerak laki-laki itu. Dari mulai berjabat tangan dan mengobrol ringan dengan ayahnya. 

"Apakah ini anak yang kau maksud?" sedikit tersentak, Luhan baru sadar jika menjadi pusat perhatian dan membuatnya malu. Apalagi laki-laki yang didepannya memandangnya tajam, seperti menelanjanginya. 

"Ya, namanya Luhan. Kau harusnya sudah tahu, Oh Sehun" dari nada bicara Ayahnya, terdengar sedikit kesal. 
"Ahhh.... iya. hemmmm....." Oh Sehun menggumam, memikirkan sesuatu. 
"Deal." Sambung Oh Sehun singkat. Luhan yang sejak tadi seperti orang bingung, tambah bingung. Kesepakatan apa yang mereka bicarakan? Kenapa ia punya firasat buruk?
Kenapa Oh Sehun terlihat mencurigakan?

Tbc

Kalau buru-buru memang tidak sempurna. Jadi masih butuh di edit.... hawhahaha land...