Title : Hold Me Tight
Cast : Baekhyun EXO, Luhan
Lenght : Chaptered
Genre : MxB, Action,
*********************************************************************************
Bekhyun
“Tn. Baekhyun mengalami depresi yang cukup berat.
Kemungkinan ia untuk kembali bertugas sangat
kecil. Laporan ini sebagai bahan pertimbangan apakah ia akan tetap
diberikan misi untuk diselesaikan atau membiarkannya istirahat untuk sementara
samapi keadaanya membaik”.
Baekyun sayup-sayup mendengar percakapan dokter dengan
atasannya. Tapi ia tak memperhatikan lebih jauh tentang kondisinya.
“Baekhyun-ssi...?” seseorang memanggil namanya. Namun ia tak
bergeming. Lebih sibuk menatapi langit-langit rumah sakit ketimbang
mendengarkan ocehan atasan nya. Sampai mulut mereka berdarah-darah pun tak akan
bisa mengembalikan keluarganya.
“Baekhyun-ssi....!!!” panggilnya sekali lagi. Baekhyun hanya
menoleh, tanpa berkata apa-apa.
“Aku akan mengantarkan mu pulang, bersiaplah.” Baekhyun menuruti permintaan atasannya yang usianya lebih tua enam tahun darinya. Meskipun perawakan Kim Minseok - atasannya, tidak lebih besar darinya , tetapi orang-orang menaruh hormat, karena kecerdasannya.
"Aku tahu Beakhyun-ssi kau sangat kehilangan, tetap-".
"Aku tidak ingin mendengarnya. Kau diam dan aku bisa pulang sekarang juga." potong Baekhyun. Kepalanya berdenyut tidak karuan, dan ia juga tidak ingin mendengarkan yang tidak-tidak tentang keluarganya. Ia duduk di jok belakang, memang berniat menghindari segala macam pertanyaan dan pernyataan. Matanya tidak pernah dialihkan dari kaca jendela mobil yang ia tumpangi. Pikirannya sibuk memikirkan kejadian yang belum lama menimpanya. Dan yang ia rasakan hanya amarah, kehilangan dan kecewa.
"Baekhyun, kita sudah sampai..." kata Kim Minseok membuka percakapan. Mendengar namanya dipanggil, Baekhyun menoleh sebentar, lalu tanpa berkata apa-apa, ia membuka pintu mobil dan membantingnya keras. Dan beberapa detik kemudian, mobil yang ia tumpangi sudah melesat ditelan malam.
Sekarang ia berdiri didepan rumahnya sendiri yang justru terlihat asing. Jendela di lantai dua gelap, itu adalah jendela kamar putrinya. Rumput ilalang yang mulai meninggi, lampu taman yang mati, itu semua mengingatkannya pada mendiang istrinya. Tidak akan sampai begini jika istrinya masih hidup. Tidak mungkin ia berdiri di depan rumahnya sendiri seperti orang gila jika putrinya masih hidup. Karena putrinya akan menyambutnya dengan pelukan hangat ketika ia sampai di rumah.
Terlalu berat merasa kehilangan. Tidak kuat ia menerima kenyataan. Mungkin keluarga kecilnya hanyalah khayalannya saja, karena begitu cepatnya mereka direnggut dari tangannya. Belum sempat ia menjadi seorang suami yang sempurna, belum sempat ia menjadi ayah yang dibanggakan putri kecilnya.
Dan ia akan melewati masa-masa ini selama sisa hidupnya dengan berkhayal, bahwa mereka masih hidup, dihatinya, dirumah ini dan membuat kenangan.
***
tuut...tuut...
"Baekhyun-ssi, ini dari kantor pusat. Hasil tes Laboratorium sudah keluar. Dr. Shin meminta kau agar meluangkan waktu untuk bertemu dengannya karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Tolong telepon segera"
tuut...tuut...
"Hyunie....aku akan kerumah mu besok siang!!!! awas jika kau masih tidur!!!!"
tuut....
Suara melengking Suho mengakhiri beberapa pesan suara yang ia perdengarkan sejak pagi buta. Ia tidak bisa tidur sejak terbangun karena mimpi buruk. Dan untuk menghilangkan kesunyiannya ia membuka voicemail dari teman-temannya. Banyak yang menanyakan kabarnya, atau apakah ia sudah bisa kembali bekerja. Tiba-tiba terlintas dipikirannya.
Bagaimana jika ia bisa mengungkap pembunuh keluarganya?
Baekhyun tersenyum samar saat menyadarinya. Ya, ia akan membalasnya. Dan melakukan hal yang lebih kejam dari yang mereka lakukan kepada anak dan istrinya.
***
"Aku tidak ingin mendengarnya. Kau diam dan aku bisa pulang sekarang juga." potong Baekhyun. Kepalanya berdenyut tidak karuan, dan ia juga tidak ingin mendengarkan yang tidak-tidak tentang keluarganya. Ia duduk di jok belakang, memang berniat menghindari segala macam pertanyaan dan pernyataan. Matanya tidak pernah dialihkan dari kaca jendela mobil yang ia tumpangi. Pikirannya sibuk memikirkan kejadian yang belum lama menimpanya. Dan yang ia rasakan hanya amarah, kehilangan dan kecewa.
"Baekhyun, kita sudah sampai..." kata Kim Minseok membuka percakapan. Mendengar namanya dipanggil, Baekhyun menoleh sebentar, lalu tanpa berkata apa-apa, ia membuka pintu mobil dan membantingnya keras. Dan beberapa detik kemudian, mobil yang ia tumpangi sudah melesat ditelan malam.
Sekarang ia berdiri didepan rumahnya sendiri yang justru terlihat asing. Jendela di lantai dua gelap, itu adalah jendela kamar putrinya. Rumput ilalang yang mulai meninggi, lampu taman yang mati, itu semua mengingatkannya pada mendiang istrinya. Tidak akan sampai begini jika istrinya masih hidup. Tidak mungkin ia berdiri di depan rumahnya sendiri seperti orang gila jika putrinya masih hidup. Karena putrinya akan menyambutnya dengan pelukan hangat ketika ia sampai di rumah.
Terlalu berat merasa kehilangan. Tidak kuat ia menerima kenyataan. Mungkin keluarga kecilnya hanyalah khayalannya saja, karena begitu cepatnya mereka direnggut dari tangannya. Belum sempat ia menjadi seorang suami yang sempurna, belum sempat ia menjadi ayah yang dibanggakan putri kecilnya.
Dan ia akan melewati masa-masa ini selama sisa hidupnya dengan berkhayal, bahwa mereka masih hidup, dihatinya, dirumah ini dan membuat kenangan.
***
tuut...tuut...
"Baekhyun-ssi, ini dari kantor pusat. Hasil tes Laboratorium sudah keluar. Dr. Shin meminta kau agar meluangkan waktu untuk bertemu dengannya karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Tolong telepon segera"
tuut...tuut...
"Hyunie....aku akan kerumah mu besok siang!!!! awas jika kau masih tidur!!!!"
tuut....
Suara melengking Suho mengakhiri beberapa pesan suara yang ia perdengarkan sejak pagi buta. Ia tidak bisa tidur sejak terbangun karena mimpi buruk. Dan untuk menghilangkan kesunyiannya ia membuka voicemail dari teman-temannya. Banyak yang menanyakan kabarnya, atau apakah ia sudah bisa kembali bekerja. Tiba-tiba terlintas dipikirannya.
Bagaimana jika ia bisa mengungkap pembunuh keluarganya?
Baekhyun tersenyum samar saat menyadarinya. Ya, ia akan membalasnya. Dan melakukan hal yang lebih kejam dari yang mereka lakukan kepada anak dan istrinya.
***
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir saat jam digital masih menunjukkan pukul enam pagi ia sudah berdiri di depan cermin dengan setelan jas yang rapi lengkap dengan dasinya.
"Selamat pagi Bibi Ahn, apa hari ini kau bisa kerumah ku dan membersihkannya. Hanya saja untuk kamar ku dan Choi Jinri biarkan saja seperti semula. Bersihkan yang penting, tapi barang-barang jangan dipindahkan. Taeyeon tidak suka jika barangnya dipindahkan". Setelah mendapatkan jawaban "ara" , Baekhyun menutup teleponnya. Ia tersenyum pada bayangannya di dalam cermin. Baekhyun yang ada di hadapannya memang bukan yang dulu bahagia dan penuh kehidupan, tetapi, hari ini ia membawa semangat yang berbeda.
"Doakan aku agar berhasil" ia kemudian mencium foto berbingkai kayu yang ada di atas mejanya, foto mereka bertiga.
***
Perubahan sikapnya seperti membuat seisi kantor terheran-heran. Pasalnya, setiap orang akan berhenti dihadapannya dan memandang wajahnya lekat-lekat kemudian menepuk pundaknya, malah ada yang memeluknya seperti teman dekat padahal ia tidak kenal sama sekali dengan orang itu.
"Kau juga jangan menatapku begitu, aku tidak ingin kau ikut-ikutan" sungutnya saat melihat teman akrabnya, Oh Sehun, memasang ekspresi yang sama berdiri didepan meja kerjanya.
"Ouch... kau melukaiku" sahut laki-laki yang lebih tinggi beberapa senti darinya dengan wajah memelas. Ia mengenal Oh Sehun sejak tiga tahun lalu. Kala itu , ia dan Oh Sehun di tempatkan pada kasus yang sama sebagai partner. Sejak saat itu ia dan Oh Sehun mulai dekat, karena anak itu humoris dan mudah membaur. Bahkan Choi Jinri memanggilnya 'Ahjusi tampan'. Kadang Baekhyun berpikir kenapa ia memiliki sahabat seperti Oh Sehun yang biasa disebut Ladiesman. Kadang takut membuat Taeyeon cemburu saat tahu ia dan Oh Sehun pergi keluar minum Soju untuk merayakan kesuksesan mereka menyelesaikan sebuah kasus.
Tahu sendiri, Oh Sehun jika di luar sana seperti nasi busuk yang dikerubuti lalat. Wanita dari segala bentuk memimpikan perhatian laki-laki itu. Ck... benar-benar ia dibuat heran karena sampai sekarang Oh Sehun masih single. Saat ditanya pun katanya belum menemukan yang cocok.
"Ada apa dengan kerut diwajahmu? Kau terihat sangat serius memikirkan yang ada dikepalamu, Hyunnie. Kalau kau kembali ke masa depresi mu, aku yakin kau tidak bisa menemukan pembunuhnya. Dan pada akhirnya kau akan merasa bersalah lalu mengurung diri seumur hidupmu." perkataan Oh Sehun membuyarkan lamunannya. Ia menepuk bahu sahabatnya pelan.
"Yang ada disini" kata Baehyun sambil menunjuk kepalanya "memikirkan banyak hal, termasuk dirimu yang masih single. Karena itu membuat ku khawatir. Takutnya kau tidak ada yang mengurus" sambungnya.
Mendengar itu Oh Sehun tertawa, "Aduh.... kadang aku berpikir kau itu jelmaan kakak ku yang ada di rumah, bedanya kau lebih cerewet".
Raut wajah Baekhyun berubah serius, "Oh Sehun, aku akan mengambil kasus pembunuhan istri ku." Kata Baekhyun terang-terangan. Dan Oh Sehun hanya mengangguk paham.
"Kau tahu aturannya kan? Aku yang pegang kendali disini. Jika kau mulai kehilangan kontrol aku terpaksa menarik mu keluar dari tim ku.".
"Ya Aku Paham" jawabannya terdengar sangat meyakinkan, meski seribu rencana ia persiapan diotaknya untuk menghabisi pembunuh itu.
"Oh, aku hampir lupa. Aku ingin menyerahkan ini" Oh Sehun menyodorkan amplop cokelat. "Ini foto yang diambil dari tempat kejadian. Mungkin kau ingin melihatnya. Semua bukti disimpan di ruang penyimpanan."
Baekhyun menerima amplop cokelat berukuran besar, menunggu untuk dibuka. Tapi hatinya berteriak untuk tidak melakukannya. Karena ia takut dengan apa yang akan dilihatnya. Tetapi perlahan tangannya membuka tali yang diikat rapat. Dadanya sesak, tubuhnya berkeringat dingin. Bayangan di matanya sangat menakutkan, hatinya pilu.
"Hei.... jangan sekarang jika kau ragu" Oh Sehun menahan tangannya untuk mengambil file yang didalam amplop. Tetapi ia bersikeras.
"Aku harus tahu kejadiannya" lalu perlahan ia mengeluarkan foto pertama. Yang ada ditangannya seperti keluar dari film-film psikopat. Baekhyun bisa membayangkan bagaimana Taeyeon sebelum meninggal, ketakutan anaknya saat itu. Ia gemetar hebat dan tanpa sengaja menjatuhkan foto itu. Ia pun terduduk lemas, air matanya mengalir. dadanya bak disayat ribuan pisau tajam. Kesedihan bercampur dengan amarah. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mati sebelum ia bisa melakukan hal yang sama dengan pembunuh sadit itu.
Tbc
Author's note :
Dear reader... Chapter II otw dipost... silahkan kritik dan sarannya.
chao...annyeong...
Mungkin di lain waktu akan di edit lagi.
"Selamat pagi Bibi Ahn, apa hari ini kau bisa kerumah ku dan membersihkannya. Hanya saja untuk kamar ku dan Choi Jinri biarkan saja seperti semula. Bersihkan yang penting, tapi barang-barang jangan dipindahkan. Taeyeon tidak suka jika barangnya dipindahkan". Setelah mendapatkan jawaban "ara" , Baekhyun menutup teleponnya. Ia tersenyum pada bayangannya di dalam cermin. Baekhyun yang ada di hadapannya memang bukan yang dulu bahagia dan penuh kehidupan, tetapi, hari ini ia membawa semangat yang berbeda.
"Doakan aku agar berhasil" ia kemudian mencium foto berbingkai kayu yang ada di atas mejanya, foto mereka bertiga.
***
Perubahan sikapnya seperti membuat seisi kantor terheran-heran. Pasalnya, setiap orang akan berhenti dihadapannya dan memandang wajahnya lekat-lekat kemudian menepuk pundaknya, malah ada yang memeluknya seperti teman dekat padahal ia tidak kenal sama sekali dengan orang itu.
"Kau juga jangan menatapku begitu, aku tidak ingin kau ikut-ikutan" sungutnya saat melihat teman akrabnya, Oh Sehun, memasang ekspresi yang sama berdiri didepan meja kerjanya.
"Ouch... kau melukaiku" sahut laki-laki yang lebih tinggi beberapa senti darinya dengan wajah memelas. Ia mengenal Oh Sehun sejak tiga tahun lalu. Kala itu , ia dan Oh Sehun di tempatkan pada kasus yang sama sebagai partner. Sejak saat itu ia dan Oh Sehun mulai dekat, karena anak itu humoris dan mudah membaur. Bahkan Choi Jinri memanggilnya 'Ahjusi tampan'. Kadang Baekhyun berpikir kenapa ia memiliki sahabat seperti Oh Sehun yang biasa disebut Ladiesman. Kadang takut membuat Taeyeon cemburu saat tahu ia dan Oh Sehun pergi keluar minum Soju untuk merayakan kesuksesan mereka menyelesaikan sebuah kasus.
Tahu sendiri, Oh Sehun jika di luar sana seperti nasi busuk yang dikerubuti lalat. Wanita dari segala bentuk memimpikan perhatian laki-laki itu. Ck... benar-benar ia dibuat heran karena sampai sekarang Oh Sehun masih single. Saat ditanya pun katanya belum menemukan yang cocok.
"Ada apa dengan kerut diwajahmu? Kau terihat sangat serius memikirkan yang ada dikepalamu, Hyunnie. Kalau kau kembali ke masa depresi mu, aku yakin kau tidak bisa menemukan pembunuhnya. Dan pada akhirnya kau akan merasa bersalah lalu mengurung diri seumur hidupmu." perkataan Oh Sehun membuyarkan lamunannya. Ia menepuk bahu sahabatnya pelan.
"Yang ada disini" kata Baehyun sambil menunjuk kepalanya "memikirkan banyak hal, termasuk dirimu yang masih single. Karena itu membuat ku khawatir. Takutnya kau tidak ada yang mengurus" sambungnya.
Mendengar itu Oh Sehun tertawa, "Aduh.... kadang aku berpikir kau itu jelmaan kakak ku yang ada di rumah, bedanya kau lebih cerewet".
Raut wajah Baekhyun berubah serius, "Oh Sehun, aku akan mengambil kasus pembunuhan istri ku." Kata Baekhyun terang-terangan. Dan Oh Sehun hanya mengangguk paham.
"Kau tahu aturannya kan? Aku yang pegang kendali disini. Jika kau mulai kehilangan kontrol aku terpaksa menarik mu keluar dari tim ku.".
"Ya Aku Paham" jawabannya terdengar sangat meyakinkan, meski seribu rencana ia persiapan diotaknya untuk menghabisi pembunuh itu.
"Oh, aku hampir lupa. Aku ingin menyerahkan ini" Oh Sehun menyodorkan amplop cokelat. "Ini foto yang diambil dari tempat kejadian. Mungkin kau ingin melihatnya. Semua bukti disimpan di ruang penyimpanan."
Baekhyun menerima amplop cokelat berukuran besar, menunggu untuk dibuka. Tapi hatinya berteriak untuk tidak melakukannya. Karena ia takut dengan apa yang akan dilihatnya. Tetapi perlahan tangannya membuka tali yang diikat rapat. Dadanya sesak, tubuhnya berkeringat dingin. Bayangan di matanya sangat menakutkan, hatinya pilu.
"Hei.... jangan sekarang jika kau ragu" Oh Sehun menahan tangannya untuk mengambil file yang didalam amplop. Tetapi ia bersikeras.
"Aku harus tahu kejadiannya" lalu perlahan ia mengeluarkan foto pertama. Yang ada ditangannya seperti keluar dari film-film psikopat. Baekhyun bisa membayangkan bagaimana Taeyeon sebelum meninggal, ketakutan anaknya saat itu. Ia gemetar hebat dan tanpa sengaja menjatuhkan foto itu. Ia pun terduduk lemas, air matanya mengalir. dadanya bak disayat ribuan pisau tajam. Kesedihan bercampur dengan amarah. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mati sebelum ia bisa melakukan hal yang sama dengan pembunuh sadit itu.
Tbc
Author's note :
Dear reader... Chapter II otw dipost... silahkan kritik dan sarannya.
chao...annyeong...
Mungkin di lain waktu akan di edit lagi.







